Nasib Ternak Kerbau di Indonesia Tidak Seberuntung Ternak Sapi


Ternak kerbau dan sapi sebagai komoditas pertanian, digolongkan ke dalam ternak ruminansia besar dan secara sistematika-taksonomis kedua ternak ini sesungguhnya dapat dikategorikan sebagai ternak yang “bersaudara misan”. Walaupun bersaudara misan, nasib diantara keduanya sering tidak sama.

Di negara yang sudah maju sistem peternakannya, seperti misalnya Amerika dan Australia, ternak sapi (pedaging dan perah) mendapat tempat yang luar biasa baik sebagai komoditas pertanian maupun ekonomi, sedangkan ternak kerbau relatif belum begitu diperhatikan (Suhubdy, 2013a,b).

Di India, ternak kerbau dan sapi sama-sama bernasib baik; ternak sapi dipercayai sebagai dewa dan kerbau adalah ternak yang bernilai ekonomis yang menjadikan India berswasembada daging dan susu melalui program “revolusi merah- putih” (Bunyavejchewin, dkk., 1994; Devendra dan Gardiner, 1995).

Di Eropa yang sangat terkenal dengan pengembangan ternak sapinya; negara Italia, memperlakukan ternak kerbau secara uniq. Kerbau menjadi ternak istimewa yang dibudidayakan untuk menghasilkan “mozzarella cheese”, produk ternak kerbau yang mempunyai nilai ekonomi sangat strategis (Borghese, 2013).

Mengikuti pola Italia, di Filipina, nasib kerbau juga lebih baik daripada sapi (Nirnama, 2010). Demikian juga di beberapa negara di kawasan Asia lain seperti China, Banglades, Iran, Mesir; nasib ternak kerbau masih lebih baik daripada sapi.

Bagaimana nasib ternak kerbau dan sapi di Indonesia?

Ternak Kerbau dan Ternak Sapi
Nasib Ternak Kerbau di Indonesia Tidak Seberuntung Ternak Sapi
Ternyata, nasib ternak kerbau juga tidak seberuntung ternak sapi. Sebagai contoh, ketika pasokan dan dinamika harga daging sapi menjadi tidak wajar (dalam logika pemerintah), maka ternak kerbau dijadikan salah satu solusinya (simak kasus pasokan daging kerbau dari India).

Ketika daging kerbau dari India didatangkan untuk menstabilkan pasokan dan harga daging sapi di pasar kota-kota besar (misalnya, Jakarta dan Bandung), ternak kerbau pun ikut disalahkan dengan berbagai tuduhan seperti misalnya harga dagingnya terlalu murah, dagingnya kenyal (tidak empuk), tidak sehat karena bersumber dari negara yang tidak bebas penyakit hewan, tidak cocok untuk dibuat bakso, dan banyak sebutan berkonotasi negatif lainnya.

Walaupun dicercah sedemikian rupa, tanpa  disadari bahwa secara diam-diam kehadiran daging kerbau telah diterima keberadaannya bahkan mungkin hingga sekarang. Instansi Pemerintah (Bulog) yang bertugas mengatur alur dan laju bisnis komoditas pangan strategis di negeri ini -- masih tetap mendatangkan daging kerbau dari India.

Tidak hanya itu, ternyata “Si Sapi” pun juga mendapat berkah dari kedatangan daging kerbau. “Kerbau punya daging/susu, tapi sapi punya nama”, demikian masyarakat sering menyebutnya.

Departemen Pertanian cq Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menjadikan momentum krisis daging ini untuk mengangkat derajat (harkat) ternak sapi di Indonesia dengan mencanangkan program baru yaitu “SIWAB” (= Sapi Induk Wajib Bunting).

Padahal jika disimak dengan pikiran yang cerdas, sudah banyak sekali program yang dilakukan “atas nama ternak sapi”, hingga kini hasilnya relatif nihil alias relatif tidak mencapai target. Peristiwa ini jika disimak secara saksama, dapatlah disimpulkan bahwa kebijakan SIWAB yang diprogramkan oleh pemerintah sekarang ini kurang bijaksana.

Mengapa pemerintah hanya terfokus pada peningkatan populasi ternak sapi saja dan mengapa hal yang sama, misalnya KIWAB (Kerbau Induk Wajib Bunting) tidak dilakukan terhadap Kerbau Indonesia?

Logika berpikir kita memang sering terbalik dan gagal faham. Artinya, jika pemerintah mengijinkan impor daging kerbau dari India dan masyarakat telah terbiasa mengkonsumsinya dan Indonesia juga memiliki ternak kerbau yang populasinya relatif banyak maka seharusnya populasi kerbau kita harus ditingkatkan agar kita tidak mengimpornya dari luar negeri. Ironisnya, program pengembangan ternak kerbau yang sudah diprogramkan, tidak diteruskan lagi.

Polemik tentang hal ini akan saya akhiri sampai disini. Berdasarkan ilustrasi sebelumnya, penulis tidak akan mendikotomikan antara ternak kerbau dan sapi karena mereka bersaudara misan dan sama-sama memiliki potensi sebagai penghasil daging.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak semua pihak di luar sana (peternak, pebisnis, pemerintah, peneliti, ABRI dan semua kalangan) agar beriktiar untuk mempercepat laju tumbuh kembang populasi ternak kerbau di Indonesia.

Salam...
Semoga bermanfaat

Sumber: Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

0 Response to "Nasib Ternak Kerbau di Indonesia Tidak Seberuntung Ternak Sapi"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel