SEJARAH AWAL PENYAKIT JEMBRANA (KERINGAT DARAH) PADA SAPI BALI


Sebagai salah satu negara pengimpor daging sapi, Indonesia memiliki kekhususan tersendiri dengan keberadaan ternak asli yang dibudidayakan secara tradisional dan turun-temurun, salah satunya di Bali. Jenis sapi dengan nama latin Bos Sondaicus atau Bibos Javanicus ini dikenal dengan nama Sapi Bali.

Keunggulan sapi ini dibanding dengan jenis lainnnya terletak pada reproduksinya yang sangat baik dan postur dagingnya yang lebih padat dibanding sapi umumnya.

Ciri lain yang membedakan sapi ini dengan jenis lainnya merupakan bentuk tubuhnya yang menyerupai banteng dan warna kecokelatan dengan garis hitam di punggungnya saat kecil. Perbedaan antara betina dengan jantan terlihat saat dewasa. Sapi jantan berwarna hitam dan betina berwarna coklat kemerahan.
PENYAKIT JEMBRANA (KERINGAT DARAH) PADA SAPI
 Penyakit Jembrana (Keringat Darah) Pada Sapi Bali
Terlepas dari kualitas sapi Bali yang terbilang unggul dan merupakan jenis endemik Indonesia. Sapi ini ternyata membawa kekhawatiran bagi para peternak, tidak hanya di Bali sebagai daerah asalnya. Namun juga di beberapa wilayah di Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh karakteristik sapi Bali melekat pada kekhasan penyakit bernama "jembrana" yang umum menjangkitinya. Menteri pertanian lewat SK nomor 4026 tahun 2013 menyatakan jembrana sebagai penyakit hewan menular strategis (PMHS). Penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi, mengganggu kesehatan masyarakat, dan kematian hewan yang sangat tinggi.

Dampak fatal akibat penyakit ini mendapat prioritas, baik pengendalian dan pemberantasannya, secara nasional. Sejak tahun 1993 hingga sekarang, penyakit hewan menular ini kerap kali menimbulkan wabah pada ternak sapi Bali. Seiring ekspansi sapi Bali ke berbagai daerah di Indonesia, penyebaran jembrana pun meluas ke provinsi lain.

Penyakit Jembrana yang memiliki nama lain “keringat darah”, tidak hanya menyerang satu dua ekor sapi dalam sebuah peternakan, namun penyebarannya berpotensi lebih masif sampai menjadi wabah pada suatu wilayah.

SEJARAH AWAL PENYAKIT JEMBRANA

Penyakit Jembrana pertama kali muncul dan mewabah di Desa Sangkar Agung, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana Provinsi Bali pada tahun 1964. Pada waktu itu penularannya sangat cepat pada sapi Bali dan kerbau. Dilaporkan lebih dari 26.000 ekor sapi Bali dan sekitar 5.000 ekor kerbau mati oleh penyakit ini.

Berdasarkan tanda klinisnya, penyakit Jembrana mirip dengan penyakit Ngorok (Septicemia epizootica/SE), sehingga pada masa tersebut pengobatan dilakukan dengan menggunakan antibiotika. Kasus kematian pada kerbau dapat dihentikan, sedangkan pada sapi Bali penyakit Jembrana masih terus berlanjut sampai dengan tahun 1967.

Setelah kejadian wabah tersebut, beberapa Tim dari beberapa instansi silih berganti melakukan penelitian untuk mengetahui agen penyebab penyakit Jembrana. Mulai dari Tim Lembaga Virologi Kehewanan (LVK) Surabaya tahun 1965, Tim FAO bersama Tim LVK tahun 1967 dan Tim Colombo Plan tahun 1969. Meskipun semua tim tersebut belum berhasil mengidenti­kasi penyebab penyakit, namun gejala klinis dan patologi yang mengarah pada Malignant Catarrhal Fever (MCF) kompleks berhasil digambarkan.

Pada tahun 1972 Direktorat Jenderal Peternakan membentuk Tim Peneliti Gabungan Penyakit Jembrana yang melibatkan FKH IPB. Tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Suhardjo Hardjosworo dan dibantu oleh Dr. Iwan Budiarso berhasil mengisolasi agen penyakitnya yang menciri pada Ricketsia. Namun dengan menggunakan mikroskop elektron tidak mendapatkan gambaran baik dari Ricketsia.

Pengamatan penyakit terus dilanjutkan oleh Tim FAO tahun 1974 – 1982 (Dr. Harding-Bakteriologist; Dr. Ramachandran-Virologist; Dr. Teuzer-Pathologist. Dr. Sweatman-Parasitologist serta Dr. Unruh) dibantu oleh Dr.M Malole, Dr.Gde Sudana dan para staf muda Disease Investigation Centre (DIC) Denpasar.

Pada saat itu, Dr. Ramachandran menyatakan bahwa penyebab penyakit kemungkinan besar adalah virus karena agen penyebab mampu melewati ­lter 200nm. Gambaran epidemiologi dan histopatologi yang spesi­k pada paru-paru berhasil diungkapkan. Penelitian kemudian terhenti karena proyek FAO berakhir tahun 1982.

Pada tahun 1983 - 1986 dibentuk Unit Penelitian Penyakit Sapi Bali (Bali Cattle Disease Investigation Unit/BCDIU) fase I bekerjasama dengan Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) Wilayah VI Denpasar, IFAD (International Funds for Agriculture Development) dan UNDP. Penelitian dipimpin oleh Prof. Dr. A.A. Ressang dibantu oleh DR. Iwan T. Budiarsa. Tim menyimpulkan sementara bahwa penyakit Jembrana disebabkan oleh Erlichia. Sebelum diperoleh hasil yang cukup meyakinkan Prof. Dr. A.A. Ressang meninggal dunia tahun 1987.

Pada tahun 1987-1989 penelitian fase II dipimpin oleh Prof. DR. Susanto dan Prof. DR. G.E. Wilcox (dari Murdoch University Australia). Tim menyimpulkan agen penyebab penyakit Jembrana adalah virus yang masuk dalam grup virus Bunyaviridae. Untuk membuktikan secara pasti, penelitian dilanjutkan tahun 1989-1992 oleh Tim yang terdiri dari Prof. Dr. G.E. Wilcox, Dr. Suharsono, Dr. Nining Hartaningsih, Dr. DMN Dharma dan Dr. Gde Kertayadnya.

Akhirnya Tim berkesimpulan bahwa agen penyebab penyakit Jembrana adalah virus yang masuk dalam famili Retroviridae, subfamili Lentivirinae (virus penyebab turunnya daya kekebalan tubuh). Selain etiologi yang berhasil ditetapkan, gambaran klinis, pathogenesis, imunologis dan epidemiologis penyakitpun berhasil diungkap sehingga kontrol dan penanggulangan penyakit bisa dilakukan.

Karena penyakit Jembrana disebabkan oleh virus, maka pilihan utama untuk mencegah penyakit adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksin penyakit Jembrana yang berhasil dibuat tahun 1990 adalah whole inactivated vaccine dengan virus yang dikembangkan pada sapi Bali.

Pengembangan vaksin mulai dilakukan pada tahun 1997 – 2000 dengan bantuan proyek dana Riset Unggulan Terpadu (RUT) yang dipimpin oleh Dr.Nining Hartaningsih (BPPV R VI) dan Dr. I Nyoman Mantik Astawa (FKH Udayana) berhasil membuktikan peranan kekebalan selular dalam proses persembuhan.

Penelitian kemudian terhenti karena perubahan politik yang terjadi di tahun 1998. Karena vaksinasi dan metoda diagnosa dianggap sangat penting unuk pencegahan dan deteksi virus, maka Direktorat Jenderal Peternakan (DGLS) bekerja sama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) melakukan penelitian panjang fase I dan ke II melalui proyek AH/2004/074 yang dimulai dari tahun 2004 hingga tahun 2010.

Fase I proyek dengan nama proyek Large scale production of a vaccine and diagnostic reagents for Jembrana disease in Indonesia yang dipimpin oleh Dr. G.E.Wilcox dan Dr. Nining Hartaningsih melakukan kerjasama penelitian dengan Dra. Endang Trimargawati dan Yudhi Rahmat, S.Si dari laboratorium Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Agus Wiyono (Balai Besar Penelitian Veteriner-BBALITVET) dan Dr. A A Gde Putra, Dr. I Wayan Masa Tenaya dan Dr. NLP Agustini dari Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) Denpasar kemudian melakukan serangkaian penelitian pengembangan diagnose tingkat molekuler dan pengembangan vaksin rekombinan penyakit Jembrana.

Fase I menghasilkan banyak penelitian dan publikasi internasional yang dibuat oleh para peneliti baik dari Australia seperti Moira Desport, Stewart dan Detcham serta Dr. Ami Setianingsih dari IPB diantaranya adalah ditemukannya seed sub unit rekombinan virus penyakit Jembrana yang dapat digunakan sebagai vaksin dan antigen untuk Kit diagnostik.

Pada fase ke II kerjasama penelitian dilanjutkan dengan mengikut sertakan industri vaksin Pusvetma dan Vaksindo yang diharapkan menghasilkan Kit diagnostik dan vaksin rekombinan. Pada fase ke II ini target sel dari virus Jembrana (JDV) berhasil diungkap oleh Dr. I Wayan Masa Tenaya yang memperkuat bahwa penyakit Jembrana adalah penyakit yang menyerang sistim kekebalan tubuh sekaligus memperjelas gambaran patogenesis penyakit Jembrana.

Demikianlah sejarah awal penyakit Jembrana (Keringat Darah) pada Sapi Bali, semoga bermanfaat... 

Sumber: http://keswan.ditjenpkh.pertanian.go.id

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "SEJARAH AWAL PENYAKIT JEMBRANA (KERINGAT DARAH) PADA SAPI BALI"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel