POTENSI TERNAK BABI DI NUSA TENGGARA TIMUR

Peternakan babi di Nusa Tenggara Timur sampai saat ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang ekonomi masyarakat, khususnya di pedesaan. Sekitar 80% rumah tangga di pedesaan memelihara ternak babi yang jumlahnya antara 1 - 3 ekor.

Walaupun bersifat sambilan,  namun babi terbukti menjadi salah satu sumber pendapatan yang sangat diandalkan bagi keluarga. Pemeliharaan ternak babi sangat membantu menstabilkan ekonomi  masyarakat, terutama saat-saat keperluan dana mendadak dalam jumlah  yang cukup banyak.

Ternak babi  menjadi  cadangan dana pengaman dalam sistem keuangan keluarga. Itulah sebabnya di Nusa Tenggara Timur, memelihara babi identik dengan membuat celengan atau menabung. Selain itu ternak babi dipelihara tidak semata untuk dikonsumsi dagingnya, tetapi juga untuk keperluan upacara adat dan agama.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Dari aspek kependudukan di Nusa Tenggara Timur sebenarnya sangat mendukung untuk usaha peternakan babi. Menurut data dari hasil sensus penduduk tahun 2010 (BPS), penduduk Nusa Tenggara Timur mayoritas memeluk agama kristen dengan persentase; Kristen Katolik (54,14%); Kristen Protestan (34,74%); Islam (9,05%); Hindu (0,11%); dan Budha (0,01%). Dari data tersebut terlihat jelas bahwa, terdapat potensi yang sangat besar untuk menggerakkan sektor peternakan babi di Nusa Tenggara Timur.

Populasi dan Produksi Ternak Babi di Nusa Tenggara Timur

Peternak babi di Nusa Tenggara Timur saat ini didominasi oleh peternak mandiri. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang beternak babi dengan pola kemitraan. Sistem pemeliharaan ternak babi khususnya peternak mandiri sebagian besar masih tradisonal. 

Bahkan ada yang masih sangat sederhana, dengan cara mengikat ternak babi dengan tali, kemudian diikatkan pada patok. Sama sekali tidak ada tempat  khusus untuk berbaring, tanpa atap penaung panas dan hujan. Jika musim hujan, maka ternak babi berendam dalam lumpur, mirip kerbau. Babi diberi makan seadanya (lihat gambar di bawah).

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Namun saat ini sudah banyak juga yang memelihara dengan sistem  semi intensif bahkan modern.  Sedangkan peternak dengan pola kemitraan umumnya sistem pemeliharaannya sudah intensif. (baca juga: Manajemen Pemeliharaan Ternak Babi)

Peternak di Nusa Tenggara Timur lebih banyak memilih babi ras jenis peranakan landrace untuk diternakan dibandingkan babi lokal atau jenis babi lainnya. Alasannya, babi peranakan landrace pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan babi jenis lain.  Selain itu, babi landrace kandungan lemaknya lebih sedikit dibandingkan dengan babi lokal.

Populasi ternak babi di Nusa Tenggara Timur selama 11 tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2006, populasi babi tercatat sebanyak 1.385.961 ekor, meningkat menjadi 1.669.705 pada tahun 2011 dan menjadi 1.845.408 pada tahun 2016 dan tahun 2017 sebanyak 2.073.446 (Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2018).

Potensi Pasar

Faktor yang menjadi pendorong usaha ternak babi di Nusa Tenggara Timur adalah dukungan faktor sosial budaya. Bagi orang NTT, pesta tanpa daging babi ibarat sayur tanpa garam. Faktor lain adalah kebutuhan daging babi meningkat seiring dengan makin banyaknya rumah makan se'i babi, babi tore, roti babi, sate babi, bakso babi. Setiap hari bisa 100 ekor babi di potong untuk memenuhi kebutuhan rumah makan (Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2018).

Pada tahun 2006, jumlah ternak babi yang dipotong sebanyak 597.696 ekor, meningkat menjadi 788.229 ekor pada tahun 2011. Jumlahnya makin bertambah menjadi 792.295 ekor pada tahun 2016 dan 811.265 ekor pada tahun 2017. “Artinya, rata-rata setiap kabupaten/kota memotong 36.876 ekor babi setiap tahun atau 3.072 ekor setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan daging" (Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2018).

Dari ternak yang dipotong tersebut, produksi daging babi pada tahun 2011 tercatat 26.605.080 kg. Jumlahnya meningkat seiring jumlah ternak yang dipotong, yakni menjadi 32.682.170 kg pada tahun 2016 dan 33.464.681 kg pada tahun 2017. "Jadi rata-rata produksi daging babi setiap bulan mencapai 2.788.723 kg".

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Daging babi di Nusa Tenggara Timur merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi yakni sebesar 50%. Disusul unggas 25%, daging sapi 18%, kambing 2%, kerbau 2% dan kuda serta domba masing-masing 1%.

Faktor yang mendorong menggeliatnya usaha peternakan babi di Nusa Tenggara Timur adalah keuntungan secara finansial. Perputaran uang di usaha ini cukup cepat karena bibit babi berusia dua bulan bisa dipotong pada usia delapan bulan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang termuat dalam NTT dalam Angka 2018, populasi ternak babi Nusa Tenggara Timur pada 2017 terbanyak di Kabupaten Kupang, yakni 404.837 atau 19,5% dari total populasi. Kabupaten lain dengan populasi babi yang juga tinggi adalah Timor Tengah Selatan dengan 138.014 ekor (6,6%) dan Ngada sebanyak 129.231 ekor (6,2%).

Aktivitas Budaya

Beternak babi di Nusa Tenggara Timur tidak bisa dipisahkan dengan budaya. Bahkan beternak babi sendiri sudah merupakan budaya orang Nusa Tenggara Timur, khususnya yang beragama selain muslim.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Di Nusa Tenggara Timur kegiatan adat, budaya dan agama tidak bisa dipisahkan. Bahkan untuk NTT nyaris susah dibedakan  antara kegiatan  adat  dan kegiatan agama, walau sesungguhnya ke duanya berbeda. Dari sekian banyak kegiatan adat dan upacara agama di Nusa Tenggara Timur hampir selalu menggunakan ternak babi.


Semoga bermanfaat...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "POTENSI TERNAK BABI DI NUSA TENGGARA TIMUR"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel