Babi Hutan dan Populasinya di Indonesia


Babi hutan adalah nama umum yang disematkan kepada jenis-jenis babi liar, yang umumnya hidup di hutan. Dalam bahasa latin, babi hutan dikenal dengan istilah Sus Scrofa yang merupakan nenek moyang dari babi yang diternakkan saat ini (Sus Domesticus). (baca juga: Sejarah Ternak Babi di Indonesia)

Klasifikasi dan Taksonomi Babi Hutan

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Suidae
Genus : Sus
Spesies : Sus scrofa

Babi Hutan tersebar di berbagai penjuru dunia, mulai dari Eropa Tengah dan Utara, Daerah Mediterania, dan banyak di Asia, termasuk Jepang dan ke Selatan hingga Indonesia, dan Australia. Ukuran tubuh Babi Hutan bermacam-macam dari yang kecil hingga yang berukuran Raksasa.
 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Babi Hutan dan Populasinya di Indonesia

Ciri-Ciri Babi Hutan

Pada umumnya Babi Hutan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: bulu halus, berwarna hitam dan matanya kecil. Tinggi Babi Hutan dewasa rata-rata berkisar antara 55 – 110 cm dengan panjang badan sekitar 90 - 200 cm. Panjang ekor Babi Hutan rata - rata bisa mencapai 15 – 40 cm. Sedangkan untuk bobot badan rata-rata sekitar 50 – 90 kg, tergantung dari daerah tempat tinggalnya.

Babi Hutan jantan memiliki taring panjang yang terus tumbuh dari gigi taring atas dan bawah. Taring yang panjang tersebut berguna sebagai senjata sekaligus alat bantu. Panjang taring Babi Hutan normalnya adalah sekitar 6 cm. Namun beberapa ada yang bisa mencapai 12 cm.

Babi Hutan betina juga memiliki taring, tetapi cenderung lebih kecil. Saat merasa terancam, babi hutan jantan akan menurunkan kepalanya dan menyeruduk si pengganggu dengan taring tajam dan kuatnya. Sementara babi hutan betina biasanya akan mengangkat kepalanya dan menggigit si pengganggu.

Dalam rantai makanan, Babi Hutan memang merupakan salah satu mangsa Harimau dan Ular. Namun harimau dan Ular selalu menghindari menyerang Babi Hutan jantan yang sudah dewasa, karena dalam beberapa kasus, harimau dan ular ada yang mati karena tertusuk tanduk si babi hutan. Oleh sebab itu kita sebagai manusia  harus sangat waspada terhadap hewan yang satu ini, apalagi jika babi hutan sedang bersama anak-anaknya yang.

Anak Babi Hutan memiliki warna yang berbeda dengan babi hutan dewasa. Mereka memiliki bulu yang berwarna cokelat dengan garis-garis atau tutul berwarna krem di sekujur tubuhnya. Garis-garis tersebut akan semakin menghilang seiring bertambahnya umur.

Cara Hidup Babi Hutan

Babi Hutan hidupnya berkelompok, terdiri dari kelompok keluarga yaitu Babi Hutan jantan, betina dan anak-anaknya (salah satu induk Babi Hutan akan menjadi yang paling dominan di kelompoknya), atau kelompok Babi Hutan muda dan kelompok Babi Hutan dewasa. Tiap kelompok terdiri dari 4 – 5 ekor. Dalam tiap kelompok biasanya mempunyai sifat kegotongroyongan yang kuat. Contohnya pada saat menyiapkan sarang untuk beranak, disiapkan secara bersama-sama oleh kelompok.
 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Sarang Beranak Babi Hutan
Babi Hutan biasanya membuat sarang untuk beranak dan merawat anaknya. Sarang terbuat dari rumput-rumputan, alang-alang, ranting kayu atau rotan. Sarang yang dibuat bersifat tetap dan hanya dibuat saat akan beranak saja.

Dalam kelompok keluarga, kadang-kadang babi hutan meninggalkan kelompoknya selama beberapa waktu, tetapi kembali lagi pada saat musim kawin yaitu pada waktu Babi Hutan betina birahi. Hal ini dimungkinkan karena mereka mampu mengeluarkan suara yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan maksud tertentu.

Babi Hutan betina biasanya beranak setahun sekali. Masa bunting berlangsung selama 101 – 130 hari, rata-rata 115 hari, dengan jumlah anak 2 – 12 ekor/kelahiran. Anak-anaknya disusui selama 4 – 5 bulan. Pada masa akhir masa menyusui, babi hutan betina sudah dapat kawin lagi.

Perkembangbiakan Babi Hutan mulai terjadi pada umur 6 – 8 tahun. Di alam, babi hutan rata-rata mampu bertahan hidup 10 – 12 tahun, namun ada juga yang dapat bertahan sampai 20 tahun.

Babi Hutan mempunyai kegeramaran berkubang dalam lumpur, untuk menjaga suhu badan atau mengusir binatang pengganggu, seperti caplak. Babi Hutan tidak tahan terhadap sengatan sinar matahari, sehingga pada saat terik matahari berlindung di semak-semak dekat air.

Babi Hutan terkadang menjadi binatang nokturnal, tetapi terkadang juga menjadi binatang crepuscular (aktif saat senja dan fajar). Hal ini dapat dilihat dari aktifitas Babi Hutan dalam mencari makanan yang biasanya dilakukan pada sore hari dan dini hari, yaitu pukul 16.00 – 19.00 dan 04.00 – 06.00. Pada pukul 09.00 – 11.00 biasanya berkubang dalam lumpur.

Jelajah harian Babi Hutan rata-rata mencapai 5 – 16 km per hari dan biasanya babi hutan melewati jalur jalan yang tetap. Indra yang dimiliki babi hutan sangat peka dan sangat tajam mengenali bau manusia dan pandai berenang.

Babi Hutan adalah binatang omnivora. Apapun yang mereka temui bisa mereka makan, mulai dari rumput hingga bangkai. Bahkan di Australia, babi hutan juga menjadi predator bagi anak-anak domba dan rusa muda.

Populasi Babi Hutan di Indonesia


Populasi Babi Hutan di Indonesia yang dahulu terbilang banyak, sekarang diyakini terancam punah. Pada tahun 2017, The IUCN Species Survival Commission menempatkan Sus Scrofa (Babi Hutan) dalam katagori ‘Endangered’, atau sebagai jenis yang menghadapi kemungkinan kepunahan di alam yang cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan karena penurunan populasi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, terfragmentasinya populasi yang demikian tinggi atau terjadinya penurunan sub-populasi serta jumlah individu dewasa (IUCN 2017).

Sampai saat ini Indonesia belum memasukkan Babi Hutan ke dalam satwa liar yang harus dilindungi. Ancaman kepunahan Babi Hutan di Indonesia disebabkan karena hilangnya habitat Babi Hutan yang kini dijadikan permukiman dan daerah pertanian oleh penduduk. Selain itu Babi Hutan sering diburu karena merusak area pertanian dan ada sebagian penduduk yang memanfaatkannya sebagai bahan makanan.

Untuk itu diperlukan usaha dalam penyelamatan dan melestarikan Babi Hutan. Usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah merehabilitasi kembali sebagian habitat Babi Hutan untuk tempat tinggal alami(konservasi in-situ) atau dengan penangkaran (konservasi ex-situ).

Semoga bermanfaat


0 Response to "Babi Hutan dan Populasinya di Indonesia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel