Strategi Pemuliabiakan dan Pengembangan Peternakan Ruminansia di Indonesia


Lemahnya pengembangan atau relatif tidak tercapainya program pengembangan peternakan dan/atau swasembada pangan hewani di Indonesia mungkin disebabkan oleh tidak terfokusnya program yang dicanangkan dan tidak memiliki satu institusi nasional yang dapat memayungi komponen-komponen yang tercecer di seantero negeri seperti pusat-pusat riset dan/atau pusat program unggulan yang telah dibangun di negara ini. Semua itu masih belum terintegrasi baik organisasi, sistem kerjanya, sumberdaya finansial, dan tujuan besar yang ingin dicapai. (baca: Arah Kebijakan Nasional Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi)

Untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan, kita harus mau belajar dari pengalaman negara lain. Australia misalnya, negara ini menjadi pemasok utama daging sapi dan ternak hidup ke Indonesia. Keberhasilan Peternakan Australia dalam bisnis ternak sapi sesungguhnya didukung oleh upayanya membangun pusat riset dan breeding sapi berskala Internasional yang lokasinya tersebar di hampir seluruh negara bagiannya.

Bindon (2001) telah membangun model Cooperative Research Centre (CRC) for the Beef and Beef Industry (Meat Quality) di Australia yang dapat menjadi teladan bagi kita di Indonesia (Gambar 1). Di dalam CRC ini semua pihak yang berkepentingan seperti Ilmuwan, Pebisnis, Pemerintah, Industriawan, dan Mahasiswa dilibatkan dan menjadi bagian yang sangat penting dalam mengelolah industri peternakan sapi dan daging Australia. Tujuan utamanya adalah agar komoditas ternak sapi dan dagingnya dapat bersaing secara global.
Pemuliabiakan dan Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi
Gambar 1. Model integrasi pusat riset dan industri ternak dan daging sapi di Australia (digambar ulang dari Bindon, 2001)

Sedangkan pusat riset dan pengembangan ternak kerbau yang terkenal di tingkat dunia berlokasi di Italia, India, China, dan Filipina, bahkan sekarang ini Jepang pun sudah memulainya. Contoh-contoh ini memberi petunjuk kepada kita bahwa negara produsen daging dunia (Phillips, 2001; Poppi, 2014; Malau-Aduli dan Holman, 2014) intensif membangun pusat riset terintegrasi dan inkubasi bisnis ternak dan peternakannya dengan tujuan utamanya adalah untuk melindungi dan menjaga agar semua produk peternakannya dapat bersaing di tingkat international. (baca juga: Nasib Ternak Kerbau di Indonesia Tidak Seberuntung Ternak Sapi)

Mencermati dan mengambil ikhtibar dari contoh yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka sewajarnya Indonesia sudah sangat urgen untuk membangun hal yang sama agar program menjadi Lumbung Pangan Asia di tahun 2045 dapat direalisasikannya. Model Australia dapat diadopsi untuk mendirikan hal yang relatif sama di Indonesia dan dinamakan National Ruminant Breeding and Beef Industry Plan (Pusat Pemuliabiakan dan Pengembangan Industri Peternakan Ruminansia Nasional).

Di dalam wadah inilah nantinya dikumpulkan dan diberi ruang untuk berekspresi bagi ilmuwan dan Mahasiswa (S1, S2, S3) dari Perguruan Tinggi, Peneliti dari Litbang Deptan/Kementrerian dan Lembaga lain, Pebisnis, Industriawan, dan Pemerintah. Dari dalam pusat pengembangan ruminansia nasional ini nantinya dikomunikasikan hasil riset dan pengembangan seperti yang telah dilakukan oleh CRC (simak Bindon, dkk., 2001).

Agar pusat pengembangan peternakan ruminansia nasional ini terlaksana sebagaimana mestinya maka organisasi dan tupoksinya harus dibangun secara bersama oleh unsur- unsur yang terlibat didalamnya. Disamping itu, arah kebijakan operasional dan komponen yang dilakukan harus dirumuskan terutama yang berkaitan dengan aspek- aspek pengembangan sumberdaya genetik ternak lokal dan/atau ternak impor.

Bowker dkk. (1978), telah menganjurkan agar bangsa Indonesia membangun pusat pengembangan ternak ruminansia pedaging yang adaptif dengan kondisi Indonesia. Bahkan mereka telah pula menjelaskan secara rinci tentang kendala yang mungkin dihadapi terutama berkaitan dengan jenis ternak, kondisi agroekosistem, penyakit dan kesehatan ternak.

Oleh karenanya Tim dari Australia inipun menyarankan agar Indonesia memperhatikan ternak-ternak lokal seperti sapi bali, ongole, madura, kerbau, dan jenis ruminansia lain yang sudah beradaptasi dengan lingkungan negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Jika wadah ini dapat direalisasikan maka pelaksanaannya tidak mesti dilakukan terpusat di suatu tempat. Namun diperlukan adanya Kantor Pusat Utama yang memegang kebijakan dan komitmen yang ketat dan terfokus sesuai dengan rambu - rambu pengembangan genetika dan industri ternak ruminansia yang telah ditetapkan.

Sebagai bahan pertimbangan, selama ini pusat-pusat riset yang dikoordinir oleh Departemen Pertanian kecenderungan bekerja secara parsial dan juga litbang-litbang lain yang melakukan riset dan pengembangan di bawah kementerian dan lembaga (KL) juga tumpang-tindih tufoksinya. Misalnya, riset-riset di Kementerian RistekDikti, Kesehatan, Transmigrasi, Perindustrian, dll. telah mengalokasikan anggaran masing- masing secara mandiri untuk topik yang relatif serupa.

Akibatnya, anggaran negara untuk riset dan pengembangan menjadi tidak efisien. Dengan adanya Pusat Nasional Pengembangan Ternak Ruminansia ini nantinya segala sumberdaya yang sejenis dapat dimanfaatkan secara terintegrasi. Disamping itu, pusat-pusat penghasil semen beku dan inseminasi buatan, pusat pemeliharaan ternak dan hijauan pakan unggul yang tersebar di seluruh Indonesia dapat menjadi pelaksana dari program riset dan pengembangan yang bernaung dalam satu atap (Baharsjah dkk, 2014 dan Kementan, 2014). (baca juga: Makalah Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi)

Sumber:
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau 4 - 5 Oktober 2017

0 Response to "Strategi Pemuliabiakan dan Pengembangan Peternakan Ruminansia di Indonesia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel