Kajian Terhadap Program Riset dan Pengembangan Peternakan di Indonesia

Artikel kali ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang : "Arah Kebijakan Nasional Pengembangan Ternak Kerbau dan Sapi di Indonesia", dimana yang kita tahu bersama bahwa kebijakan pengembangan peternakan yang dilakukan oleh pemerintah hanya terfokus pada ternak sapi saja.

Untuk mengembangkan peternakan secara keseluruhan dan khususnya pada pengembangan ternak ruminansia, pemerintah Indonesia cq Departemen Pertanian telah banyak membangun fasilitas di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Mulai dari Pusat penelitian pengembangan peternakan di Bogor, Pusat-pusat Inseminasi Buatan (IB) dan pengelolaan Semen Beku, Balai Emberio Transfer (ET), Pusat Pengembangan Ternak Unggul, Pusat Kesehatan Ternak dan Obat Hewan, Pusat Hijauan Pakan Ternak dan Ternak Unggul, serta diikuti oleh program-program sampingan dari beberapa Sub - Direktorat di lingkup Dirjen PKH.
Pengembangan Peternakan di Indonesia
Pengembangan Peternakan di Indonesia
Namun, jika kita jujur mengakuinya, hampir semua program ini relatif tidak bekerja secara berkesinambungan dan masih mempertahankan ego masing-masing sektor (simak Muladno, 2016; 2017). Semua program yang dilakukan masih berorientasi pada proyek dan ketuntasan administrasi, bukan pada hasil akhir yang mensejahterakan ternak dan peternak.

Belum ada satu program yang secara nasional terfokus pada pengembangan ternak besar maupun kecil yang mempunyai Master Plan yang komprehensif dan dinamis serta melibatkan pihak lain yang berkepentingan dalam upaya pengadaan dan swasembada pangan hewani. Hal ini menjadi catatan penting yang harus dimaknai dan dievaluasi oleh pemerintah terutama Departemen Pertanian, DPR, dan KPK.

Di bidang riset pun demikian adanya. Misalnya, keberadaan Balai Penelitian Ternak di Ciawi yang di tahun 1980-an reputasinya pernah berjaya di Asia Tenggara. Kini balai penelitian tersebut atau bahkan balai-balai penelitian lain yang sejenis milik Departemen Pertanian menjadi prasasti dungu yang hidup enggan mati pun tak mau.

Pusat-pusat ini hanya untuk mengalokasikan anggaran yang setiap akhir tahun dievaluasi secara administrasi. Tidak ada target berapa sesungguhnya output yang dihasilkan berdasarkan imput yang dibelanjakan. Semua aktivitas di dalamnya hanya sebatas mempertahankan aktivitas pegawai negeri sipil (PNS) dan/atau peneliti yang kesehariannya hanya melakukan pekerjaan penelitian untuk kepentingan naik jenjang kepangkatan. Tidak lebih dari itu.

Tidak ada terobosan yang dilakukan kecuali pengulang atau memimik pola dan topic riset yang dikerjakan di luar negeri (FAO, 1998; Fagi, dkk., 2009; Gordon, 2004; Yadav dkk., 2010; Baharsjah dkk., 2014). Kondisi ini perlu direvitalisasi jika upaya menjadikan ternak dan peternakan sebagai bagian fital dari pembangunan gizi bangsa.

Semoga bermanfaat...

Sumber: Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau 4 - 5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

0 Response to "Kajian Terhadap Program Riset dan Pengembangan Peternakan di Indonesia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel