Tantangan Pengembangan Ternak di Daerah Lahan Kering


Lahan kering didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai ilmuan tetapi pada dasarnya mencakup daerah-daerah yang ketersediaan airnya terbatas pada bulan-bulan tertentu saja sementara kekurangan pada waktu-waktu lainnya. Wilayah dikategorikan sebagai lahan kering adalah daerah yang memiliki indeks ariditas yang dihitung sebagai P/ETP (P=curah hujan, ETP= laju evapotranspirasi) antara 0,03 - 0,2 untuk arid dan 0,2 - 0,5 untuk semi arid (Unesco, 1977).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Tantangan Pengembangan Ternak di Daerah Lahan Kering
Luas lahan kering mencapai 0,41 dari total luas dunia (Carberry et al., 2010). Sementara di Indonesia luasan lahan kering mencakup hampir sebagian besar wilayah Indonesia yang diperkirakan sekitar 170 juta ha dan belum termanfaatkan secara optimal. Lahan kering menyebar dari Jawa Barat, Sulawesi, NTT dan NTB. Tanah masam di Pulau Sumatera dan Kalimantan juga dikategorikan lahan kering dimana yang terluas adalah agroekosistem lahan kering masam yang mencapai 62,6 juta hektar (68,1%) dan lahan kering iklim kering seluas 7,8 juta hektar (8,5%) yang terletak di kawasan Timur Indonesia.

Walaupun wilayah lahan kering di Indonesia sangat potensial untuk pengembangan ternak terutama ternak sapi, berbagai permasalahan masih mengungkung perkembangan populasi ternak sapi di daerah-daerah lahan kering. Permasalahan yang ditemui sangat kompleks mulai dari kendala iklim dan ketersediaan air, kepemilikan lahan yang masih bersifat komunitas dan arah kebijakan pemerintah serta rendahnya keterlibatan pihak swasta menyebabkan lambannya pengembangan ternak di berbagai daerah dengan lahan kering yang luas. (baca : Potensi Ternak Potongdi Indonesia)

Pelaku peternakan di daerah-daerah lahan kering hingga saat ini masih didominasi oleh peternak kecil dengan skala kepemilikan rendah. Di lain pihak lahan yang tersedia berupa hamparan padang penggembalaan yang luas tetapi dengan daya dukung yang rendah. Kondisi ini akan berimbas pada tingkat managemen yang diterapkan peternak.

Secara umum peternak di lahan kering menerapkan sistem gembala. Ternaknya digembalakan pada lahan kering yang tersedia tanpa perhatian yang memadai. Sebagai contoh, sebagian besar ternak sapi yaitu 96,06% atau sebanyak 799.495 ekor dari total 865.731 ekor ternak sapi yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2017 dipelihara dengan menggembalakan pada padang penggembalaan yang ada. Bahkan ternak yang dilepas sama sekali dan tidak pernah masuk kandang mencapai 45,08% dari populasi.

Keterbatasan sumber air yang pada umumnya tergantung pada curah hujan merupakan permasalahan utama pengembangan peternakan di lahan kering. Produksi pakan dan kualitas pakan tergantung pada lamanya growing period yang oleh FAO (1978) didefinisikan sebagai curah hujan yang melebihi setengah dari evapo-transpirasi. 

Di samping itu, kondisi wilayah yang berbukit, solum tanah dangkal dan serta praktek pertanaman tanaman pangan dilakukan secara non-intensif (ladang) dan berpindah-pindah yang telah berlangsung lama mendorong laju erosi yang tinggi menyebabkan rendahnya kesuburan dan produktivitas lahan kering.

Banyak di antara luasan wilayah tersebut kemudian ditumbuhi oleh rumput atau bahkan menjadi bentangan savana yang luas. Padang rumput alam tersebut merupakan lahan potensial untuk pengembangan ternak ruminansia terutama ternak sapi. Di banyak daerah tersebut, program pengembangan ternak menjadi program penting dari tahun ke tahun.

Sebagai contoh, Provinsi NTT mempunyai sekitar 1,8 juta ha padang savana yang merupakan kombinasi lahan semak dan padang penggembalaan. Dengan luasan tersebut, peternakan khususnya ternak sapi merupakan subsektor yang telah terbukti dan sangat potensial berperan dalam menunjang kesejahteraan masyarakat. Berbagai kajian yang telah dilakukan di daerah ini menempatkan sektor peternakan sebagai sektor primer yang harus dikembangkan sebelum pengembangan sektor-sektor lainnya.

Walaupun produktivitas ternak per ha lahan mungkin jauh lebih tinggi pada tanah-tanah subur, namun pencapaian program Swa-sembada pangan hewani tergantung pada optimalisasi pemanfaatan lahan kering di Indonesia. Beberapa alasan dapat dijadikan bahan diskusi. Pertama, usaha ternak sapi dan kerbau pada umumnya mempunyai net-income per satuan waktu yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan usaha pertanian tanaman pangan atau perkebunan.

Mungkin akan sulit mengharapkan petani-peternak menggunakan lahan subur mereka untuk menanam pakan, kecuali dalam kondisi mereka kesulitan sarana produksi seperti modal dan tenaga kerja, atau karena serangan hama berkepanjangan serta penyebab lainnya.

Di samping itu, bahkan ketika lebih ekonomis menggunakan lahan subur beririgasi misalnya untuk menanam hijauan pakan untuk ternak sapi, adalah kurang bijaksana menggunakan lahan tersebut untuk peternakan ketika negara kita membutuhkan pangan dalam kuantitas yang sangat besar dan kebutuhan tersebut meningkat drastis dari tahun ke tahun dan kebanyakan di antaranya masih di-import. Konversi lahan-lahan subur tersebut akan menurunkan kemampuan negara kita dalam menghasilkan pangan.

Faktor berikut adalah kebutuhan air. Ketersediaan air telah menjadi kendala utama pengembangan pertanian di Indonesia dan pada masa yang akan datang kendala tersebut akan semakin besar karena berkurangnya sumber-sumber air yang dapat digunakan. Berbeda dengan tanaman pangan, banyak jenis hijauan pakan relatif membutuhkan air tidak sebanyak dibanding dengan tanaman pangan.

Produksi hijauan pakan masih cukup memadai di daerah-daerah lahan kering walaupun produksinya masih jauh di bawah daerah beririgasi. Pemilihan jenis tanaman pakan yang tepat akan mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering untuk peternakan. Sebagai contoh, menanam lamtoro (Leucaena leucocephala) di lahan kering akan mampu meningkatkan pemanfaatan lahan tersebut untuk produksi ternak sapi. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman leguminosa pohon yang tahan terhadap kekeringan.

Akhir kata, tidak dapat dipungkiri bahwa masih adanya berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh peternak di berbagai daerah dengan lahan kering luas merupakan fakta tak terbantahkan. Beberapa kendala tersebut yang merupakan kendala yang tidak dapat dihindarkan dan telah menyebabkan lambatnya perkembangan populasi ternak sapi di beberapa daerah lahan kering terlepas dari berbagai upaya dan program yang telah dijalankan oleh pemerintah dan stakeholder lainnya.

Kemajuan pengembangan ternak di daerah lahan kering sangat tergantung pada kemajuan pengembangan ipteks yang melahirkan invovasi teknologi dalam kerangka memicu produktivitas dan efesiensi yang tinggi dalam pemanfaatan lahan kering untuk produksi ternak.

Negara seperti Australia sangat berhasil dalam menerapkan teknologi pertanian dan peternakan lahan kering sehingga sebanyak 80% domba, 50% sapi dan 93% biji-bijian dihasilkan dari lahan kering ( Carberry et al., 2010). Dengan demikian, peningkatan produktivitas ternak di lahan kering tidak akan dicapai secara optimal tanpa didukung oleh pengembangan Ipteks lahan kering yang memadai.

Semoga bermanfaat….

0 Response to "Tantangan Pengembangan Ternak di Daerah Lahan Kering"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel