MANFAAT PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA TERNAK RUMINANSIA


PROBIOTIK

Probiotik adalah mikroba hidup yang jika diberikan dalam jumlah yang cukup akan memberikan efek menguntungkan terhadap kesehatan inang (FAO/WHO 2002). Efek menguntungkan tersebut antara lain menjaga keseimbangan mikrobiota usus, menstabilkan fungsi pertahanan saluran pencernaan (Salminen et al. 1996), ekspresi bakteriosin, aktivitas enzimatik yang menginduksi absorpsi dan nutrisi, efek imunomodulasi, penghambatan enzim prokarsinogenik, dan mencegah kemampuan patogen untuk mengkolonisasi mukosa usus (Gill 2003).
PROBIOTIK TERNAK
Manfaat Penggunaan Probiotik Pada Ternak Ruminansia
Di bidang peternakan, penggunaan probiotik dilaporkan mempunyai efek menguntungkan (Wiryawan dan Brooker 1995; Janah et al. 2015; Novita et al. 2015) terutama dalam:

Meningkatkan pertumbuhan;

Meningkatkan efisiensi penggunaan pakan;

Menjaga kesehatan (terutama pencegahan terhadap gangguan saluran pencernaan pada hewan muda);

Menurunkan kontaminasi karkas;

Mencegah asidosis

Meningkatkan produksi susu;

Menurunkan mortalitas/morbidity;

Meningkatkan kecernaan, serta mencerna faktor-faktor antinutrisi dan toksin yang ada pada pakan seperti inhibitor tripsin, asam fitat, tanin, sianida, mimosin, asam oksalat, glukosinolat, diamino-butyric acid, dan lain sebagainya.

Mikroba yang sering digunakan sebagai probiotik berasal dari kelompok bakteri asam laktat (BAL) seperti Lactobacillus, Bifodobacteria, Leuconostoc, Pediococcus, Lactococcus, Streptococcus, Enterococcus (Mattu & Chauchan 2013; Vargas-Rodriguez et al. 2013; Suardana et al. 2007; Jannah et al. 2015; Hamida et al. 2015). Lactobacillus merupakan genus dari kelompok bakteri asam laktat yang sering digunakan sebagai probiotik. 

Lactobacillus sangat bervariasi yang terdiri atas lebih dari 100 spesies yang berbeda merupakan bagian penting dari mikrobiota saluran pencernaan normal pada manusia dan hewan. BAL telah lama digunakan sebagai probiotik dalam fermentasi makanan, produk susu, dan pakan.

Selain itu BAL telah dikenal berperan penting bagi kesehatan manusia dan hewan. BAL digunakan sebagai probiotik untuk meningkatkan mikrobiota normal usus inangnya karena kemampuannya menghasilkan berbagai zat antimikrob termasuk asam laktat, alkohol, karbondioksida, diasetil, hidrogen peroksida, bakteriosin, dan metabolit lainnya.

Aktivitas penghambatan BAL terhadap mikrob patogen dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

(1) Kompetisi zat makanan di dalam saluran pencernaan: dengan terbatasnya zat makanan yang tersedia buat patogen maka pertumbuhan dan aktivitasnya akan terhambat;

(2) Produksi satu atau lebih metabolit antimikrob, antara lain:

(a) Asam organik seperti asam laktat, asetat, dan propionat merupakan senyawa antimikroba yang telah digunakan secara luas dalam menjaga keamanan pakan dan makanan. Lingkungan asam yang dihasilkannya akan menghambat pertumbuhan mikrob patogen dan pembusuk;

(b) Metabolit lain yang dihasilkan oleh BAL adalah hidrogen peroksida yang merupakan pengoksidasi kuat yang dapat merusak sel;

(c) Diasetil, dihasilkan beberapa spesies BAL dari genus Lactobacillus, Leuconostoc, Pediococcus, dan Streptococcus; diasetil dibentuk melalui metabolisme sitrat, bersifat antibakteri terhadap bakteri gram positif dan negatif; serta

(d) Bakteriosin merupakan antimikroba peptida yang disintesis oleh ribosom dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang sejenis.

Mekanisme kerja BAL yang ketiga adalah meningkatkan peran epitel saluran pencernaan (barrier functions) untuk melawan patogen, yaitu bersaing dalam mendapatkan reseptor pada permukaan saluran pencernaan sehingga jika reseptor sudah dikuasai BAL, kesempatan bakteri patogen untuk melakukan kolonisasi akan terbatas sehingga pemberian BAL pada ternak yang masih muda sangat dianjurkan karena mikrobiota saluran pencernaan belum berkembang dengan baik.

Beberapa penelitian in vitro menggunakan probiotik lactobacilli dan bifidobacteria dapat menghambat ikatan antara patogen (S. Thypimurium dan EHEC) dengan sel-sel epitel usus (Larsen et al. 2007; Lehto dan Salminen 1997).

Mekanisme kerja keempat dari BAL adalah merangsang sistem kekebalan induk semang (immunomodulation), di mana dengan pemberian BAL akan meningkatkan produksi sitokin yang berhubungan dengan sistem kekebalan. Penggunaan L. plantarum NCIMB8826 mutant menunjukkan efek proinflammatory berupa sekresi IL-10 yang lebih tinggi dibanding tetuanya.

Di samping peran BAL sebagai antimikrob, dalam bidang peternakan peran BAL dapat lebih dielaborasi yaitu sebagai penghasil enzim yang dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan zat makanan, menurunkan kandungan kolesterol produk ternak, dan sebagai penghasil zat makanan yang defisien dalam ransum.

Keberhasilan penggunaan BAL sebagai probiotik sangat ditentukan oleh jumlah dan viabilitas bakteri yang sampai di usus sehingga sebelum BAL bisa digunakan sebagai probiotik perlu dilakukan serangkaian pengujian seperti ketahanan terhadap kondisi asam lambung, ketahanan terhadap garam empedu, kemampuan bakteri mengenali reseptor yang ada di mukosa usus, serta kemampuan antagonisme melawan patogen yang biasa menginfeksi saluran pencernaan. Kemampuan BAL melawan patogen bisa diuji dari produk metabolit yang dihasilkan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.

Di samping itu, probiotik yang akan digunakan harus mampu bertahan hidup dalam proses pembuatan pakan, penyimpanan, dan toleran terhadap feed additive lainnya. WHO juga mensyaratkan bahwa probiotik yang akan digunakan harus diidentifikasi secara biokimia dan genetik, untuk mencegah kemungkinan pengaruh negatif dari probiotik yang digunakan.


PROBIOTIK PADA TERNAK RUMINANSIA

Probiotik pada ternak ruminansia berperan dalam menurunkan penggunaan antibiotik pada ternak yang baru lahir dan ternak yang mengalami stres, meningkatkan produksi susu, mencegah asidosis rumen, memperbaiki konversi pakan, meningkatkan Competitive Exclusion (CE) terhadap enteropatogen, dan untuk mempercepat stabilisasi mikrobiota saluran pencernaan pada ternak ruminansia yang baru lahir.

Jadi penggunaan probiotik pada ternak ruminansia ditujukan untuk melindungi ternak muda dari stres akibat penyapihan, pengangkutan, vaksinasi, kastrasi, dan pemotongan tanduk; dan untuk ternak ruminansia dewasa ditujukan untuk mencegah terjadinya kelainan metabolisme seperti asidosis, meningkatkan efisiensi penggunaan energi pakan melalui penurunan produksi gas metana, serta mengurangi pengaruh negatif dari adanya toksin dan antinutrisi pada pakan.

Pada ternak ruminansia, di samping penggunaan BAL juga digunakan probiotik yang berasal dari kapang (Aspergillus oryzae, Rhizopus oryzae) dan ragi (Saccharomyces cerevisiae). Ragi dan produk mengandung ragi sudah lama digunakan dalam pakan ternak ruminansia sebagai sumber energi dan protein (Eckles dan Williams 1925; Carter dan Phillips 1944), tetapi sejak akhir tahun 1980-an penggunaan ragi sangat meningkat yang dianalogkan dengan probiotik untuk meningkatkan fungsi saluran pencernaan. S. cerevisiae dan A. oryzae sudah lama digunakan oleh manusia untuk membuat makanan dan minuman sehingga aman diberikan pada ternak.

Probiotik dari kapang dan ragi berpengaruh terhadap fermentasi rumen sehingga dikelompokkan sebagai rumen modifiers yang bisa digunakan sebagai pengganti antibiotik ionophores (seperti monensin) yang berperan sebagai rumen modifiers terutama di industri feedlot sapi potong.

Mekanisme kerja dari ragi dan kapang yaitu mampu memperbaiki kondisi lingkungan rumen dengan memanfaatkan oksigen (yang secara tidak sengaja tertelan bersama dengan pakan dan air minum atau dalam proses regurgitasi) sehingga menciptakan lingkungan rumen yang lebih anaerob yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan aktivitas mikrobiota rumen.

Di samping itu, pemberian ragi dan kapang mampu meningkatkan penggunaan asam laktat dalam rumen sehingga mencegah penurunan pH rumen serta meningkatkan populasi dan aktivitas mikrobiota rumen. Peningkatan populasi dan aktivitas mikrobiota rumen mengakibatkan peningkatan kecernaan pakan dan produksi protein mikrob rumen sehingga produksi ternak meningkat. (baca juga: Perbedaan Ternak Ruminansia dan Non Ruminansia)

Sumber:

Eckles CH, VM Williams. 1925. Yeast as a supplementary feed for lactating cows. J. Dairy Sci. 8: 89–93. Eggum OL. 1970. The protein quality of cassava leaves. Brit. J. of Nutr. 24: 761–769.

Gill HS. 2003. Probiotics to enhance anti-invective defences in the gastrointestinal tract. Best Practice and Research Clin. Gastroenterolog. 17: 755–773.

Larsen N, P Nissen, WG Willats. 2007. The effect of calcium ions on adhesion and competitive exclusion of Lactobacillus spp. and E. coli O138. Int J Food Microbiol. 114: 113–119.

Mattu B, A Chauchan. 2013. Lactic acid bacteria and its use in probiotics. J. Bioremed. Biodeg. 4:e-140. Doi: 10.4172/2155-6199.1000e140

Salminen S, E Isolauri, E Salminen. 1996. Clinical uses of probiotics for stabilizing the gut mucosal barrier: successful strains and future chalanges. Antonie van Leeuwenhoek. 70: 347–358.

Wiryawan KG, JD Brooker. 1995. Probiotic control of lactate accumulation in acutely grain-fed sheep. Austral. J. of Agric. Res. 46 (8): 1555–1568.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MANFAAT PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA TERNAK RUMINANSIA"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel