Strategi Penyediaan Air Bagi Produksi Sapi Sumba Ongole Di Lahan Kering Sumba Timur - NTT


PENDAHULUAN

Wilayah Sumba Timur sebagai daerah tropis memiliki 3 - 4 bulan basah dengan curah hujan tahunan rata-rata 1.183 mm/tahun dan selebihnya 8 – 9 bulan merupakan bulan kering, yang memungkinkan pertanian lahan kering dan peternakan diusahakan sekaligus sebagai suatu usaha tani primadona bagi petani (BPS, 2013).

Kabupaten Sumba Timur dengan luas daratan 700.050 km2 yang didominasi jenis tanah rensina, grumosol, litosol, mediteran, dan regosol merupakan salah satu kabupaten dari 22 kota/kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang juga beriklim tropis dengan 3 - 4 bulan basah dan 8 - 9 bulan kering. Kondisi iklim tropis ini memungkinkan pengembangan pertanian baik lahan basah maupun lahan kering serta peternakan.

Usaha tani pertanian lahan kering sangat ditentukan oleh berbagai faktor penghambat seperti jenis tanah, curah hujan, pupuk, gulma dll. Selain usaha tani pertanian, wilayah Sumba Timur yang didominasi dengan padang savana merupakan padang penggembalaan alami sebagai tempat penyediaan hijauan yang lebih ekonomis dan murah bagi sapi ongole yang sangat potensial.

Padang penggembalaan alami merupakan lahan kering upland (lahan atas) yang pada umumnya memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah tanah menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah, tetapi masih memegang peranan penting, dan merupakan modal dasar untuk mendukung produksi ternak sapi ongole Sumba Timur. 

Produksi dan kualitas rumput tropik menjadi salah satu faktor pembatas utama produktivitas sapi ongole terutamnya pada musim kering/kemarau dimana kualitas hijauan yang rendah sebagai konsekuensi dari lahan tidak subur, serta kekurangan air.

Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) secara spesifik mendefinisikan bahwa lahan mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, tofografi/relief, tanah, hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan.

Sapi Sumba Ongole merupakan salah satu komoditas ternak yang memiliki potensi cukup besar sebagai ternak penghasil daging dan menjadi prioritas dalam pengembangan peternakan. Pengembangan usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh aspek pemuliabiakan (breed), pakan (feed), dan pengelolaan (management). 

Sapi Sumba Ongole adalah keturunan murni sapi Nellore dari India yang didatangkan ke Indonesia. Sapi ini kemudian dikembangkan secara murni di Pulau Sumba dan merupakan sumber indukan sebagian besar Sapi Ongole di dalam negeri. (baca : SAPI SUMBA ONGOLE (SO)PLASMA NUTFAH PULAU SUMBA)

Untuk mendapatkan pakan ternak Sapi Sumba Ongole yang memadai baik dari segi kuantitas dan kualitas, maka pengelolaan lahan kering untuk pengembangan peternakan diperlukan strategi penyediaan air dan pemanfaatan air.

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menggambarkan strategi penyediaan dan pemanfaatan air di lahan kering Sumba Timur bagi pengembangan ternak Sapi Sumba Ongole.

Makalah Sapi Potong
Strategi Penyediaan Air Bagi Produksi Sapi Sumba Ongole Di Lahan Kering Sumba Timur - NTT


PEMBAHASAN


Kendala Utama Lahan Kering di Sumba Timur - NTT

Lahan kering merupakan salah satu agroekosistem yang mempunyai potensi besar untuk usaha pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura (sayuran dan buah buahan) maupun tanaman tahunan dan secara khusus peternakan.

Lahan kering secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan lahan yang tidak pernah digenangi atau tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun, dengan curah hujan < 2.000 mm/tahun dan mempunyai bulan kering > 7 bulan (< 100 mm/bulan) (Hidayat dan Mulyani 2002; Mulyani dan Sarwani 2013). 

Sumba Timur dari 700.050 ha luas kabupaten, hanya 29.967 ha (4,28 %) lahan sawah baik beririgasi maupun tadah hujan. Sedangkan 670.083 ha (95,72 %) merupakan ladang, pekarangan, hutan negara, hutan lindung, hutan cagar alam dan hutan rakyat serta taman nasional termasuk padang penggembalan alami.

Pada umumnya lahan kering memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah tanah menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah. Kondisi ini makin diperburuk dengan terbatasnya penggunaan pupuk organik, terutama pada tanaman pangan semusim.

Di samping itu, secara alami kadar bahan organik tanah di daerah tropis cepat menurun, mencapai 30-60% dalam waktu 10 tahun (Suriadikarta et al. 2002 dalam Abdurachman et al., 2008).   Permasalahan lain dan paling krusial di lahan kering adalah ketersediaan air irigasi yang sangat terbatas.

Keterbatasan air irigasi akan berdampak pada cekaman kekeringan tanaman. Cekaman kekeringan pada tamanan adalah kondisi yang dialami tanaman/tumbuhan ketika tanah tidak lagi mengandung lengas (kadar air tanah) yang cukup (kapasitas lapang).

Hasil penelitian legum  Herdiawan (2013), terhadap legume Indigofera zollingeriana pada berbagai taraf perlakuan cekaman kekeringan menunjukan bahwa cekaman kekeringan sedang (50% dari kapasitas lapang) dan berat (25% dari kapasitas lapang) berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) terhadap penurunan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, produksi biomasa, bobot kering tajuk, bobot kering akar, namun tidak berpengaruh terhadap nisbah tajuk/akar.

Penyediaan Air bagi Produksi Sapi Sumba Ongole Di Lahan Kering Sumba Timur - NTT

Sebagian besar wilayah Sumba Timur memiliki iklim kering dengan curah hujan rendah ratarata 1.183 mm/thn. Selain sumber air utama dari curah hujan juga tersedia sumber air permukaan dan air tanah yang banyak ditemukan di beberapa lokasi dan telah dikembangkan sebagai sumber air untuk pertanian. 

Kelangkaan air sering kali menjadi pembatas utama dalam pengelolaan lahan kering. Oleh karena itu, inovasi teknologi pengelolaan air khususnya air hujan sangat diperlukan, meliputi teknik panen hujan (water harvesting), irigasi suplemen, prediksi iklim, serta penentuan masa tanam dan pola tanam.

Pemanenan air dapat dilakukan dengan menampung air hujan atau aliran permukaan pada tempat penampungan sementara atau permanen, untuk digunakan mengairi tanaman (Subagyono et al. 2004). Oleh sebab itu, penyediaan dan pemanfaatan air pada lahan kering untuk produksi sapi ongole Sumba Timur dilakukan dalam beberapa teknik sebagai berikut:

Panen Air Hujan (Water Harvesting

Jika rata-rata curah hujan 1.183 mm/tahun (BPS, 2013), maka air hujan yang dapat dipanen pada wilayah Sumba Timur seluas 700.050 ha adalah  414,079,575,000 m3/thn, atau 39.679.594.500 m3/thn pada lahan kering bukan sawah (ladang, pekarangan, hutan negara, hutan lindung, hutan cagar alam dan hutan rakyat serta taman nasional termasuk padang penggembalan alami).

Jika air hujan dipanen dengan menggunakan embung-embung dengan spesifikasi 150 m x 80 m x 8 m yang ditempatkan pada semua desa dengan jumlah 440 buah dengan asumsi 1 desa 2 buah embung, maka dapat menampung air tampungan hidup sebesar 37,776,288 m3/thn. Nilai ini telah memperhitungkan laju evapotranspirasi, rembesan dan sedimentasi sehingga dapat mencukupi untuk kebutuhan minum ternak sapi ongole 40 ltr/hr sebanyak 3,497,804 ekor sapi/thn.

Penggemukan Kombinasi Pasture–Dry Lot Fattening

Kombinasi pasture – dry lot fattening dilakukan dengan cara melepas ternak di padang penggembalaan pada saat musim penghujan dan pada saat musim kemarau ternak dikandangkan dan diberi makanan dari biomassa hasil pertanian. Jika 37,776,288 m3/thn air  hidup digunakan 40% untuk budidaya jagung maka terdapat  26,983.06 ha.

Rata-rata produksi jagung dengan jarak tanam 80 cm x  50 cm x 2 pohon dapat menghasilkan biomasa sebesar 17,269.16 ton/ha/thn. Fikar dan Ruhyadi (2010) mengatakan sapi memerlukan sebanyak 10% berat basah pakan atau 3% berat kering pakan dari bobot badan sapi perhari.  Oleh karena itu biomassa ini dapat dijadikan pakan ternak sapi ongole untuk 3,997 ekor/thn atau 7,994.98 ekor/tahun  jika digunakan saat ternak dikandangkan.  

Penggemukan Pasture Fattening 

Penggemukan Pasture Fattening yaitu sapi yang digembalakan di padang penggembalaan. Pengembangan ternak sapi ongole dengan cara ini hanya dapat dilakukan pada lahan kering yang tersedia sumber air baik air permukaan maupun air bawah permukaan (ground water).

SIMPULAN


Sumba Timur sebagai daerah tropis dengan luas daratan 700.050 km2 yang memiliki 3 - 4 bulan basah dengan curah hujan tahunan rata-rata 1.183 mm/tahun memungkinkan pertanian lahan kering dan peternakan diusahakan sekaligus sebagai usaha tani primadona bagi petani. 

Kelangkaan air yang menjadi pembatas utama dalam pengelolaan lahan kering terutama untuk pengembangan ternak sapi ongole pada lahan kering Sumba Timur dapat ditanggulangi dengan inovasi teknologi pengelolaan air khususnya air hujan dengan teknik :

1. Panen hujan (water harvesting). Jumlah air hujan yang dapat dipanen sebesar 414,079,575,000 m3/thn, atau 39.679.594.500 m3/thn pada lahan kering bukan sawah. Jika air hujan yang dipanen dengan menggunakan embung-embung dengan spesifikasi 150 m x 80 m x 8 m dapat memenuhi kebutuhan minum ternak sapi ongole sebanyak 3,497,804 ekor sapi/thn.

2. Penggemukan kombinasi pasture –dry lot fattening, yang dilakukan dengan cara melepas ternak di padang penggembalaan pada saat musim penghujan dan pada saat musim kemarau ternak dikandangkan dan diberi makanan dari biomassa hasil pertanian. Jika 40% total air  hidup yang ditampung digunakan untuk budidaya jagung maka terdapat 26,983.06 ha dan menghasilkan 17,269.16 ton/ha/thn biomassa yang dapat dijadikan pakan ternak sapi ongole untuk 3,997 ekor/thn atau 7,994.98 ekor/tahun  jika digunakan saat ternak dikandangkan.  

3. Penggemukan pasture fattening pada lahan kering yang tersedia sumber air baik air permukaan maupun air bawah permukaan (ground water).

DAFTAR PUSTAKA


Abdurachman, A., A. Mulyani, G. Irianto, dan N. Heryani. 2005. Analisis potensi sumber daya lahan dan air dalam mendukung pemantapan ketahanan pangan. hlm. 245-264. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, 17-19 Mei 2004. Ketahanan Bappenas, Departemen Pertanian, dan Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta.

Asdak Chay, 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Perss. Jogyakarta  BPS, Sumba Timur dalam Angka, 2013.
Hansen V.E., Israelsen O.W. dan Stringham G.E., 1992.  Dasar Dasar dan Praktek Irigasi. Edisi ke-4  (terjemahan) Erlangga. Jakarta.

Hardjowigeno, S dan Widiatmaka, 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan & Perencanaan Tataguna Lahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hidayat, A. dan A. Mulyani. 2002. Lahan kering untuk pertanian. hlm. 1−34. Dalam A. Abdurachman, Mappaona, dan Saleh (Ed.). Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Suriadikarta, D.A.., T. Prihartini, D. Setyorini, dan W. Hartatik, 2002. Teknologi Bahan Organik Tanah. Teknologi Pengolahan Lahan Kering menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Prosiding Seminar Nasional Peternakan III, 2017.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Strategi Penyediaan Air Bagi Produksi Sapi Sumba Ongole Di Lahan Kering Sumba Timur - NTT"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel