Penyakit Brucellosis Pada Ternak (Sapi, Kambing, Domba, Babi) dan Manusia


Penyakit Brucellosis adalah salah satu jenis penyakit zoonosis berbahaya yang menular di antara ternak maupun manusia melalui kontak langsung dari ternak terinfeksi, minum susu dari ternak terinfeksi dan menghirup udara yang tercemar oleh bakteri penyebab Brucellosis yaitu Brucella sp. Brucellosis.

Bakteri Brucella sp termasuk jenis bakteri negatif, berbentuk coccobacillus, dan hidup di dalam sel. Terdapat 4 species Brucella yang hidup di dalam tubuh ternak dan dapat menular ke manusia yaitu: B. abortus yang hidup di sapi, B. mellitensis hidup pada kambing dan domba, B. suis pada babi dan B. canis pada anjing.

Brucellosis
Penyakit Brucellosis Pada Ternak dan Manusia
Penyakit Brucellosis merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis karena penularannya sangat cepat antar batas dan lintas daerah, sehingga memerlukan pengaturan lalu lintas hewan yang ketat dalam penanganannya.

Penyakit Brucellosis pada ternak di Indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai 40% dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Keadaan ini sangat memungkinkan penularan Brucellosis dari hewan ke manusia dan dapat menjadi faktor risiko terjadinya Brucellosis di manusia.

Jumlah kejadian Penyakit Brucellosis di manusia belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan laporan kejadian penyakit di daerah endemis sangat bervariasi yaitu 0,01–200 kasus per 100.000 orang.

Di Indonesia, publikasi penyakit Brucellosis sebagai penyakit zoonosis masih sangat minim dan menyebabkan masyarakat belum banyak mengetahui bahwa penyakit Brucellosis dapat menular ke manusia.

Sumber dan Cara Penularan  Penyakit Brucellosis

Sumber penularan penyakit Brucellosis antara lain ternak sapi, babi, domba dan kambing. Sumber penularan yang potensial dari hewan ke manusia adalah ternak sapi, melalui kontak dengan placenta, fetus, cairan organ reproduksi hewan, darah dan urin.

Penyakit Brucellosis termasuk penyakit yang ditularkan melalui pekerjaan (Occupational Diseases). Dokter hewan dapat tertular saat melakukan vaksinasi atau pemeriksaan hewan tertular. Pekerja laboratorium dapat tertular saat menangani spesimen yang mengandung Brucella sp. Peternak dapat tertular melalui ekskreta yang keluar dari ternak abortus, feses atau cairan tubuh lainnya yang mencemari lingkungan kandang. (baca juga: Jenis - Jenis Penyakit Pada Sapi dan Cara Penanggulangannya)

Penularan pada manusia dapat terjadi dengan mengkonsumsi susu dan daging asal hewan yang mengandung Brucella sp. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penularan penyakit Brucellosis paling banyak melalui konsumsi susu dan produk olahannya yang tidak dipasteurisasi sempurna, karena bakteri Brucella sp dapat bertahan hingga beberapa bulan di susu dan produk olahannya.

Penyakit Brucellosis Pada Ternak

Di Indonesia, kasus penyakit Brucellosis pada ternak ditemukan pertama kali tahun 1915, yakni pada sapi di Pulau Jawa. Hingga tahun 2017 yang lalu belum semua daerah di Indonesia bebas Brucellosis. Indonesia memiliki 33 propinsi, namun hanya 10 propinsi yang dinyatakan bebas dari penyakit Brucellosis pada hewan, yaitu Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan seluruh pulau Kalimantan.

Brucellosis Pada Ternak Sapi, Kambing, Domba dan Babi

Hal tersebut menyebabkan penyakit Brucellosis menjadi salah satu penyakit zoonosis yang mendapat perhatian utama dalam upaya pemberantasan oleh Kementerian Pertanian RI. Dampak yang disebabkan penyakit Brucellosis sangat luas berupa penularan yang sangat cepat antar hewan, termasuk potensi penularan ke manusia dan menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi pada peternak. Hingga saat ini seluruh wilayah Indonesia belum bebas dari Brucellosis, mengingat pemeliharaan hewan ternak masih secara konvensional dan belum memperhatikan aspek kebersihan.

Bakteri Brucella sp masuk ke dalam tubuh ternak melalui mulut, saluran reproduksi, oronasal, mukosa konjungtiva dan luka terbuka. Ternak yang mengalami keguguran dapat mengeluarkan Brucella sp dalam jumlah banyak dalam membran fetus, cairan reproduksi, urin dan feses yang dapat mencemari rumput dan air minum, sehingga menyebabkan penularan antar ternak.

Penyakit Brucellosis Pada Manusia

Penyakit Brucellosis pada manusia umumnya endemik di negara-negara berkembang seperti India,  Pakistan,  Cina,  Malaysia,  Vietnam, Thailand, Indonesia dan Srilanka. Prevalensi penyakit Brucellosis di Malaysia sebesar 25% dari total jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit dengan keluhan gangguan pada kandungan, 75% diantaranya menyebabkan abortus pada wanita penderita. Prevalensi Brucellosis di Vietnam sebesar 14,8% pada tahun 2010.

Data penyakit Brucellosis pada manusia di Indonesia masih sangat minim ditemukan karena gejala klinis yang ditimbulkan pada penderita tidak spesifik. Selain itu masyarakat Indonesia belum mengenal Brucellosis sebagai salah satu penyakit zoonosis, padahal masyarakat Indonesia memiliki risiko tinggi tertular penyakit Brucellosis karena Indonesia masih endemik Brucella pada ternak.

Keadaan tersebut dapat terjadi karena sosialisasi pada masyarakat mengenai potensi penyakit Brucellosis sebagai salah satu penyakit zoonosis belum dilakukan secara terbuka. Penelitian terakhir mengenai penyakit Brucellosis di Indonesia dilakukan pada tahun 1995 mengenai prevalensi Brucellosis di pekerja Rumah Potong Hewan (RPH) Jakarta yakni sebesar 13 %.

Masa inkubasi penyakit Brucellosis pada manusia bervariasi mulai dari lima hari hingga beberapa bulan, rata-rata adalah dua minggu. Gejala yang timbul mula-mula adalah demam, merasa kedinginan dan berkeringat pada malam hari. Kelemahan dan kelelahan tubuh adalah gejala umum. Sakit kepala, nyeri sendi, dan kadang-kadang penderita sering didiagnosa malaria atau influenza. Kadang ditemukan batuk non produktif dan pneumonitis. Kesembuhan dapat terjadi dalam 3-6 bulan. penyakit  Brucellosis juga dapat menyebabkan abortus pada kehamilan trimester pertama dan kedua.

Penularan penyakit Brucellosis pada manusia dapat terjadi melalui 2 jalur yaitu : 1) makanan, mengkonsumsi makanan dan susu non pasterurisasi yang tercemar bakteri Brucella, 2) pekerjaan, penyakit Brucellosis termasuk salah satu penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan. Kasus penyakit banyak terjadi pada dokter hewan, peternak, pekerja RPH, pekerja Tempat pemerahan Susu (TPS), para pemotong hewan dan pekerja laboratorium.

Semakin tinggi kasus penyakit Brucellosis pada ternak maka potensi penularan ke manusia akan semakin tinggi pula. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyakit Brucellosis lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan karena frekuensi kontak dengan hewan lebih tinggi pada laki- laki. Prevalensi pada anak-anak 3-10% di daerah endemis sedangkan pada orang tua bersifat kronis.

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Brucellosis

Pencegahan penyakit Brucellosis pada manusia dapat dilakukan dengan penanggulangan dan kontrol penyakit pada ternak sebagai hospes, mengurangi kontak dengan ternak, memakai alat pelindung diri jika kontak dengan ternak dan memasak secara benar susu segar yang akan diminum. (baca juga: Manajemen Penanggulangan Penyakit Pada Ternak Babi)

Pengobatan penyakit Brucellosis pada manusia dapat diberikan antibiotika seperti tetrasiklin, doksisiklin, streptomisin dan rifampisin minimal selama enam minggu. Pada anak dibawah 8 tahun dan ibu hamil sebaiknya diberikan rifampisin dan kombinasi trimethrophrim dengan sulfamethoxazole selama enam minggu.

Sumber:

Acha PN and Boris S. Zoonosis and Communicable Disease Common to Man and Animal. Volume 1: Bacterioses and Mycoses, 3rd ed. Washington. 2003.

Chin J. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Cetakan II. Edisi 17. Infomedika. Jakarta. 2006.

Bosilkovski Mile, Ljiljana Krteva, Sonja Caparoska, Nikola Labacevski and Mile Petrovski. Childhood brucellosis: Review of 317 cases. Asian Pacific Journal of Tropical Medicine. 2015; 8(12): 1027–32.

Direktorat Jenderal Peternakan.  Pedoman Teknis Pemberantasan Sapi Perah di Pulau Jawa. Kementerian Pertanian. Jakarta. 2001.

Samkhan. Analisis ekonomi Brucellosis dalam menyongsong          penanggulangan, pemberantasan, dan pembebasan Brucellosis di Indonesia Tahun 2025. Buletin Laboratorium Veteriner. 2014;14(1)1-5.

Sudibyo, A. Studi epidemiologi Brucellosis dan dampaknya terhadap reproduksi sapi perah di DKI Jakarta. JITV. 1995;1:31-36

Rahman A.K.M. Anisur. Epidemiology of Brucellosis in Human and  Domestic Animals in Bangladesh[thesis]. Fakulty of Veterinary Medicine. University of Liege. Belgium; 2014.

Jama’ayah M.Z, Heu JY, Norazah A. Seroprevalence Brucellosis among suspected cases in Malaysia. Malaysian J Pathol. 2011;33(1):31-34.

Semoga Bermanfaat.....

0 Response to "Penyakit Brucellosis Pada Ternak (Sapi, Kambing, Domba, Babi) dan Manusia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel