4 Metode Inseminasi Buatan Pada Domba dan Kambing


Inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu bioteknologi reproduksi yang paling banyak digunakan dan telah memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan genetik ternak di seluruh  dunia.

Hingga saat ini, Inseminasi Buatan (IB) merupakan alternatif pilihan yang bisa diterapkan dalam mempercepat program peningkatan kualitas dan penyebaran bibit ternak. Teknologi ini sangat berperan dalam sistem breeding domba maupun kambing, khususnya pada sistem pemeliharaan intensif untuk meningkatkan produksi daging, susu dan jumlah anak sekelahiran disamping mengoptimalkan program seleksi dan sarana untuk mengontrol jumlah kelahiran.

Keuntungan lainnya yaitu meningkatkan populasi, peternak tidak perlu mengeluarkan biaya pemeliharaan pejantan, mendapatkan sumber spermatozoa yang berasal dari pejantan unggul dan menghindari penularan penyakit terutama penyakit kelamin (Hunter, 1995).

Jika dikombinasikan dengan sistem yang tepat dalam evaluasi pejantan (progeny test), IB menawarkan metode yang relatif sederhana dengan biaya murah untuk penyebaran mutu genetik unggul (Leboeuf et al., 2000).

Penerapan IB yang dikolaborasikan dengan sinkronisasi berahi merupakan teknologi kunci untuk mengelola sistem produksi, memungkinkan pengaturan jumlah  perkawinan dan kelahiran kaitannya dengan strategi pemasaran ternakuntuk produksi daging dan susu (Baldassarre & Karatzas 2004).

Keberhasilan IB juga didasarkan pada kemampuan koleksi dan kriopreservasi spermatozoa dari pejantan unggul yang berkualitas untuk digunakan pada ternak betina tanpa dibatasi waktu dan jarak. Penggunaan spermatozoa dari pejantan unggul dan metode IB yang efisien dapat mempercepat proses seleksi dan peningkatan populasi ternak (Amoah & Gelaye 1990).

Inseminasi Buatan (IB) sangat berperan dalam sistem breeding domba dan kambing untuk mengelola  sistem produksi, memungkinkan pengaturan jumlah perkawinan dan kelahiran kaitannya dengan strategi pemasaran ternakuntuk produksi daging dan susu, dikarenakan menawarkan metode yang relatif sederhana dengan biaya murah untuk penyebaran mutu genetik unggul.

Metode IB Pada Kambing dan Domba
4 Metode Inseminasi Buatan Pada Domba dan Kambing

Berikut ini adalah 4 Metode Inseminasi Buatan (IB) yang bisa diterapkan pada ternak domba dan kambing:

#1. Metode Inseminasi Vaginal 

Inseminasi Vaginal merupakan metode inseminasi dimana pendeposisian semen pada  bagian vagina. Metode inseminasi ini biasanya dikombinasikan dengan penggunaan semen segar atau cair baik pada domba maupun kambing.

Inseminasi vaginal pada kambing yang efektif dengan menggunakan semen segar, namun memberikan hasil yang lebih rendah jika dibandingkan dengan semen cair atau beku. Pada kondisi berahi secara alami, ternak betina harus diinseminasi setidaknya 12 jam setelah pengamatan pertama berahi. Jika ternak betina masih menunjukkan tanda-tanda berahi 12 - 24 jam setelah inseminasi disarankan untuk inseminasi ulang.

Metode ini sangat cepat dan mudah dilakukan dalam kondisi lapangan dengan tingkat kebuntingan 30 - 50 %, tapi tidak efisien dalam penggunaan semen. Selain itu, angka konsepsi yang sangat rendah dengan semen beku (5 - 15%) meskipun setelah kontrol berahi secara hormonal.

Inseminasi vaginal dengan tingkat kebuntingan terbaik dilakukan setelah deteksi berahi secara alami selama musim kawin. Cseh et al., (2012) melaporkan waktu yang ideal untuk inseminasi adalah sebelum terjadinya ovulasi (12 - 18 jam setelah munculnya berahi), dengan 0,2 ml volume semen dan konsentrasi spermatozoa motil progresif yang digunakan sebanyak 400x106 spermatozoa.

#2. Metode Inseminasi Cervical

Inseminasi Cervical merupakan metode yang paling sederhana pada ruminansia kecil khususnya  kambing dan domba yaitu dengan pendeposisian spermatozoa melalui serviks menggunakan “Insemination Gun” sehingga semen dapat bergerak langsung ke dalam uterus meskipun kadang sulit dilakukan terutama pada ternak betina muda dikarenakan ukuran dan struktur dari serviks (Halbert et al. 1990).

Meskipun metode ini menawarkan opsi yang lebih cepat dan praktis, namun angka konsepsi yang diperoleh masih rendah terutama bila menggunakan semen beku (Maxwell & Watson 1996). Hal ini dikarenakan terjadinya kapasitasi spermatozoa dini akibat pendinginan (cooling) dan pencairan kembali (thawing) yang mempengaruhi pergerakan spermatozoa dari serviks ke oviduk sebagai tempat terjadinya fertilisasi (Gillan & Maxwell, 1999). Tingkat kebuntingan menggunakan metode ini dengan semen segar berkisar antara 50 - 70% tergantung pada waktu inseminasi (Amoah & Gelaye, 1990; Tuli & Holtz, 1995).

Inseminasi cervical harus dilakukan dalam waktu 24 jam setelah koleksi semen untuk mendapatkan tingkat kebuntingan yang tinggi. Akan tetapi dalam situasi tertentu, spermatozoa domba dan kambing yang disimpan pada 5°C masih dapat digunakan untuk inseminasi cervical hingga 3 hari setelah koleksi.

Oleh karena anatomi reproduksi pada domba dan kambing yang eksentrik, maka metode ini menggunakan dosis inseminasi dengan volume 0,25 ml mengandung jumlah spermatozoa yang relatif besar (deposisi pada ujung vagina: 400x106 spermatozoa; deposisi pada serviks: 200x106 spermatozoa) (Chemineau et al., 1991; Salamon & Maxwell, 1995).

Penggunaan semen segar atau cair pada metode ini setelah kontrol berahi secara hormonal  diperoleh tingkat kebuntingan sebesar 40 - 80% (Chemineau et al., 1991). Waktu yang ideal untuk inseminasi adalah 55 jam setelah pencabutan hormon progesteron intravaginal atau 15 - 17 jam setelah munculnya berahi.

Jika inseminasi akan dilakukan sebanyak 2 kali, maka inseminasi cervical dilakukan 50 dan 60 jam setelah pencabutan progesteron intravaginal. Penggunaan semen beku  dengan metode ini sangat terbatas dikarenakan tingkat kebuntingan yang rendah (25 - 35 %).

Namun saat ini dengan teknik inseminasi cervical dan metode kriopreservasi yang semakin berkembang, tingkat kebuntingan dapat mencapai 60% (Anel et al., 2005; Paulenz et al., 2005). Volume dan konsentrasi spermatozoa motil yang disarankan untuk metode ini masing-masing 0,2 ml dan 200x106 spermatozoa (Cseh et al., 2012).

Inseminasi pada kambing menggunakan semen segar menghasilkan tingkat fertilisasi yang tidak jauh berbeda dengan kawin alam. Tingkat kebuntingan setelah inseminasi cervical dengan semen beku - cair lebih tinggi pada kambing dibandingkan domba, tapi masih belum memuaskan.

Pada kambing, jumlah betina yang diinseminasi dengan metode cervical berbeda nyata (50 - 60%) dibandingkan inseminasi intrauterin, dikarenakan bagian serviks kambing relatif lebih mudah dilewati (Nuti, 2007). Dalam kondisi sinkronisasi berahi, waktu optimal IB tunggal (semen cair atau beku) adalah 45 jam setelah pencabutan spons, sementara IB ganda harus dilakukan 30 dan 48 jam setelah pencabutan spons (Cseh et al., 2012).

#3. Metode Inseminasi Transcervical Intrauterin

Metode Inseminasi Transcervical Intrauterin merupakan metode alternatif yang mulai  dikembangkan karena memungkinkan pendeposisian spermatozoa kedalam tanduk uterus (Radcliffe et al.,2004; Sohnrey dan Holtz, 2005). Namun, proses manipulasi kateter melalui serviks pada saat inseminasi dapat mengakibatkan penurunan tingkat kebuntingan, berkaitan dengan terjadinya trauma serviks dan stimulasi vagina/serviks yang disebabkan oleh kateterisasi sehingga mengakibatkan gangguan pada tahap awal proses kebuntingan (Parkinson, 2009).

Perry et al., (2010) melaporkan bahwa aplikasi inseminasi intracervical menggunakan semen dengan pengencer yang mengandung Hyaluronan 52 jam setelah pencabutan spons dapat meningkatkan relaksasi serviks, meningkatkan penetrasi serviks dan mendukung inseminasi transcervical pada domba. 

Prosedur inseminasi transcervical bisa lebih sederhana dengan pendeposisian spermatozoa hanya pada salah satu tanduk uterus. Volume dan konsentrasi spermatozoa motil yang digunakan masingmasing 0,5 ml dan 200x106 spermatozoa. Inseminasi transcervical intrauterin pada kambing sangat mirip dengan domba, namun jauh lebih sederhana.

Tingkat kebuntingan yang diperoleh melalui metode ini masih rendah dibandingkan inseminasi laparoskopi (semen segar: 40-80%, semen beku:30 - 70%). Konsentrasi spermatozoa motil yang diperlukan minimal sebanyak 60 x 106 per dosis IB dengan waktu optimal inseminasi antara 49 - 65 jam setelah pencabutan spons progesterone (Cseh et al., 2012).

Sohnrey dan Holtz (2005) melaporkan bahwa pendeposisian spermatozoa ke dalam tanduk uterus dengan metode transcervical diperoleh tingkat kebuntingan yang hampir sama dengan metode laparoskopi yaitu sebesar 71%. Kelemahan metode ini yaitu dapat melukai dinding serviks, abses dan infeksi sehingga mengakibatkan rendahnya tingkat kebuntingan domba dan kambing.


#4. Metode Inseminasi Laparoskopi Intrauterin

Inseminasi Laparoskopi merupakan metode inseminasi dengan pendeposisian semen secara  intrauterin menggunakan laparoskop. Metode ini pada domba betina tidak diragukan lagi paling nyata terlihat perkembangannya pada beberapa tahun terakhir. Metode ini dikembangkan untuk mengatasi beberapa kesulitan pada metode inseminasi vaginal atau cervical.

Metode inseminasi laparoskopi intrauterin menggunakan semen beku menghasilkan tingkat fertilitas yang lebih tinggi dibandingkan inseminasi transcervical (Radcliffe et al. 2004) atau cervical (King 2004). Metode ini melibatkan penggunaan laparoskop untuk membantu didalam pendeposisian spermatozoa baik segar maupun beku-cair langsung ke uterus dengan tingkat keberhasilan >80% (Amoah & Gelaye, 1990).

Fair et al., (2005) melaporkan bahwa inseminasi laparoskopi intrauterin dengan semen beku diperoleh tingkat kebuntingan mencapai 40 - 62 %, sedangkan dengan semen segar sebesar 70 - 80 % (Hill et al. 1998). Jumlah spermatozoa dan volume yang diperlukan untuk setiap inseminasi lebih sedikit dengan tingkat kebuntingan yang lebih tinggi meskipun dengan penggunaan semen beku.

Tingkat kebuntingan yang diperoleh dengan metode ini lebih tinggi (60 - 80%) dibandingkan inseminasi cervical menggunakan semen beku dan hampir sama dengan perkawinan alami setelah kontrol berahi secara hormonal (Shipley et al., 2007; Parkinson, 2009).

Dalam kondisi kontrol berahi secara hormonal, waktu ideal inseminasi laparoskopi intrauterin pada domba antara 60-65 jam setelah pencabutan spons progesteron dengan volume dan konsentrasi spermatozoa motil yang diperlukan masing-masing 0,5  ml dan 20x106 spermatozoa (Parkinson,2009).

Sedangkan pada kambing, inseminasi laparoskopi intrauterin menggunakan volume dan konsentrasi yang sama seperti pada domba, dengan waktu ideal inseminasi antara 43 - 46 jam setelah pencabutan spons progesteron. Berger et al., (1994) melaporkan bahwa dosis efektif semen segar yang digunakan untuk inseminasi laparoskopi adalah sekitar 2x107 spermatozoa.

Tingkat kebuntingan yang sama diperoleh melalui inseminasi laparoskopi dengan konsentrasi spermatozoa setengah dari dosis inseminasi cervical (1x108). Terlepas dari dosis spermatozoa yang digunakan untuk inseminasi, deposisi semen beku pada bagian tanduk uterus menggunakan laparoskop menghasilkan tingkat fertilisasi yang sama (Eppleston & Maxwell, 1995).

Inseminasi laparoskopi intrauterin menggunakan semen beku dengan konsentrasi 15 x106 spermatozoa diperoleh tingkat kebuntingan sebesar 48,6% (De Graaf et al., 2007), sedangkan Beilby  et al., (2009) melakukan penelitian inseminasi dengan laparoskopi intrauterin menggunakan semen beku dosis 1x106 maupun 15x106 spermatozoa diperoleh tingkat kebuntingan sebesar 49%.

Kekurangan dari metode ini mencakup persyaratan peralatan laparoskopi yang canggih, kinerja operasi invasif dan tenaga teknis yang terampil untuk melakukan prosedur inseminasi laparoskopi. Teknik terbaru menyarankan pendeposisian spermatozoa dikedua tanduk uterus tanpa memperhatikan siklus ovulasi. Namun, hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata dalam hal tingkat kebuntingan dari pendeposisian spermatozoa pada satu maupun kedua tanduk uterus (Cseh et al., 2012).

Pendeposisian spermatozoa pada salah satu tanduk uterus melalui inseminasi laparoskopi menggunakan semen beku dianggap sederhana dan cepat sehingga digunakan dalam beberapa peternakan domba atau kambing komersial (Perkins et al., 1996).

Demikianlah informasi dan uraian singkat 4 Metode Inseminasi Buatan Pada Domba dan Kambing yang bisa kita pelajari bersama. Aplikasi teknologi Inseminasi Buatan Pada Ternak Domba/Kambing belum sepopuler pada ternak sapi dan masih menghadapi berbagai kendala sehingga menghasilkan angka kebuntingan yang masih rendah.

Rendahnya angka kebuntingan disinyalir akibat pendeposisian semen hanya di sekitar vagina dan ketidakmampuan sperma menembus serviks sehingga hanya sedikit sperma yang mampu mencapai tempat pembuahan yang menyebabkan terjadinya kegagalan kebuntingan. Berbagai alasan tentang sulitnya mendeposisikan semen yang lebih jauh diantaranya ukuran dan struktur tulang serviks bagian luar yang rigid serta bentuk saluran serviks yang eksentrik (Radcliffe et al. 2004). (baca juga: Langkah - Langkah Pelaksanaan Inseminasi Buatan Pada Ternak)

Semoga bermafaat...

Sumber:
Cseh, S., V. Faigl and G.S. Amiridis. 2012. Semen processing and artificial insemination in health management ofsmall ruminants. Anim. Reprod. Sci. 130:187– 192.

Halbert, G., H. Dobson, J. Walton and B. Buckrell. 1990. The structure of the cervical canal of theewe. Theriogenology33:977–992.

Maxwell, W.M.C. and P.F. Watson. 1996. Recent progress in the preservation of ram semen. Anim. Reprod. Sci. 42:55-65.

Nuti, I., 2007. In: Youngquist, R.S., Threlfall, W.R. (Eds.), Current Therapy in Large Animal Theriogenology. , 2nded. Saunders-Elsevier, St. Louis, MO, pp. 529–534.

Radcliffe, M.C.W., S. Wang and G.S. Lewis. 2004. Transcervical artificial insemination in sheep: effect of a new transcervical artificial insemination instrument and traversing the cervix on pregnancy and lambing rates. Theriogenology 62:990-1002.

0 Response to "4 Metode Inseminasi Buatan Pada Domba dan Kambing"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel