Pemanfaatan Tepung Cacing Tanah Dalam Ransum Ayam Pedaging


Pendahuluan

Penelitian bahan pakan lokal yang dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein untuk ternak ayam pedaging terus dilakukan oleh para peneliti nutrisi unggas, hal ini dikarenakan sampai saat ini pakan yang mengandung protein hewani yang umum digunakan (tepung ikan dan tepung daging) masih mengandalkan terhadap impor dalam pengadaannya, sehingga perlu adanya pakan lokal alternatif yang mempunyai potensi yang tinggi, baik kuantitas maupun kualitasnya.
Tepung Cacing Tanah
Pemanfaatan Tepung Cacing Tanah Dalam Ransum Ayam Pedaging
Berdasarkan laporan Palungkun (1999), cacing tanah adalah salah satu hewan yang memiliki protein yang sangat tinggi, yaitu protein (64−76%), lemak (7−10%), kalsium (0,55%), fosfor (1%) dan serat kasar (1,08%). Selain itu cacing tanah mengandung asam amino esensial dannon esensial. 

Ayam pedaging (ayam ras dan ayam lokal) merupakan produsen daging terbesar nasional, yaitu sebesar 62,3% dari produksi daging nasional (Ditjen PKH, 2014). Dimana proses produksinya membutuhkan bahan pakan sumber protein yang juga besar. Oleh karena itu, makalah ini mencoba mengungkapkan beberapa hasil percobaan penggunaan tepung cacing tanah dalam ransum ayam pedaging. 

➤ Komposisi Kimiawi Cacing Tanah

Berbagai penelitian tentang kandungan gizi cacing tanah mengungkapkan bahwa cacing tanah mengandung protein yang  tinggi. Selain itu, komposisi kandungan asam amino cacing tanah juga lengkap, tidak kalah mutunya jika dibandingkan dengan beberapa sumber protein hewani lainnya.

Pada umumnya asam amino  diperoleh sebagai hasil hidrolisis protein, baik menggunakan enzim maupun asam. Beberapa hasil  percobaan mengenai  kandungan gizi cacing tanah telah dilaporkan oleh beberapa peneliti, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.
Kandungan Gizi Cacing Tanah
Kandungan Gizi Cacing Tanah
Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa kandungan gizi cacing tanah sangat baik, terutama untuk digunakan sebagai bahan pakan sumber protein untuk unggas. Dari tiga spesies cacing tanah yang ditunjukan pada Tabel 2, terlihat bahwa spesies Lumbricus Rubellus  menunjukkan kandungan gizi paling tinggi dibandingkan spesies L. Terestris dan P. Excavatus. Hal ini terlihat dari kandungan protein yang mencapai 63% dari bahan kering, sementara itu serat kasarnya sangat rendah (0,19% dari bahan kering).

Cho et al. (1998) mengatakan bahwa cacing tanah memiliki zat anti mikroba  dinamakan lumbricine, sehingga  diketahui memberi efek terhadap peningkatan imunitas ternak dan dapat menstimulasi sistem kekebalan (Liu et al. 2004). Habitat cacing tanah membuat cacing tanah kemungkinan mempunyai kemampuan untuk menghambat perkembangan bakteri di tubuhnya.

Zat aktif anti bakteri tersebut telah diteliti oleh Cho et al. (1998) yang menemukan senyawa lumbricin dalam cacing Lumbricus Rubellus. Pelczar et al. (1986) melaporkan bahwa  Lumbricin merupakan antibiotika berupa peptida karena berasal dari protein, dapat bersifat bakteriostatik sehingga termasuk anti bakteri (bakteriosin).

Bakteriosin dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain dengan cara absorbsi ke dalam permukaan dinding sel bakteri. Damayanti et al. (2009) mengatakan bahwa tepung cacing tanah L. rubellus terbukti mempunyai daya antimikroba dengan spektrum luas terhadap bakteri gram positif S. aureus, bakteri gram negatif E. coli dan S. pullorum serta fungi C. albicans.

Selain Lumbricus rubellus, Popovic et al. (2005) juga melaporkan bahwa cacing tanah Eisenia foetida mengandung glikolipoprotein yang secara in vitro mempunyai daya hambat terhadap Staphylococcus sp. Cacing tanah Eisenia foetida mempunyai senyawa antimikroba peptida OEP3121 (Liu et al. 2004).  Istiqomah et al. (2009) telah melaporkan kandungan asam amino yang terdapat pada Lumbricus rubellus, seperti ditunjukkan pada Tabel 3.
Komposisi Asam Amino Cacing Tanah
Komposisi Asam Amino Cacing Tanah
Seperti ditunjukan Tabel 3, cacing tanah memiliki asam amino yang lengkap. Auliah (2008) mengatakan bahwa umur Cacing tanah Lumbricuss rubelluss tidak mempengaruhi keragaman kandungan asam aminonya. Oleh sebab itu untuk memanfaatkan cacing tanah tidak perlu mempertimbangkan umurnya.

Selanjutnya, perubahan kadar asam amino pada setiap umur tidak terlalu bervariasi, kecuali pada umur 9 minggu dimana asam amino metionin drastis menurun sebaliknya asam amino valin drastis peningkatannya. Pada umur inipun asam amino alanin berbeda perubahannya dibandingkan pada umur yang lain.  Astuti (2001) mengatakan bahwa cacing tanah (Lumbricus rubellus) mengandung asam lemak esensial.

Resnawati (2003) melaporkan bahwa cacing tanah (Lumbricus rubellus) mengandung asam lemak linoleat, linolenat, EPA, DHA, arakhidonat, palmitat, stearat, miristat dan oleat. Asam linoleat  (2,34–2,88%), asam linolenat (1,64–2,07%),asam arakhidonat (1,90–2,42%) dan EPA (2,86–2,90%) tidak ada perbedaan (dengan koefisien keragaman kurang dari 20%) sedangkan DHA (1,16– 2,47%).

➤ Jumlah Produksi Cacing Tanah

Sudiarto (1999) melaporkan bahwa  populasi cacing tanah dapat meningkat sebanyak seribu kali dan beratnya dapat mencapai kelipatan 225 kali selama setahun, sehingga apabila pada awal pemeliharaan populasinya seribu ekor (0,5 kg) maka selama setahun pemeliharaan akan menjadi satu juta ekor (112,5 kg).
Produktivitas Cacing Tanah
Produktivitas Cacing Tanah
Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa perbedaan media dan pakan yang diberikan pada cacing tanah dapat mempengaruhi reproduksi dan kandungan zat nutrisinya (Catalan, 1981 dan Faluti, 1994). Matondang et al. (2001) telah melaporkan mengenai produktivitas cacing tanah serta biaya produksi dan pendapatan peternak cacing tanah di daerah Bandung dan Sumedang, Provinsi jawa Barat, seperti di sajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Rata-rata Biaya Produksi Budidaya Cacing Tanah
Rata-rata Biaya Produksi Budidaya Cacing Tanah

➤ Pengolahan Menjadi Tepung Cacing Tanah

Herdian et al. (2010) mengemukakan teknik pengolahan cacing tanah menjadi tepung cacing tanah. Prosedur pembuatan tepung cacing tanah menurut Herdian et al. (2010) adalah sebagai berikut : cacing tanah dibersihkan, dicuci dengan air, kemudian direndam dalam air dingin suhu 14°C selama 24 jam. Selanjutnya tambahkan asam format 80% sebanyak 3% dari berat cacing, selanjutnya  diblender dan dioven pada suhu 50ÂșC selama 12 jam. Kemudian diayak dengan ukuran mesh  40 sehingga diperoleh tepung cacing tanah (TCT).

➤ Penggunaan Tepung Cacing Tanah dalam Ransum Ayam Pedaging

Cacing tanah menjadi salah satu alternatif bahan pakan lokal yang dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein untuk ternak unggas, terutama untuk ternak ayam pedaging. Semakin meningkatnya harga bahan pakan sumber protein, terutama tepung ikan dan tepung daging yang merupakan bahan pakan yang sebagian besar masih didatangkan secara impor dari negara lain, maka keberadaan bahan pakan inkonvensional seperti cacing tanah bisa menjadi salah satu  alternatif yang bisa dimanfaatkan.

Kartiarso (1980) mengatakan bahwa cacing tanah mengandung protein dan asam amino yang lebih baik dibandingkan dengan tepung ikan dan tepung daging. Kandungan nutrisi cacing tanah yang baik, telah mengundang para ahli nutrisi ternak unggas (terutama ternak ayam)  untuk memanfaatkannya sebagai bahan pakan sumber protein dalam ransum ayam yang mereka buat.

Secara umum, penggunaan cacing tanah, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung cacing tanah (TCT) memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan produksi ternak unggas, terutama ayam pedaging. Resnawati (2005a) mengatakan tepung cacing tanah  dapat digunakan dalam ransum ayam pedaging sampai tingkat 15% tanpa menimbulkan efek negatif bagi performan produksinya.

Beberapa hasil percobaan pemanfaatan cacing tanah dalam ransum unggas, terutama ayam pedaging ditunjukkan pada Tabel 6.

Hasil Percobaan Pemanfaatan Cacing Tanah Dalam Ransum Ayam Pedaging
Hasil Percobaan Pemanfaatan Cacing Tanah Dalam Ransum Ayam Pedaging
Hasil percobaan lainnya, menunjukkan bahwa disamping kandungan gizi (protein dan asam amino) yang baik, cacing tanah juga diketahui memiliki fungsi sebagai Antibiotics Growth Promoters (AGP’s) alami. Feihgner dan Dashkevics (1987) mengatakan bahwa Antibiotics Growth Promoters (AGP’s) merupakan antibiotik membantu menjaga nutrisi dari destruksi bakteri, membantu meningkatkan absorbsi nutrien karena membuat barier di dinding usus, menurunkan produksi toksin dari bakteri saluran pencernaan dan menurunkan kejadian infeksi saluran pencernaan subklinik.

Laporan Rofiq (2003) dan penjelasan Wahju (2004) mengatakan bahwa  antibiotik dapat meningkatkan performa vili usus, sehingga absorbsi makanan dalam usus meningkat. Atas dasar tersebut, AGP’s dapat memaksimalkan absorbsi nutrien dalam saluran cerna, sehingga memacu pertumbuhan dan mengefisiensikan konsumsi pakan.

Akan tetapi, saat ini, AGP’s yang dipakai merupakan produk semi sintetis (Hakim, 2005), dalam pakan ternak seringkali tidak murni berasal dari mikroba, tetapi berupa antimikroba yang disintesis secara kimiawi (Cook et al., 1997) sehingga penggunaannya dalam waktu yang lama akan menimbulkan efek resistensi pada bakteri patogen sasaran. 

Donoghue (2003) menjelaskan bahwa residu antibiotik yang masih tersimpan dalam pangan (daging ayam) akan menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia yang mengkonsumsinya. Tepung cacing tanah menjadi salah satu alternatif bahan untuk dijadikan AGP’s alami, karena tepung cacing tanah (TCT) mengandung zat anti bakteri seperti cacing  tanah Eisinia foetida (Lange et al., 1999), Theromyzon tessulatum (Tasiemski et al., 2006), dan Lumbricus rubellus (Cho et al., 1998).

Julendra et al. (2010) melaporkan bahwa penggunaan Tepung Cacing Tanah (TCT)  0,5-1,5% dalam ransum, mampu memperbaiki kesehatan ternak dilihat dari profil darah. Sementara itu, Febrisiantosa (2009)melaporkan bahwa penggunaan tepung cacing tanah pada suplemen pakan untuk ayam pedaging dapat menggantikan peran antibiotik komersial.

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa hasil penelitian diketahui bahwa tepung cacing tanah prosfektif untuk digunakan sebagai bahan pakan sumber protein untuk ternak ayam pedaging, hal ini karena cacing tanah memiliki kemampuan berproduksi yang tinggi dan memiliki kandungan gizi yang baik.

Penggunaan tepung cacing tanah juga dapat mensubstitusi penggunaan tepung ikan sebagai bahan pakan sumber protein sampai tingkat 100%. Penggunaan tepung cacing tanah dalam ransum ayam pedaging sampai 15% menggantikan 100% tepung ikan dalam formulasi ransum tidak memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan ayam pedaging dan preferensi konsumen pada daging ayam yang dihasilkan. (baca juga: MANAJEMEN PAKAN AYAM BROILER)

Daftar Pustaka

Astuti AA. 2001. Kandungan lemak kasar cacing tanah, Lumbricus rubellus, dengan menggunakan pelarut. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Auliah A. 2008.  Pengaruh Umur Terhadap Keragaman Kandungan Asam Amino Cacing Tanah Lumbricuss rubellus. Jurnal Chemica Vol. 9(2): 37-42.

Buckman, Brady NC. 1982. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.

Catalan  IG. 1981. Eartworm A New Source of Protein. Philipine Eartworm Center. Philipina.
Cho JH, Park CB, Yoon YG, Kim SC. 1998. Lumbricin I, a Novel Proline-Rich Antimicrobial Peptide from the Earthworm: Purification, cDNA Cloning and Molecular Characterization. Biochim. Biophys. Acta. 1408 (1): 67–76.

Cook D, Brata D, Szep Z, Dougan J, Nepert D. 1997. Effects of Antibiotics on Animal Feed. Available at http://www.udel.edu/chem/C465/senior/fall97/feed/present.hml.

Damayanti E, Sofyan A, Julendra H, Untari T.2009. The Use of Earthworm Meal (Lumbricus rubellus) as Anti-pullorum Agent in Feed Additive of Broiler Chicken. JITV 14(2): 83–89.
Donoghue, D. J. 2003. Antibiotic residues in poultry tissues and eggs: human health concerns? Poult. Sci. 82:618–621.

Faluty Z. 1994 . Budidaya Cacing Tanah dengan memanfaatkan Jerami, Rumput, Daun-Daunan dan Serbuk Gergaji Sebagai Bahan Tambahan pada Kotoran Ternak. Survai Fakultas Petemakan IPB Bogor.

Febrisiantosa A, Sofyan A, Julendra H, Damayanti E. 2009. Persentase karkas ayam pedaging yang diberi tepung cacing tanah sebagai suplemen pakan pengganti antibiotik. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. hlm: 594-598.

Feighner SD, Daskevicz MP. 1987. Subtheurapeutic Level of Antibiotics in Poultry Feed and Their Effect on Weight Gain, Feed Efficiency, and Bacterial Cholyltaurine Hydrolase Activity . Appl. Environ. Microbiiol. 53:331-336.

Gates GE. 1972. Burmesse Earthworm. Vol. 62. The American Phlocophical Sosiety Independent Square. Philadelphia.

Hakim RS. 2005. Prospek probiotik pada broiler. CP- Bulletin Service, Desember No 72 NI.

Herdian H, Julendra H, Damayanti E, Febrisiantosa A, Istiqomah L, Nurhayati S. 2010.  Antibiotik dari tepung cacing tanah (lumbricus rube/ius) sebagai pemacu pertumbuhan (growth promotor) pada ayam broiler menggunakan metode enkapsulasi.Laporan akhir program insentif peneliti dan perekayasa lipi tahun 2010. UPT. Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Yogyakarta. Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Istiqomah L, Sofyan  A, Damayanti  E, Julendra H. 2009. Amino Acid Profile of Earthworm and Earthworm Meal (Lumbricus rubellus) for Anima Feedstuff. J. Indonesian Trop. Anim. Agric. 34(4): 253–257.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pemanfaatan Tepung Cacing Tanah Dalam Ransum Ayam Pedaging"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel