Penggunaan Tepung Daun Kelor, Tepung Bekicot Dan Tepung Limbah Ikan Sebagai Pengganti Konsentrat Komersial Terhadap Kecernaan Dan Performan Ternak Babi


PENDAHULUAN

Pemeliharaan babi intensif umumnya menggunakan pakan sudah siap di pasaran seperti konsentrat CP-152, yang mengandung protein tinggi (36-40%) yang dicampurkan pada bahan pakan sumber energi seperti jagung dan dedak padi. Konsentrat ini harganya mahal, sehingga perlu mencari penggantinya. 

Bahan pakan lokal yang berpotensi sebagai sumber protein untuk menggantinya, adalah daun kelor (Moringa oleifera), daging bekicot ( Achatina fulica)) dan limbah ikan.  Ketiga bahan lokal ini ketersediaannya musiman, sehingga perlu dikeringkan disimpan dalam bentuk tepung dan diramu menjadi Konsentrat Protein Buatan  (KPB).  

Daun kelor, bekicot dan limbah ikan ketiganya merupakan sumber protein dengan porsi asam amino essensialnya berbeda-beda.  Asam-asam amino dan zat nutrisi lainnya  yang terkandung dari ketiga bahan lokal ini diharapkan dapat saling melengkapi. 

Daun kelor, mengandung protein 26,26% (Naetasi, 2014), 27,1% (Fuglie,2001), 29 ± 6%, serta mengandung 10 asam-asam amino esensial, antara lain metionin 4,97 mg, dan lisin 14,06 mg (Foidl et al, 2001), kualitas nutrisinya yang lebih baik dibandingkan dengan protein susu, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (Nur Kholis dan Faris Hadi, 2010), juga mengandung 28,2 mg/100 gram zat besi (Gopalan, et al (2004).

Penambahan tepung daun kelor 75 dan 150 gr dalam ransum rendah protein belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap efisensi ransum (Matta, 2014), kecernaan protein dan serat kasar (Jawa, 2014) namun meningkatkan Erytrocyte dan leucocyte darah babi peranakan landrace fase grower (Dwipayana, 2014), pertumbuhan yang bagus pada kelinci  (Marhaeniyanto dkk,. 2015).

Tepung daging bekicot mengandung Protein Kasar (PK) 62,65% (Naetasi, 2014),  54,29- 64,14%, lemak 3,92-4,18%, dan karbohidrat 30,45%, asam-asam amino essensial sangat tinggi terutama lisin 4,35% (Susanthi, 2015) 8,98%, methionin1,04% (Reksohadiprojo,1990),  dimana kedua asam amino tersebut merupakan asam amino essensial yang sering kekurangan dalam pakan babi, dapat meningkatkan konsumsi, efisiensi dan produksi telur puyuh.

Limbah ikan merupakan ikan-ikan sisa yang tidak dikonsumsi manusia, berpotensi di Indonesia karena laut kita luas dan apabila tangkapan ikan oleh nelayan meningkat tentu limbah yang dihasilkan juga meningkat, mengandung protein  53,5% (Naitasi,2014). Tingginya harga pakan komersial disebabkan karena sebagian besar bahan baku pakan unggas masih impor (Udjianto dkk., 2005), termasuk import tepung ikan. 

Hingga saat ini pemenuhan kebutuhan bahan baku tepung ikan untuk industri ransum dalam negeri 70% harus dipasok dari luar negeri (Widodo, 2010).  Berdasarkan uraian tersebut di atas maka campuran ketiga bahan pakan lokal tersebut  perlu diketahui pengaruhnya terhadap ternak babi peranakan.

METODE PENELITIAN


Penelitian ini menggunakan babi peranakan Landrace jantan kebiri dengan bobot awal 22-54 kg, rata-rata 41,54 kg (CV = 21,09%), ditempatkan dalam kandang individu dengan ukuran setiap petak  1,2 m x  1 m x 1 m.

Ransum kontrol (R0) terdiri dari 40% tepung jagung, 33,50% dedak padi, 1% lemak, 0,5% premix dan 25% konsentrat protein komersial (KPK)- CP-151.  R1, R2, dan R3 berturut turut mengganti konsentrat protein komersial 50%, 75% dan 100% dengan Konsentrat Protein Buatan (KPB) berupa campuran tepung daun kelor, tepung daging bekicot dan tepung limbah ikan dengan perbandingan 45:5:50.

Metode eksperimental, dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 4 perlakuan dan 3 ulangan. Ransum Perlakuan yang diuji adalah sebagai berikut:  R0:  ransum dengan KPK 100% tanpa KPB; R1: ransum dengan KPB menggantikan 50% KPK; R2: ransum dengan KPB menggantikan 75% KPK; R3: ransum dengan KPB menggantikan 100% KPK.

Variabel yang diteliti adalah: Ransum, Konsumsi dan kecernaan Bahan Kering (BK), konsumsi dan kecernaan Bahan Organik (BO), konsumsi dan kecernaan Protein, PBB dan konversi ransum.

Analisis data  meggunakan prosedur sidik ragam Analysis of variance (ANOVA) pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan untuk menguji perbedaan antara perlakuan digunakan uji jarak berganda Duncan (Steel and Torrie, 1991).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian terlihat  pada Tabel 1. Konsumsi ransum yang tidak berbeda nyata pada babi yang mendapat ransum KPB hal ini disebabkan karena semua ransum perlakuan memiliki palatabilitas yang sama, kandungan nutrisi ransum hampir sama terutama kandungan energi dan protein. Pakan yang mempunyai kandungan nutrien yang relatif sama maka konsumsi pakannya juga relatif sama.

Penggunaan kelor memberikan efek yang baik, sesuai laporan Syukron dkk (2014), penambahan Moringa oleifera 5% dan 10% memberikan effek yang baik pada konsumsi ransum, yang mana dalam penelitian ini penggunaan tepung daun kelor 11,5% (45% dari 25). Penggunaan tepung daging bekicot dapat menambah protein dalam campuran  ransum yang mempunyai efek baik pada ternak (Susanthi, 2015).  

Ransum yang mengandung campuran daun kelor, bekicot  dan limbah ikan menggantikan konsentrat komersial mampu dicerna dengan baik oleh ternak babi.  Zat nutrisi hasil pencernaan KPB dapat menggantikan nutrisi yang ada dalam KPK.  Hal ini disebabkan daun kelor sendiri menyumbangkan zat nutrisi yang lengkap sehingga konsumsi ransum oleh laporan Foidl et al (2001), pemberian daun kelor dalam ransum menyebabkan pertumbuhan ternak lebih cepat, yang berarti daun kelor dapat dicerna dengan baik. 

Kecernaan BK, BO dan PK  yang berbeda tidak nyata  berarti zat-zat makanan pada konsentrat buatan (R1,R2 dan R3) dapat dicerna dengan baik.  Serat kasar pada daun kelor tidak menurunkan kecernaan zat-zat makanan lainnya, terutama protein.  Serat kasar yang disumbangkan oleh daun kelor (45% dari 25%) atau 11,25% dalam ransum, tidak berpengaruh terhadap kecernaan. 

Kecernaan yang sama, konsumsi sama akan mendapatkan pertumbuhan yang sama pula (Malheiros et al. 2003).  Karena konsumsi dan kecernaan protein dalam penelitian ini sama, maka pertumbuhan (PBB) juga berefek tidak nyata.  Kecernaan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti komposisi dan kandungan nutrisi bahan makanan, terutama serat kasar akan mempengaruhi kecernaan zat-zat makanan lainnya.

Dalam penelitian ini, kandungan serat kasar hampir sama sehingga kemampuan babi untuk mencerna bahan kering ransum tidak berbeda nyata, karena komposisi bahan kering dan kandungan serat kasar hampir sama maka menyebabkan kecernaan zat-zat nutrisi tidak berbeda nyata (Budaarsa, 1997).
Konsetrat Ternak Babi
Tabel 1.  Rataan Hasil  Penelitian Penggunaan Tepung Daun Kelor, Tepung Bekicot  Dan Tepung Limbah Ikan

Struktur protein dalam KPK kemungkinan sama dengan KPB sehingga tingkat kecernaan protein dalam ransum tersebut sama, sesuai pernyataan Ginting (2012), struktur protein ransum/bahan pakan mempengaruhi kecernaan daripada  protein tersebut.  Daun kelor, merupakan protein nabati dengan kandungan asam-asam amino yang lengkap (Foidl et al, 2001).

Bekicot protein hewani mengandung asam amino essensial sangat tinggi terutama lisin dan metionin, lisin 4,35% (Susanthi, 2015) 8,98%, methionin1 ,04% (Reksohadiprojo), dan limbah ikan merupakan sumber protein hewani 14% dalam ransum menghasilkan performan yang baik (Baye dkk, 2015) dan karkas yang bagus pada ayam broiler (Gombo dkk. 2015).

Penggunaan campuran tepung daun kelor, daging bekicot dan limbah ikan sebagai pengganti konsentrat protein komersial memberikan pengaruh yang baik untuk ternak babi, dilihat dari pertambahan bobot badan dan konversi pakan.  Hal ini didukung hasil Tlonaen (2013) dan Matta (2014) yang mendapatkan, suplemen daun kelor sampai 75 g/hr meningkatkan tampilan babi seperti efisiensi ransum, PBB dan IOFC. 

Pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam) dan daun bawang putih (Allium sativum) melalui air minum dapat menurunkan lemak abdomen dan kadar kolesterol dalam darah broiler dan penggunaan daun kelor sampai 30% dalam ransum dapat meningkatkan bobot badan kelinci (Marhaeniyanto dkk, 2015).

SIMPULAN


Campuran 45% tepung daun kelor, 5% tepung bekicot dan 50% tepung limbah ikan dapat mengganti konsentrat komersial  sampai level 100% (25% dalam ransum) ternak babi grower. Baca juga: Cara Membuat Ransum Fermentasi Untuk Induk Babi Menyusui 

DAFTAR PUSTAKA


Arnold Baye, F.N.Sompie, Bety Bagau, Mursye Regar.  2015. Penggunaan Tepung Limbah Ikan Pengalengan Ikan dalam Ransum terhadap Performa Broiler.  Jurnal Zootek  Vol.35.No.1: 96-105.

Budaarsa, K. 1997. Kajian Penggunaan Rumput Laut dan Sekam Padi Sebagai Sumber Serat Dalam Ransum Untuk Menurunkan Kadar Lemak Karkas dan Kolesterol Daging Babi. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Dwipayana, I M.  2013.  Pengaruh  Suplementasi Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera, Lam) dalam Ransum  Rendah Protein terhadap Kadar Leokosit, Hematokrit dan Eritrosit Ternak Babi Fase Pertumbuhan.

Eko Marhaeniyanto, S. Rusmiwari, Sri Susanti.  2015.  Pemanfaatan Daun Kelor untuk Meningkatkan Produksi Ternak Kelinci Newzealand White.  J. Buana Sains.  Vol.15.No.2 (2015). https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/buanasains/article/view/369. 

Etias Gombo, M. Najoan, F.R. Wolayan, M.R.Imbar.  2015.  Penggunaan Tepung Limbah Penggalengan Ikan dalam Ransum terhadap Kualitas Karkas Ayam Broiler.  Jurnal Zootek. Vol. 35.No.2:178-186. Scholar.google.co.id.

Foidl N., Makkar H.P.S. and Becker., 2001. The Potential of Moringa Oliefera for agricultural  and industrial uses. In: “The Miracle Tree/ The Multiple Attributes of Moringa” (Ed.  Lowell J Fuglie). CTA. USA. Diakses pada tanggal 29/01/2014.

Fuglie, L. 2001. The Miracle Tree. (The Multiple Atributes of Moringa). CWS. Dakar, Sinegal.

Gopalan, C., B. V. Rama Sastri, and S. C. Bala Subramain. 2004. Nutritive Value of Indian Food. National Institute of Nutrition. Indian Council of Medical Research, Hyderabed 500007.

0 Response to "Penggunaan Tepung Daun Kelor, Tepung Bekicot Dan Tepung Limbah Ikan Sebagai Pengganti Konsentrat Komersial Terhadap Kecernaan Dan Performan Ternak Babi"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel