Probiotik dan Kelainan Metabolisme (Asidosis) Pada Ternak Ruminansia


Kebutuhan daging ternak ruminansia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, memacu industri peternakan untuk meningkatkan produktivitas ternaknya yaitu dengan mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan efisiensi penggunaan zat makanan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan adalah melalui program penggemukan (finishing/fattening) dengan jalan meningkatkan kualitas zat makanan yang diberikan dengan proporsi konsentrat yang tinggi.

Pemberian pakan konsentrat yang mengandung pati tinggi dalam program penggemukan, disatu sisi dapat meningkatkan produksi dan memperpendek masa pemeliharaan ternak, tetapi di sisi yang lain dapat menyebabkan kelainan metabolisme berupa asidosis yang dapat berakibat pada kematian, terutama bagi ternak yang kurang diadaptasi dengan baik terhadap pakan konsentrat.

Asidosis terjadi karena adanya perombakan pati dari pakan konsentrat yang sangat cepat oleh beberapa bakteri amilolitik rumen seperti Streptococcus bovis dan Lactobacillus albus yang akan menghasilkan asam laktat. Sementara bakteri yang menggunakan asam laktat seperti Megasphaera elsdenii, Selenomonas ruminantium dan Anaerovibrio lactilytica populasinya sedikit dan pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan bakteri penghasil asam laktat sehingga dalam waktu yang singkat (±8 jam) terjadi akumulasi asam laktat di dalam rumen (Wiryawan dan Brooker 1995).

Akumulasi asam laktat menurunkan pH rumen hingga di bawah 5. Kondisi ini mengakibatkan kematian sebagian besar mikrob rumen terutama protozoa dan bakteri pencerna serat, tetapi bakteri penghasil asam laktat masih bisa bertahan sehingga akumulasi asam laktat semakin meningkat.

Penurunan pH rumen tidak hanya membunuh sebagian besar mikrob rumen, tetapi juga merusak saluran pencernaan baik di rumen maupun usus halus sehingga pencernaan dan penyerapan zat makanan dalam saluran pencernaan akan terganggu.

Konsentrasi asam laktat yang tinggi di dalam rumen akan diserap ke dalam darah dan diedarkan ke seluruh tubuh ternak sehingga ternak mengalami sistemik asidosis. Dalam kondisi ekstrem, akumulasi asam laktat di dalam rumen akan menyebabkan kematian ternak dalam waktu kurang dari 24 jam (Wiryawan dan Brooker 1995).

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya asidosis adalah dengan inokulasi probiotik berupa bakteri pengguna asam laktat pada saat ternak diberi pakan konsentrat tinggi. Tujuannya adalah menyeimbangkan populasi bakteri penghasil dan pengguna asam laktat sehingga tidak terjadi akumulasi asam laktat di dalam rumen.

Wiryawan dan Brooker (1995) telah mengisolasi bakteri pengguna asam laktat dari ternak domba yang diadaptasi dengan pakan konsentrat yaitu Megasphaera elsdenii dan S. ruminantium subsp lactilytica dan menggunakannya sebagai inokulum pada ternak domba yang diberi pakan konsentrat tinggi tanpa melalui proses adaptasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternak domba yang diinokulasi dengan probiotik bakteri pengguna asam laktat S. ruminantium subsp lactilytica sebanyak 108 cfu mampu mencegah terjadinya akumulasi asam laktat di dalam rumen dibandingkan dengan kontrol (< 1 mM vs >100 mM). Disamping itu, pemberian probiotik bakteri pengguna asam laktat dapat mempertahankan pH pada kondisi netral yaitu 6,3 – 6,6, sedangkan pH rumen kontrol menurun hingga di bawah 5 (Tabel 1).
Probiotik Ternak
Penggunaan Probiotik Pada Ternak Ruminansia
Penggunaan kombinasi probiotik S. ruminantium subsp lactilytica dan Megaspaera elsdenii bahkan lebih efektif mencegah asidosis dan dapat mempertahankan stabilitas rumen selama 4 hari percobaan.

Vyas et al. (2011) melaporkan bahwa penggunaan probiotik S. cerevisiae pada sapi dara yang diinduksi sub-akut asidosis (SARA) mampu meningkatkan kecernaan pati dan mencegah penurunan pH rumen serta memperpendek waktu pH rumen berada di bawah 5,8 dan 5,6. Disamping itu, penggunaan S. cerevisiae pada sapi yang diinduksi SARA meningkatkan proporsi bakteri pencerna serat Ruminococcus flavefaciens di dalam rumen.

Hasil penelitian serupa juga dilaporkan oleh Pantaya et al (2014) yaitu penggunaan S. cerevisiae sebagai probiotik pada ternak yang diinduksi SARA dapat menghambat penurunan pH rumen dan memperpendek waktu pH rumen berada di bawah 5,6. Dari penelitian tersebut juga diperoleh informasi bahwa penambahan probiotik S. cerevisiae menghambat penyerapan mikotoksin dari dalam rumen sehingga mencegah ternak dari keracunan mikotoksin serta mengurangi deposit mikotoksin  dalam daging dan susu. (baca juga: Penggunaan Probiotik Pada Ternak Ruminansia Muda)

Sumber:
Wiryawan KG, JD Brooker. 1995. Probiotic control of lactate accumulation in acutely grain-fed sheep. Austral. J. of Agric. Res. 46 (8): 1555–1568.

Pantaya D, AP Morgavi, M Silberberg, C Martin, Suryahadi, KG Wiryawan. 2014. Low pH enhances rumen absorption of aflatoxin B1 and ochratoxin A in sheep. Global Veterinaria. 13 (2): 227–232.

0 Response to "Probiotik dan Kelainan Metabolisme (Asidosis) Pada Ternak Ruminansia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel