Makalah Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak kerbau dan sapi adalah ternak ruminansia besar yang peran dan fungsinya sangat signifikan dalam masyarakat Indonesia. Kedua ternak ruminansia ini menjadi sumber pangan dan protein hewani bermutu prima. Laju tumbuh kembang populasinya fluktuatif dan dinamis. Di wilayah tertentu di Indonesia, populasi ternak sapi lebih banyak dibanding ternak kerbau. Demikian sebaliknya. 
Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia
Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia
Banyak terobosan pemerintah yang sudah dilakukan untuk pengembangan ternak kerbau dan sapi di Indonesia. Namun pada kenyataannya masih terfokus pada pengembangan ternak sapi saja terutama sapi pedaging. Sejak tahun 2009 hingga sekarang kebijakan program swasembada daging sapi (PSDS) masih berlangsung.

Akan tetapi program tersebut belum banyak membawa dampak bahkan dibeberapa kawasan hal itu berefek negatif terhadap perkembangan ternak lainnya (Suhubdy, 2013a; Suhubdy dkk., 2017b; Cottle dan Kanh, 2014). Belum tuntasnya satu program dilaksanakan, sudah datang lagi program yang baru. (baca juga: Arah Kebijakan Nasional Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi)

Apapun kondisinya, kedua ternak ini harus dipacu perkembangannya. Variasi agroekosistem dari habitat, genetik dan sistem faali keduanya menjadi faktor yang harus dikalkulasikan dalam upaya melakukan terobosan untuk mengembangkannya.

Tujuan Penulisan

Berangkat dari masalah di atas, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk merumuskan tentang berbagai strategi yang mungkin pantas dan layak dilaksanakan untuk mempercepat laju perkembangan populasi ternak kerbau dan sapi di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN


Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia

Perlu dicatat bahwa ternak kerbau dan sapi di Indonesia tidak akan pernah dapat dikembangkan untuk mencapai populasi maksimal jika masih mengharapkan dan mengandalkan peternakan rakyat. Disamping karena jumlah pemilikan yang relatif sedikit (3 - 4 ekor / peternak) juga disebabkan oleh manajemen yang diterapkan masih bersifat tradisional (Suhubdy, 2013a dan 2013b).

Oleh karenanya, ternak kerbau dan sapi hanya mungkin dapat dikembangkan jika manajemen pemeliharaan dan pengelolaan harus dilakukan secara komersial (Taylor dan Field, 1999; Phillips, 2001; Cottle dan Kanh, 2014; Suhubdy, dkk., 2017a dan 2017b). Selama ini para pengusaha ternak sapi hanya mau berusaha pada usaha penggemukan (Feedlot) dari ternak yang diimpor. Hampir tidak ada diantara mereka kecuali peternak rakyat yang mau berusaha dibidang pembibitan (cow-calf production). Sebagai akibatnya, laju pertumbuhan populasi ternak ruminansia relatif lamban.

Jika Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia yang dijelaskan dalam makalah ini dapat direalisasikan maka pengembangan ternak kerbau dan sapi di Indonesia dapat diorganisir secara cerdas dan simultan.

Model - model pengembangannya dapat dilakukan dengan merevitalisasi program yang sudah pernah dilaksanakan dan/atau mengembangkan strategi baru yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mutakhir yang berorientasi pada upaya mempercepat tumbuhkembangnya populasi ruminansia besar secara menyeluruh.

Berikut ini adalah jabaran skenario Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia:

2.1 Fetal Programming

Fetal programming ini sesungguhnya upaya mengatur memtumbuhan ternak ketika masih dalam fase janin. Program pengembangbiakan dengan metode ini sesungguhnya adalah metode perbaikan gizi pada saat fase pertumbuhan sejak di dalam rahim ternak. NRC (2016) menyatakan bahwa kebutuhan nutrien ternak dipengaruhi oleh bangsa, jenis kelamin, iklim, dan funsi fisiologinya.

Secara anatomi-fisiologi, ternak yang sedang bunting membutuhkan jumlah asupan zat gizi yang ekstra dibanding dengan yang tidak dalam fase reproduksi. Sekarang ini menjadi objek riset yang sangat penting dan efektif untuk mengatur zat gizi yang berefek langsung kepada peningkatan berat lahir dan efek efigenetik setelah ternak itu lahir memasuki perkembangan di luar rahim (Greenwood, dkk., 2010; Greenwood, dkk., 2017; Du, dkk., 2017).

Pendekatan ini tidak sulit dilakukan. Para peternak dan/atau peneliti dapat melakukannya dengan menambah jumlah asupan zat gizi terutama pada fase (3 bulan) kebuntingan akhir. Strategi supplementasi pakan juga efektif jika dilakukan pada saat seperti ini. Fetal programming merupakan area riset yang sangat strategis dan belum banyak dilakukan di Indonesia.


2.2 Aplikasi Bioteknologi di Bidang Nutrisi

Pendekatan genomics dalam mengembangkan ternak sudah menjadi trend (Yadav, dkk., 2010). Produksi ternak ruminansia selain perbaikan genetik juga telah dilakukan revolusi dalam bidang nutrisi. Misalnya, dengan melakukan manipulasi rumen. Teknologi ini telah dapat meningkatkan feed intake, metabolism zat gizi, yang pada gilirannya dapat mempercepat pertumbuhan (Suhubdy, 2016).

Identifikasi jenis dan dinamika mikroba dan manipulasi rumen terutama terhadap ternak lokal perlu mendapat perhatian yang serius. Selama ini, terobosan revolusi pakan ruminansia masih berorientasi pada hasil kajian yang dilakukan di negara maju (Vercue, dkk., 2010; Kundu, dkk., 2012). Upaya mengenali tanaman pakan dan/atau tetumbuhan liar yang berpotensi sebagai penyedia bahan kimia yang dapat digunakan untuk memanipulasi kondisi rumen perlu kiranya diseriusi.

2.3 Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi Berbasis Padang Penggembalaan

Pemeliharaan ternak kerbau dan sapi pada umumnya dilakukan dengan sistem pemberian pakan berdasarkan cut-and-carry. Dengan metode seperti ini sudah hampir pasti bahwa jumlah dan mutu pakan relatif rendah. Eksploitasi padang rumput dan/atau rangeland di negara kita untuk kepentingan pengembangan ruminansia pedaging dan perah masih relatif jarang.

Padahal potensi lahan dan kawasan untuk padang penggembalaan sangat luas (simak di Kalimantan, Irian, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara). Sebagai contoh nyata, pembangunan padang rumput di Padang Mangatas (Sumbar) telah mampu membawa dampak pada pengembangan peternakan sapi yang dipelihara disana. Diperlukan upaya yang lebih tegas untuk menduplikasi “Padang Mangatas” ke lokasi lain yang setara di Indonesia. (baca juga: Makalah Tatalaksana Pengembangan Padang Penggembalaan)

2.4 Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi berbasis Aspek Kearipan Lokal

Banyak sekali modal kearifan lokal yang belum dimanfaatkan untuk pengembangan ternak ruminansia di Indonesia. Di pulau Lombok, sistem pemeliharaan berbasis kandang kelompok/komunal relatif sangat berhasil untuk meningkatkan performans dan populasi sapi bali.

Metode “posyandu ternak sapi” yang dikembangkan oleh Konsorsium Ruminansia Besar (KRB) Fakultas Peternakan Unram (Dahlanuddin, perscom) telah melahirkan revolusi produksi dan reproduksi terhadap pengembangan sapi bali di NTB. Strategi peningkatan produktivitas sapi bali di Indonesia Timur dapat disimak lebih lanjut dalam Entwistle dan Lindsay (2003). Selain dari itu, Suhubdy, dkk. (2012) juga memnafaatkan kearifan lokal Suku Samawa di Kabupaten Sumbawa dalam memelihara dan mengembangkan ternak kerbau sumbawa.

Sistem pemuliabiakan kerbau sumbawa yang dinamakan dengan “Kebo-Samawa Bersistem” (Sabalong-Samalewa Breeding System). Sistem ini terdiri dari 4 pilar yaitu: (1) Lar-Oriented Breeding System; (2) Farmer-Group-Oriented Breeding System; (3) Nucleous Estate - Oriented Breeding System; dan (4) Accredited Stock Family Line - Oriented Breeding System.

Keempat sistem breeding ini telah dapat mempertahankan eksistensi dan kualitas bibit dan produk kerbau sumbawa sebagai komoditas andalan Kabupaten Sumbawa. Pemanfaatan aspek kearifan lokal ini dapat pula dikembangkan di daerah lain misalnya produksi dadiah di Sumatera Barat, belis di Sumba (NTT), dan acara rambu solo di Tana’ Toraja (Sulsel), dll. Identifikasi jenis kearifan lokal yang berkaitan dengan kehidupan ternak perlu dilakukan kajian ilmiah yang serius dan mendalam.

2.5 Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi berbasis Integrasi Tanaman pangan dan/atau Perkebunan

Pola integrasi ternak dan tanaman pangan dan perkebunan bukanlah program yang baru (Fagi, dkk., 2009). Hanya saja, dari sekian banyak program yang telah dilakukan hasilnya masih relatif kurang berhasil. Integrasi sapi-sawit yang telah dikembangkan di beberapa PT Perkebunan besar di wilayah Pulau Sumatera masih belum tuntas.

Pengamatan penulis di salah satu perkebunan di Provinsi Jambi membuktikan bahwa metode integrasi sapi-sawit masih bermasalah. Sapi bali yang diikutkan dalam program tersebut tidak bertumbuh sesuai dengan harapan karena mereka diberi makan dari pelapah dan daun sawit yang dicincang dengan mesin tanpa ada pakan suplemen lainnya.

Padahal tumpang sari sapi-sawit dilakukan dengan harapan sapi dapat memanfaatkan hijuan yang tumbuh di lahan sawit dan limbah pengolahan biji sawit sebagai pakan konsentrat. Namun hal ini tidak dilakukan. Selain itu, yang menjadi kendala bahwa kehadiran ternak masih dianggap sebagai pembawa hama (battle dung dianggap hama penggerek batang) ke  kebun sawit. (baca juga: Makalah Sistem Pertanian Terintegrasi)

Jika sapi-sawit tetap menjadi alternatif budidaya maka diperlukan perbaikan sistem pakan dan orientasi pemilik kebun. Limbah sawit seperti bungkil sawit dll yang mepunyai nilai gizi relatif baik perlu diberikan kepada kerbau/sapi agar diperoleh gizi yang prima dan ternak dapat bertumbuh secara optimal. Demikian juga dengan integrasi dengan tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, dll) perlu dilakukan dengan sistem yang benar dan bermartabat.

2.6 Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi Terintegrasi Dengan ABRI dan Pulau Terdepan dan/atau Wilayah Perbatasan NKRI

Melalui kesempatan ini saya mengusulkan agar pemerintah melakukan “Transmigrasi Ruminansia-ABRI” ke wilayah perbatasan NKRI. Hal ini belum pernah dilakukan. Banyak sekali pulau-pulau terdepan wilayah NKRI yang belum mempunyai “nama dan penghuni”.

Jika usul ini disetujui, maka pelepasan ruminansia atau herbivora lainnya akan berdampak pada pengembangan ekonomi dan keamanan yang strategis. ABRI memiliki otoritas dan fasilitas yang memadai untuk mengelolah wilayah perbatasan. Misalnya, jika salah satu pulau tak berpenghuni ditransmigrasikan sekawanan ternak kerbau/sapi dengan ratio jantan : betina = 1:20 ekor, dengan keyakinan bahwa pasti ada diantara mereka yang bertahan hidup.

Pulau yang belum bernama ini, secara langsung dapat dinamakan dengan nama jenis ternak yang dilepas di atasnya. Dalam kasus ini, namanya menjadi “Pulau Kerbau”. Jika ternak yang dilepas ini berubah menjadi hewan liar (wildlife) maka kemudian pulau ini akan menjadi “area game hunting“yang menarik dan selanjutnya akan menjadi lokasi wildlife-agrowisata yang potensial.

Untuk itu, diperlukan kesefahaman dan kesepakatan kerjasama antara Deptan, Dephan, dan Pemerintah daerah setempat. Demikian seterusnya. Jika ini dapat direalisasikan maka akan tercipta pola integrasi antara Ternak – Tentara – dan Teritori.

BAB III

PENUTUP


Demikian 6 skenario Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia yang mungkin dapat diterima dan dilaksanakan sebagai bagian integral dari pembentukan National Ruminant Breeding and Beef Industry Plan di Indonesia. Berhasil atau tidak semua ikhtiar yang dikembangkan sangat bergantung kepada keseriusan dan political will dari pemangku kepentingan dan insan peternakan di negeri untaian zamrud khatulistiwa yang gema ripah loh jinawi ini. (baca juga: Nasib Ternak Kerbau di Indonesia Tidak Seberuntung Ternak Sapi)

DAFTAR PUSTAKA


Baharsjah, S., Kasryno, F. dan Pasandaran, E. 2014. Reposisi Politik Pertanian: Meretas Arah Baru Pembangunan Pertanian. Yayasan Pertanian Mandiri (TAPARI), Jakarta.

Dirjen PKH. 2016a. Grand Desain Pengembangan Sapi dan Kerbau Tahun 2045. Dirjen PKH, Deptan RI, Jakarta.

Dirjen PKH. 2016b. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan-2016. Dirjen PKH, Deptan RI, Jakarta.

Fagi, AM., Subandriyo,. dan Rusastra, IW. 2009. Sistem Integrasi Ternak Tanaman: Padi-Sawit-kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Balitbangtan, Bogor.

Kementan. 2014. Strategi Induk pembangunan Pertanian Indonesia 2015-2045: Pertanian-Bioindustri Berkelanjutan Solusi Pembangunan Indonesia Masa Depan. Kemeterian Pertanian RI, Jakarta.

Greenwood, P., Clayton, E. dan Bell, A. 2017. Developmental programming and beef production. Animal Frontier, 7 (3): 5-11.


Greenwood, PL., Bell, AW., Vercoe, PE. Dan Viljoen, GJ. [Editors]. 2010. Managing the Prenatal Environment to Enhance Livestock Productivity. Joint Publication IAEA dan Springer, Dordrecht, The Netherlands.


Sumber:
Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau 4 - 5 Oktober 2017

0 Response to "Makalah Strategi Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel