PROBIOTIK SEBAGAI AGEN DETOKSIFIKASI TERNAK RUMINANSIA


Dalam dunia peternakan juga berkembang penggunaan bakteri lain selain Bakteri Asam Laktat (BAL) sebagai probiotik dengan tujuan melakukan detoksifikasi terhadap kandungan racun dan antinutrisi pada pakan. (baca: Manfaat Penggunaan Probiotik Pada Ternak Ruminansia)

Beberapa toksin dan antinutrisi yang ditemukan pada pakan  yaitu tanin (Wiryawan et al. 1996), sianida (Winugroho et al. 2001), mimosin (Novita et al. 2015), gosipol, diaminobutyric, dan lain lainnya.

Kandungan toksin dan antinutrisi tersebut akan menghambat pemanfaatan zat makanan dalam tubuh ternak, dan dalam kondisi ekstrem dapat menyebabkan kematian, padahal bahan pakan yang mengandung toksin dan antinutrisi biasanya merupakan sumber pakan yang potensial karena mengandung zat makanan dengan kualitas yang tinggi terutama sebagai sumber protein seperti leguminosa, limbah pertanian, dan limbah acid, curcin, phorbolester, asam fitat, asam oksalat industri.

Keberhasilan probiotik dalam menurunkan kadar dan aktivitas toksin dan antinutrisi akan berpengaruh terhadap penurunan biaya produksi ternak serta meningkatkan pendapatan peternak.

Senyawa tanin yang terdapat pada sebagian besar leguminosa dapat mengikat protein, karbohidrat, dan mineral sehingga pemanfaatan zat makanan tersebut menjadi tidak optimal. Disamping itu, pemberian pakan yang mengandung tanin tinggi dalam kurun waktu yang lama akan merusak papillae rumen dan vili-vili saluran pencernaan (Wiryawan et al. 1999).

Ternak kambing bisa beradaptasi dengan pakan mengandung tanin tinggi karena menghasilkan saliva yang kaya akan prolin (prolin-rich saliva), yang dapat menetralisir pengaruh negatif dari tanin. Disamping itu, ternak kambing memiliki mikrob rumen yaitu Streptococcus caprinus yang mampu mendegradasi tanin terhidrolisis (Brooker et al. 1994).

Wiryawan et al. (1998, 1999) juga berhasil melakukan isolasi bakteri toleran tanin dari ternak kambing kaligesing yang sudah terbiasa mengonsumsi kaliandra yang mengandung tanin. Isolat bakteri tersebut sangat potensial dikembangkan sebagai probiotik untuk diberikan pada ternak yang belum diadaptasi dengan pakan yang mengandung tanin.

Daun singkong merupakan sumber pakan yang sangat potensial karena mengandung protein yang tinggi yaitu 16,7–39,9% dengan rata-rata 21% dari bahan kering (Allen 1984) dan hampir 85% fraksi proteinnya merupakan true protein (Eggum 1970), tetapi daun singkong juga mengandung senyawa antinutrisi / toksin yang disebut sianida.

Kadar sianida dalam daun singkong bervariasi tergantung varietasnya. Daun singkong pahit mengandung sianida 964,3 ppm (Novita et al. 2015), padahal batas toleransi ternak mengonsumsi sianida adalah 2,2–2,4 ppm per kilogram bobot badan. Adanya asam sianida dalam tubuh akan menghambat penggunaan oksigen oleh jaringan karena asam sianida menghambat kerja enzim sitokrom oksidase yang sangat diperlukan dalam proses oksidasi di dalam tubuh.

Ternak ruminansia yang sudah beradaptasi dengan pakan daun singkong dapat menggunakan daun singkong sampai 100% dalam ransumnya tanpa menunjukkan gejala keracunan sianida. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian untuk melakukan isolasi bakteri rumen kambing pendegradasi sianida telah dilakukan (Winugroho et al. 2001; Novita et al. 2015). Winugroho et al. (2001) mengisolasi bakteri Megasphaera elsdenii dari rumen domba yang mampu menurunkan kadar sianida pada kultur in vitro.

Sementara itu, Novita et al. (2015) berhasil mengisolasi dua jenis bakteri rumen kambing yang mampu menurunkan kadar sianida lebih dari 74% selama 24 jam (Gambar 1). Bakteri tersebut telah dibuktikan mampu hidup dan berkompetisi dalam ekosistem rumen secara in vitro sehingga perlu dilakukan kajian lanjutan untuk melakukan evaluasi secara in vivo.
Probiotik Untuk Ternak Sapi
Gambar 1. Penurunan kadar sianida oleh bakteri yang diisolasi dari cairan rumen kambing peranakan Etawah
Di wilayah Nusa Tenggara Timur, lamtoro merupakan sumber hijauan utama bagi ternak ruminansia pada musim kemarau. Lamtoro merupakan hijauan dengan kandungan nutrien yang tinggi, dengan protein kasar sebanyak 25–32%, kalsium 1,9– 3,2% dari bahan kering, dan beta-karoten, tetapi lamtoro juga mengandung senyawa antinutrisi / toksin yaitu mimosin.

Kadar mimosin pada daun lamtoro bisa mencapai 9% dari bahan kering (Hegarty et al. 1964). Mimosin dalam tubuh bersifat antimitosis yaitu menghambat sintesis DNA terutama untuk sel yang pertumbuhannya cepat. Mimosin juga menghambat beberapa enzim yang berhubungan dengan tirosin dan mengikat beberapa protein sehingga mengakibatkan kerontokan bulu pada ternak.

Pemberian lamtoro lebih dari 30% dalam jangka panjang akan menyebabkan keracunan yang dapat menurunkan konsumsi pakan, dan memperlambat pertumbuhan (Pattanaik et al. 2007). Pada ternak ruminansia mimosin di dalam rumen akan didegradasi menjadi 3,4 - dihydroxypyridin (3,4 - DHP), tetapi hal ini tidak mengurangi toksisitas mimosin karena 3,4 - dihydroxypyridin (3,4 - DHP) selanjutnya dikonversi menjadi isomernya yaitu 2,3 - dihydroxypyridine (2,3-DHP) (D’Mello 1992).

Ternak yang sudah beradaptasi dengan pakan lamtoro tidak akan mengalami keracunan mimosin karena ada bakteri Synergistes jonesii yang mampu mendegradasi 3,4-DHP (Allison et al. 1992) dan telah digunakan sebagai probiotik pada ternak sapi yang belum pernah mengonsumsi lamtoro. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa 2,3 DHP dapat menurunkan konsumsi (Mc Sweeney et al. 1984), menurunkan produksi susu pada sapi perah (Ghosh et al. 2007), dan berakibat fatal jika diberikan dalam bentuk murni (Puchala et al. 1995).

Namun di beberapa daerah di Indonesia, ditemukan ternak ruminansia yang dapat mengonsumsi lamtoro dalam jumlah yang banyak pada kurun waktu yang lama tanpa menunjukkan gejala keracunan (Phaikaew et al. 2012; Graham et al. 2013; Halliday et al. 2013) sehingga ada kemungkinan ternak ruminansia di beberapa daerah di Indonesia memiliki bakteri rumen yang dapat mendegradasi 2,3 - DHP, tetapi sampai saat ini bakterinya belum bisa diisolasi, walaupun secara molekuler keberadaan bakteri tersebut sudah bisa diidentifikasi. (baca juga: Penggunaan Probiotik Pada Ternak Ruminansia Muda)

Sumber:
Allison MJ, WR Mayberry, CS McSweeney, DA Stahl. 1992. Synergistes-jonesii, gen.nov., sp.nov.: a rumen bacterium that degrades toxic pyridinediols. Systematic and Applied Microbiology. 15:522–529.

D’Mello JPF. 1992. Chemical constraints to the use of tropical legumes in animal nutrition. Animal Feed Science and Technology. 38:237−261.

Ghosh MK, PP Atreja, R Buragohain, S Bandyopadhyay. 2007. Influence of short-term Leucaena leucocephala feeding on milk yield and its composition, thyroid hormones, enzyme activity, and secretion of mimosine and its metabolites in milk of cattle. Journal of Agricultural Science. 145:407−414.

Graham SR, SA Dalzell, TN Nguyen, CK Davis, D Greenway, CC McSweeney, HM Shelton. 2013. Efficacy, persistence and presence of Synergistes jonesii inoculum in cattle grazing leucaena in Queensland: On-farm observations pre- and post-inoculation. Animal Production Science. 53.

Hegarty MP, RD Court, PM Thorne. 1964. The determination of mimosine and 3,4- dihydroxypyridine in biological material. Australian Journal of Agricultural research. 15:168–179.

McSweeney CS, A Bamualim, RM Murray. 1984. Ruminal motility in  sheep intoxicated with 2,3-dihydroxypyridine. Australian Veterinary Journal. 61:271−272.

Novita M, KG Wiryawan, A Sudarman, S Suharti. 2015. Isolation, characterization, and identification of cyanide degrading bacteria from dairy goat rumen fluid.

Phaikaew C, W Suksaran, J Ted-Arsen, G Nakamanee, A Saichuer, S Seejundee, N Kotprom, HM Shelton. 2012. Incidence of subclinical toxicity in goats and dairy cows consuming leucaena (Leucaena leucocephala) in Thailand. Animal Production Science. 52: 283−286.

Proceeding of the 2nd ASEAN Regional Conference on Animal Production (ARCAP) and 36th Malaysian Society of Animal Production, Malaysia.

Puchala, RT Sahlu, JJ Davis, SP Hart. 1995. Influence of mineral supplementation on 2,3-dihydroxypyridine toxicity in Angora goats. Animal Feed Science and Technology. 55: 253−262.

Winugroho M, A Abrar, KG Wiryawan. 2001. Detoksifikasi sianida oleh bakteri rumen. JITV. 19 (3).

Wiryawan KG, JD Brooker. 1996. Probiotic control of lactate accumulation in acutely grain-fed sheep. Austral. J. of Agric. Res. 46 (8): 1555–1568.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PROBIOTIK SEBAGAI AGEN DETOKSIFIKASI TERNAK RUMINANSIA"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel