Hubungan Antara Ukuran Testis Dengan Volume Sperma (Semen) Pada Ternak Babi


Testis merupakan organ reproduksi primer pada hewan/ternak jantan, yang menghasilkan spermatozoa dan hormon testosteron. Setiap gram testis menghasilkan sejumlah spermatozoa, sehingga ukuran testis memiliki hubungan yang positif terhadap kuantitas/volume sperma (semen).


Ukuran testis juga dipengaruhi oleh umur dan bobot badan. Testis dibungkus oleh skrotum (kantung yang membungkus testis), dengan mengetahui besarnya skrotum diharapkan dapat mengasumsikan bahwa ternak tersebut memiliki kuantitas/volume sperma yang baik (Holden and Ensminger 2006).

Volume sperma (semen) adalah banyaknya sperma (mL) yang diejakulasikan oleh seekor ternak atau hewan. Volume sperma berbeda-beda antar ternak (Arifiantini 2012). Sperma (Semen) sapi dan domba mempunyai volume yang sedikit, sedangkan kuda dan babi mempunyai volume yang banyak. Volume Sperma juga dipengaruhi teknik koleksi semen dan frekuensi koleksi.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Mengingat anatomis testis babi yang berbeda dengan ternak lainnya, dan ukuran testis akan memengaruhi produksi spermatozoa, maka penelitian ini saya lakukan dengan tujuan untuk menguji hubungan antara ukuran testis dengan volume sperma (semen) yang dihasilkan oleh lima breed ternak babi.

Metode Penelitian

Ternak babi yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 ekor babi jantan dari lima breed (Duroc 6 ekor; Landrace 6 ekor; Yorkshire 4 ekor; Berkshire 2 ekor; dan Hampshire 2 ekor) yang sudah dewasa kelamin milik UPTD Balai Inseminasi Buatan  di berbagai daerah.

Pengukuran panjang dan lebar testis dari masing-masing testis babi jantan menggunakan jangka sorong. Ukuran testis diketahui dengan mengalikan panjang dan lebarnya dari masing-masing testis babi jantan.

Koleksi sprema (semen) dilakukan dengan menggunakan dummy sow (betina buatan) dan teknik masase pada bagian corpus penis babi jantan.

Tabung penampung sperma (semen) menggunakan gelas piala ukuran 250 - 500 ml. Untuk memudahkan cara memegang tabung penampung semen babi, dapat dilakukan modifikasi dengan menggunakan gelas piala yang dilindungi dengan paralon.

Semen babi banyak mengandung gelatin, maka pada bagian permukaan tabung penampung dilapisi dengan kain kasa untuk menyaring gelatin tersebut agar tidak tercampur dengan semen (Arifiantini, 2012).

Sperma (semen) yang diperoleh diukur menggunakan gelas ukur.

Data ukuran testis dan volume sprema (semen) ternak babi disajikan dalam bentuk rata-rata dan standar deviasi (SD). Untuk menguji perbedaan ukuran testis pada setiap breed ternak babi, dilakukan analisis dengan uji Kruskal Wallis (Kruskal - Wallis One - Way Analysis of Variance by Ranks).

Hubungan antara ukuran testis dan volume sprema (semen ) diuji menggunakan uji Pearson dengan bantuan IBM SPSS Statistic 20.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Ukuran Testis Pada Berbagai Breed Babi

Anatomi organ reproduksi babi jantan berbeda dengan beberapa hewan ternak lainnya. Struktur testis babi tidak menggantung tetapi terletak pada daerah prepubis (perianal), hal ini mengakibatkan pengukuran hanya mungkin dilakukan pada panjang dan lebar testis.

Hasil penelitian menunjukkan lebar dan panjang testis dari kelima breed babi yang digunakan terdapat perbedaan. Lebar testis breed babi Berkshire sama dengan Hampshire, keduanya memiliki testis yang lebih besar (p<0.05) dibandingkan dengan babi Duroc dan Landrace.

Babi Berkshire menempati posisi pertama untuk  ukuran panjang testis (paling panjang), diikuti oleh Yorkshire. Tidak terdapat perbedaan (p>0.05) panjang testis antara babi Duroc, Landrace dan Hampshire (Tabel 1).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Luas testis terbesar ditunjukkan oleh Berkshire dan yang paling kecil ditunjukkan oleh Duroc dan Landrace. Tidak terdapat perbedaan antara Berkshire, Yorkshire, dan Hampshire (p>0,05) demikian juga antara Yorkshire, Hampshire dengan Duroc dan Landrace (Tabel 1).

Secara keseluruhan ukuran testis terbesar terdapat pada babi Berkshire. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan National Research Council (NRC, 2008) yang menyatakan bahwa babi jenis ini sangat memenuhi kriteria produksi sebagai babi pejantan unggul.

Ukuran testis normal pada babi (baik panjang maupun lebar) yang berumur lebih dari 1 tahun ke atas adalah > 7 × 11 cm (Shipley 1997), berdasarkan hal tersebut ukuran testis dari kelima breed babi berada dalam kisaran normal.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ukuran luas testis babi adalah 127,46±53,54 cm2, dan juga uji T (Independent T-test) membuktikan ukuran testis kanan dan testis kiri sama besar (p>0,05). Karena hasil ukuran testis kanan dan testis kiri tidak menunjukkan adanya perbedaan, maka dapat diasumsikan bahwa produksi dari masing-masing testis adalah sama.

Keseragaman ukuran ini disebabkan karena babi diteliti sudah dewasa dan dipelihara serta diberikan pakan yang baik. Pakan yang mengandung protein tinggi dapat meningkatkan dimensi testis (Fernandez et al. 2000; Hotzel et al. 2003).

Volume Sperma (Semen) Babi

Hasil evaluasi makroskopis sperma (semen) dari 20 ekor babi menunjukkan volume rata-rata semen adalah 248,00±94,50 mL (Tabel 2). Volume semen ini termasuk tinggi dibandingkan dengan volume ternak lainnya, Tingginya volume semen babi dipengaruhi oleh gelatin yang disekresikan oleh kelenjar vesikularis (Robert, 2006).

Hasil penelitian yang diperoleh ini hampir sama dengan yang dilaporkan oleh Frangez et al. (2005) yakni sebesar 235,00±29,14 mL, lebih tinggi dibandingkan laporan Ugwu et al. (2009), dengan volume hanya 127,09±52,10 mL, tetapi lebih rendah dari laporan Wolf and Smital (2009) yang mencapai 274,13±1,53 mL.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Secara keseluruhan volume sperma (semen) yang diperoleh dari penelitian ini berada dalam kisaran normal. Bervariasi antar breed dan jantan tetapi secara statistik tidak ada perbedaan volume semen antar breed ataupun antar jantan yang diteliti (p>0,05). Variasi dalam volume semen ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, metode penampungan, jumlah sampel, dan frekuensi penampungan (Parker 2000).

Volume sperma (semen) babi menurut beberapa laporan sangat bervariasi mulai dari 150 - 450 mL (Shipley 1997), 250 – 500 mL (Gardner dan Hafez 2000). Tinggi variasi volume semen babi disebabkan banyaknya jenis babi yang dikembangkan mulai dari babi berukuran paling kecil seperti breed Pygmi Bandel, Banmpudke; sampai babi yang berukuran paling besar seperti breed Meishan (FAO 2009). Besarnya ukuran tubuh babi akan diikuti dengan besarnya ukuran organ reproduksi termasuk ukuran kelenjar asesoris yang merupakan penghasil plasma semen paling banyak (Gardner dan Hafez 2000).

Hubungan antara Ukuran Testis dengan Volume Sperma (semen) Pada Babi

Untuk melihat besarnya keeratan hubungan antara ukuran testis dengan volume sperma (semen) , maka perlu dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi ukuran testis dengan volume semen yang diperoleh yaitu 0,266. Angka yang diperoleh bernilai positif, yang menunjukkan adanya korelasi/hubungan antara ukuran testis dengan volume sperma (semen), namun dalam jumlah sedikit yaitu hanya 26%.
Tabel 3. Koefisien Korelasi Antara Ukuran Testis 
Dengan Volume Semen Pada Babi
Variabel
Ukuran Testis
Volume Sperma (semen)
0,266
Konsentrasi Spermatozoa
0,070
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Jainudeen dan Hafez (2000) yang menyatakan bahwa volume sperma (semen) dipengaruhi oleh lingkar testis. Perbedaan hasil dapat dipengaruhi oleh variasi umur, tingkat rangsangan, frekuensi ejakulasi serta kualitas pakan yang diberikan (Jonhson et al., 2000). Pada ternak babi lingkar testis tidak dapat diukur dan sebagai penggantinya dilakukan ukuran testis.

Selain itu volume semen yang dihasilkan dipengaruhi oleh banyaknya plasma yang dihasilkan oleh kelenjar aksesoris jantan yaitu kelenjar vesikularis (± 99%), sedangkan sisanya adalah jumlah sel spermatozoa (Arifiantini, 2012), dan kelenjar asesoris babi sangat besar dibandingkan kelenjar asesoris ternak pada umumnya.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara ukuran lebar, panjang dan luas testis pada seluruh breed. Tidak ada hubunganyang signifikan antara ukuran testis dengan volume sperma (semen) pada ternak babi.

Saran

Saran yang diajukan berdasarkan penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian dengan jumlah babi yang lebih banyak. Penelitian lanjutan disarankan memiliki ragam data yang cukup untuk masing-masing breed babi yang akan dicoba. (baca juga: Sejarah Ternak Babi di Indonesia)

DAFTAR PUSTAKA


Arifiantini RI. 2012. Teknik Koleksi dan Evaluasi Semen pada Hewan. Bogor (ID): IPB Press.

Aurich JE, Achmann R, Aurich C. 2002. Semen parameters and level heterozgosity in Austrian draught horse stallions. Theorigenol. 58:1175- 1186.

[FAO] Food and Agricultural Organization. 2009. Farmer’s Hand Book on Pig Production. Caracalla (IT): UN Pr.

Fernandez M, Giralde FJ, Frutos P, Lavin P, Mantecon AR. 2004. Effect of undegrable protein supply on testicular size, spermiogram parameters, and sexual behaviour of mature Assaf rams. Theriogenol 62:299-310.

Frangez R, Gider T, Kosec M. 2005. Frequency of boar ejaculate collection and it’s fluence on semen quality, pregnancy rate and litter size. Acta Vet BRNO. 74:265-273.

Gardner DL, Hafez ESE. 2000. Spermatozoa and Seminal Plasma. In : Hafez B dan Hafez ESE, editor. Reproduction in Farm Animal 7th ed. Philadelphia (US): Williams & Wilkins.

Hotzel MJ, Markey CM, Walkden-Brown SW, Blackberry A, Martin GB. 2003. Determinants of the annual pattern of reproduction in mature male Merino and Suffolk sheep: responses to a nutritional stimulus in the breeding and non-breeding seasons. Reprod Fertil Dev. 15:1-9.

Jainudeen MR, Hafez ESE. 2000. Reproduction in Farm Animal: Cattle and Buffalo. Hafez ESE, Hafez B, editor. Philadelphia (US): Williams & Wilkins.

Jin-Chun L, Fang C, Hui-Ru X, Yu-Feng H, Nian-Qing L. 2007. Comparison of three sperm-counting methods for the determination of sperm concentration in human semen and sperm suspensions.JLabmed. 38(4):232-236.

Jonhson LA, Weitze KF, Fiser P, Maxwell WMC. 2000. Storage of boar semen. J Anim Sci. (62):143-172.

Knox RV, Rodriguez-Zas SL, Roth S, Kelly R. 2002.Use and Accuracy of Instruments to Estimate Sperm Concentration.Proceedings, Cons. & Economics. Urbana (US): University of Illinois, hlm 20-31.

Maes D, Rijsselaere T, Vyt P, Sokolowska A, Deley W, Van Soom A. 2010. Comparison of five different methods to assess the concentration of boar semen.Vlaams Diergeneeskundig Tijdschrift. (79):42-47.

[NRC] National Research Council. 2008. Nutrien Requirements for Swine Tenth Edition. Washington (USA): National Academy Pr.

Parker JE. 2000. Reproductive physiology in poultry.Hafez ESE , editor. Philadelphia (US): Lippincott Williams & Wilkins.

Robert VK. 2006. Semen Processing, Extending and Storage for Artificial Insemination in Swine. Urbana (US): Departement of Animal Science University of Illinois.

Schatten H, Constantinescu G. 2007. Comparative reproductive Biology. Iowa (US): Blackwell Publishing Ltd.

Shipley CF. 1997 Breeding soundness examination of the boar. Swine Health Prod. 7(3):117-120.

Ugwu SOC, Onyimonyi AE, Foleng H. 2009. Testicular development and relationship between body weight, testis size and sperm output in tropical boars. Afri J Biotech. 8(6):1165-1169.

Wolf J, Smital J. 2009. Effects in genetic evaluation for semen traits in czech large white and czech landrace boars. J Anim SciCzech. 54(8):349-358.

Sumber: Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Ternak Babi 2014

0 Response to "Hubungan Antara Ukuran Testis Dengan Volume Sperma (Semen) Pada Ternak Babi"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel