Pengencer Sperma (Semen) Babi Dari Sari Buah Tomat, Pepaya & Melon


PENDAHULUAN

Salah satu teknologi yang telah dipergunakan untuk  meningkatkan populasi dan produksi ternak baik secara kuantitatif maupun kualitatif adalah dengan menggunakan teknologi Inseminasi Buatan (IB). Menurut Toelihere (1993) Inseminasi Buatan adalah suatu metode pemasukan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia dan bukan secara alam.

Dengan menggunakan teknologi Inseminasi Buatan, daya guna seekor pejantan yang memiliki genetik unggul dapat dimanfaatkan secara maksimal. Seekor babi pejantan unggul dengan menggunakan teknologi Inseminasi Buatan dapat melayani 2000 ekor betina tiap tahun (Toelihere, 1993). Selain menggunakan pejantan unggul, Inseminasi Buatan memberikan kesempatan untuk menggunakan sedikit pejantan, hal ini berarti efesiensi dalam pemeliharaan ternak jantan baik dari segi biaya, pakan dan kandang. (baca juga : Peranan Inseminasi Buatan Dalam Pembinaan Produksi Peternakan)

Dalam teknologi Inseminasi Buatan diperlukan kualitas dan kuantitas semen yang baik. Kualitas semen akan cepat menurun dalam proses penyimpanan tanpa memberikan perlakuan pada semen tersebut. Menurut Suyadnya (2005) motilitas spermatozoa tanpa bahan pengencer hanya mampu bertahan hidup selama 6 - 8 jam pada temperatur ruang 37°C. (baca juga: Jenis-Jenis Bahan Pengencer Pada Sperma Babi)

Setelah waktu tersebut spermatozoa akan menjadi kehilangan daya geraknya atau tidak motil lagi. Fungsi dari bahan pengencer yang utama adalah untuk memperbanyak volume semen. Disamping itu bahan pengencer juga berfungsi untuk memberikan nutrisi bagi spermatozoa serta melindungi spermatozoa dari kuman penyakit.

Untuk tujuan itu semen perlu dicampur dengan larutan pengencer guna menjamin kebutuhan fisik dan kimiawi spermatozoa. Telah diketahui bahwa bahan pengencer yang sering digunakan dalam Inseminasi Buatan antara lain: sitrat kuning telur, fosfat kuning telur, air susu dan air kelapa (Djanuar, 1985).

Buah-buahan merupakan salah satu alternatif bahan pengencer biologis yang bisa dipergunakan sebagai bahan pengencer semen. Sari buah menurut Trisnawati dan Setiawan (1994) adalah cairan yang diperoleh melalui proses pemerasan  dari  bagian  buah  yang  dapat  diminum  tanpa  proses  fermentasi.

Menurut Susilowati at.al. (1989), sari buah-buahan seperti sari buah tomat, pisang dan papaya yang ditambah dengan sitrat dapat mempertahankan daya tahan hidup spermatozoa domba selama 200 - 260 jam. Demikian pula Yulnawati (2002) menyatakan bahwa sari buah melon dan sari buah wortel dapat digunakan sebagai bahan pengencer bagi semen domba garut.

Sari buah-buahan mempunyai kandungan zat yang dapat menunjang kebutuhan hidup spermatozoa sperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Oleh karena itu buah-buahan perlu dicoba untuk diteliti sebagai bahan pengencer untuk semen babi.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Dari uraian di atas maka dipandang perlu untuk diteliti kualitas semen babi yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah papaya, sari buah tomat, dan sari buah melon dengan harapan dapat meningkatkan daya hidup dan daya simpan spermatozoa sebelum dipakai untuk Inseminasi Buatan.

MATERI DAN METODE

Sperma (Semen) Babi


Dalam penelitian ini diperlukan satu ekor babi Hampshire yang telah berumur 4 tahun untuk diambil semennya. Pengambilan semen dilakukan dengan cara massage (hand method) dengan menggunakan alat bantu dummy sow.

Alat

Alat-alat yang digunakan untuk pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dalam penelitian ini antara lain mikroskop, objek glass, deck glass, cover glass, beaker glass, haemocytometer, pipet, batang pengaduk, erlemeyer, timbangan analitik, kertas saring, aluminium foil, juicer, pemanas Bunsen lengkap dengan spritus, kertas lakmus, kain lap, ember, autoclave, acounter, termos sedan thermometer.

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sari buah tomat matang atau yang kulitnya berwarna merah, sari buah pepaya yang matang atau dagingnya berwarna merah, sari buah melon yang matang dan dagingnya berwarna hijau, pewarna eosin, aquades dan larutan penyanggah Natrium Sitrat. Untuk mencegah berkembangnya bakteri yang dapat membunuh spermatozoa maka perlu ditambahkan antibiotika. Dalam penelitian ini antibiotika yang digunakan adalah Streptomycin.

Tempat dan Waktu Penelitian

Pengambilan dan evaluasi semen secara makroskopis dilakukan langsung di Depo Sperma Dinas Peternakan Kabupaten Gianyar. Evaluasi semen secara mikroskopis, pengenceran, penyimpanan dan evaluasi lebih lanjut dilakukan di Laboratorium Reproduksi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Jl. P.B Soedirman Denpasar, selama delapan minggu.

Rancangan Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan. Perlakuan A adalah semen diencerkan dengan bahan pengencer sari buah pepaya. Perlakuan B adalah semen diencerkan dengan sari buah tomat. Perlakuan C adalah semen diencerkan dengan sari buah melon. Masing-masing perlakuan terdiri dari lima kelompok. Pengelompokan didasarkan pada waktu pengambilan semen.

Cara Menampung Semen Babi

Semen ditampung dengan cara manual (hand method) dikandang pejantan atau ditempat khusus. Proses penampungan semen babi menggunakan induk buatan (dummy sow). Proses awal adalah bulu-bulu yang tumbuh pada ujung preputium dipotong untuk mencegah kontaminasi dengan kuman-kuman penyakit. Untuk merangsang pejantan mengeluarkan penisnya maka preputium diurut-urut.

Begitu penis keluar dari preputium segera pegang dengan erat ujung penis yang berbentuk bulir (derat), diusahakan agar jari-jari tangan berada diantara lekukan bulir-bulir tersebut dan gland penis berada di luar genggaman. Kemudian dilakukan pijatan-pijatan untuk merangsang pengeluaran semen.

Apabila semen telah diejakulasikan, cairan bening (plasma semen) yang pertama kali keluar dari penis dibuang karena selain tidak mengandung spermatozoa kemungkinan juga mengandung bibit penyakit. Penampungan baru dilakukan ketika keluar cairan keruh berwarna putih.

Alat penampungan dipakai glass yang permukaannya ditutup dengan alat saring berupa kain kasa yang bersih. Penampungan semen dilakukan sampai babi tidak mengeluarkan semen lagi dan babi menarik penisnya ke dalam serta turun dari induk buatan. (untuk lebih lengkap mengenai cara menampung semen/sperma ternak babi, silahkan baca disini: Teknik Inseminasi Buatan Pada TernakBabi)

Membuat Larutan Penyanggah

Larutan penyanggah dibuat dengan cara menimbang 2,9 gr Natrium Sitrat selanjutnya dilarutkan dengan 100 ml aquades kemudian dipanaskan sampai 100°C sehingga larutan terlihat jernih, selanjutnya didinginkan sampai mencapai suhu kamar.

Membuat Bahan Pengencer Sari Buah

Sehari sebelum penelitian alat-alat yang akan dipergunakan dalam penelitian ini seperti beaker glass, tabung reaksi, pipet, Erlenmeyer, gelas ukur disterilisasi dengan menggunakan autoclave pada suhu 120°C selama 30 menit. Buah tomat, buah pepayadan buah melon yang sudah matang kulitnya dikupas lalu dihaluskan dengan juicer kemudian disaring dengan kasa steril dan dimasukkan ke dalam beaker glass (Narayana, 2004), selanjutnya sari buah tersebut disimpan dalam refrigerator sebelum digunakan.

Setelah larutan penyanggah siap maka sari buah tersebut didiamkan selama beberapa menit agar tidak menggumpal, kemudian sari buah digoyang-goyang secara perlahan agar sari buah tercampur dengan rata (homogen). Selanjutnya dibuat larutan sari buah sitrat dengan perbandingan 1 : 4. Dalam penelitian ini 4 ml sari buah ditambahkan 16 ml larutan penyanggah. Kedalam masing-masing bahan pengecer ditambahan 0,008 g streptomycin (Wahyuni, 2002).

Pengenceran Sperma (Semen) Babi

Semen babi yang sudah diperiksa secara makroskopis dan mikroskopis kemudian diberibahan pengencer sari buah tomat, sari buah papaya dan sari buah melon dengan perbandingan 1 : 4. Dalam penelitian ini 16 ml bahan pengencer ditambahkan ke dalam 4 ml semen. Semen babi yang telah diencerkan disimpan dalam refrigerator dengan suhu 12 - 14°C, kemudian diperiksa lagi secara mikroskopis terutama mengenai persentase spermatozoa hidup dan daya tahan hidup spermatozoa. Pengamatan selanjutnya dilakukan setiap 6 jam sekali.

VARIABEL YANG DIAMATI

Warna Semen

Warna semen dalam penelitian ini dapat dilihat secara langsung pada gelas penampung semen setelah semen ditampung.

Bau Semen

Bau semen babi dapat ditentukan dengan cara mencium secara langsung aroma dari semen tersebut setelah penampungan.

Derajat Keasaman (pH) Semen

Derajat keasaman (pH) diukur dengan menggunakan kertas lakmus. Kertas lakmus dibasahi dengan sedikit semen dan didiamkan sesaat. Perubahan warna yang terjadi dicocokkan dengan warna standard yang tersedia.

Derajat Kekentalan Semen

Derajat kekentalan (konsistensi) semen diukur dengan cara menggoyang-goyang wadah penampung semen secara perlahan-lahan.

Gerakan Massa

Gerakan massa semen dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Mula-mula tabung berisi semen yang baru ditampung digoyang-goyangkan dengan hati-hati agar homogen.Kemudian semen diambil dengan pipet steril dan ditaruh pada objek glass lalu ditutup dengan cover glass. Selanjutnya dilihat di bawah mikroskop dan diamati dengan pembesaran 10 × 10 dan cahaya dikurangi, setelah itu akan terlihat gelombang-gelombang.

Penilaian gerakan massa menurut Toelihere (1993) adalah sebagai berikut; (a). penilaian (+++) artinya kualitas semen sangat baik dengan ciri-ciriterlihat gelombang besar, banyak, gelap, tebal dan aktif bagaikan gumpalan awan hitam yang bergerak cepat, (b). penilaian (++) artinya kualitas semen baik dengan cirri-ciri gelombang kecil,tipis, jarang, kurang jelas, bergerak lambat, (c). penilaian (+) artinya kualitas semen lumayan dengan cirri-ciri tidak terlihat gelombang melainkan hanya gerakan-gerakan individual aktif progresif, (d). penilaian (0) artinya kualitas semen buruk atau tidak ada gerakan-gerakan individual.

Gerakan Individu

Gerakan individu dapat dilihat di bawah mikroskop pembesaran 45 × 10 pada selapis tipis semen diatas objek glass yang ditutup dengan cover glass akan terlihat gerakan-gerakan individu spermatozoa. Gerakan individual yang diamati adalah gerakan progresif yaitu gerakan sperma aktif maju ke depan.

Menghitung Konsentrasi Spermatosoa

Untuk menghitung konsentrasi spermatozoa menggunakan alat haemocytometer dan pengamatan dilakukan di bawah mikroskop. Semen diambil sebanyak 2 tetes ke dalam tabung reaksi berukuran kecil. Selanjutnya ke dalam tabung reaksi tersebut ditambahkan NaCl 3% sebanyak 10 tetes dan dihomogenkan dengan cara diaduk dengan batang pengaduk. Kemudian semen tersebut diteteskan pada objek glass haemocytometer tepat pada bagian tepi glass penutupnya sehingga larutan menyebar keseluruh bagian atas penutup.

Selanjutnya dilakukan penghitungan dengan menghitung jumlah spermatozoa pada lima kotak dari 25 kotak yang ada yaitu empat kotak di setiap sudut dan satu kotak ditengah dengan pembesaran 10 × 45. Kepala spermatozoa yang ada pada garis sisi kiri dan atas dihitung meskipun ekornya berada diluar kotak, sedangkan kepala spermatozoa pada garis bawah dan kanan tidak dihitung.

Jika spermatozoa dalam kelima kotak tersebut adalah X, maka konsentrasi spermatozoa dikemukakan dengan rumus adalah X/80 × 4000000 × faktor pengenceran, yang merupakan modifikasi dari cara penentuan konsentrasi spermatozoa sapi menurut Toelihere (1993).

Cara Menghitung Spermatozoa Hidup dan Mati

Menghitung spermatozoa hidup dan mati dilakukan dengan pewarnaan deferensial. Sedikit semen diambil dengan pipet steril dan ditaruh pada objek glass. Setelah itu ditambahkan sedikit pewarna pada objek glass tersebut. Kemudian diambil objek glass yang lain,lalu ditempelkan pada campuran itu dengan posisi miring bersudut 300C, objek glass yang tidak berisi semen dan sat warna selanjutnya ditarik kedepan dan didorong sepanjang objek glass yang pertama untuk mendapatkan selapis semen yang telah diwarnai setipis mungkin. Keringkan di atas api Bunsen dengan cara menggoyang-goyangkan. Setelah kering dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 45 × 10. Spermatosoa yang hidup tidak menyerap zat warna sedangkan sperma yang mati akan menyerap sat warna karena permiabilitas dinding sel meningkat sewaktu mati.

ANALISA DATA

Data mengenai volume semen, gerakan massa, bau, warna, derajat kekentalan dan pH semen dan gerakan individu dianalisis deskriptif. Persentase spermatozoa yang hidup dianalisis dengan sidik ragam tersarang. Sedangkan daya hidup spermatozoa dan konsentrasi spermatozoa dianalisis dengan analisis sidik ragam, jika hasil yang diperoleh berbeda sangat nyata (P<0,01) maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Steel dan Torrie, 1989).

HASIL DAN PEMBAHASAN


HASIL

Sebelum semen babi diberi perlakuan maka dilakukan pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis yang meliputi volume, warna, bau, gerakan massa, pH, konsistensi semen dan konsentrasi spermatozoa.

Volume, Derajat Keasaman (pH), Warna, Konsistensi Semen dan Konsentrasi Spermatozoa
Dalam penelitian ini didapatkan rataan volume semen babi Hampshire adalah 242 ± 38,98 ml, dengan derajat keasaman (pH) semen babi adalah 7. Konsistensi atau derajat kekentalan semen babi Hampshire yang diperoleh dari hasil pengamatan setiap pengambilan semen termasuk kategori encer (Tabel 1).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Rataan konsentrasi semen babi Hampshire adalah 63,28 ± × 106 / ml. Warna semen babi sebelum diencerkan adalah putih keabuan dan untuk gerakan massa semen babi sebelum pengenceran adalah ++, dimana nilai ++ pada semen babi menurut Toelihere (1993) termasuk katagore baik (Tabel 1).

Derajat Keasaman, Konsentrasi setelah Semen Diencerkan dan Daya Tahan Hidup Spermatozoa Semen Babi Hampshire

Hasil pemeriksaan semen babi Hampshire yang sudah diencerkan dengan bahan pengencer sari buah papaya, sari buah tomat, dan sari buah melon dapat dilihat pada Tabel 2. Derajat keasaman (pH) semen setelah ditambah dengan bahan pengencer sari buah pepaya, sari buah tomat, dan sari buah melon adalah 7 (pH) awal, demikian pula derajat keasaman (pH) semen yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah pepaya, sari buah tomat dan sari buah melon setelah spermatozoa mati (pH) akhir adalah 7 (Tabel 2).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Konsentrasi semen babi Hampshire yang diencerkan dengan sari buah papaya adalah 52,8 × 106 / ml. Semen yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah tomat dan bahan pengencer sari buah melon masing-masing memiliki konsentrasi sebesar 54,2 × 106 / ml dan 52,4 × 106/ ml. Hasil ini secara statistik menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05) Tabel 2.

Daya tahan hidup spermatozoa babi Hampshire pada masing-masing  bahan pengencer adalah 6,6 jam pada bahan pengencer sari buah pepaya (perlakuan A), 19,8 jam pada bahan pengencer sari buah tomat (perlakuan B) dan untuk semen yang diberi bahan pengencer sari buah melon (perlakuan C) memiliki daya tahan hidup selama 13,4 jam. Hasil ini secara statistik berbeda sangat nyata (P<0,01) (Table 2).

Persentase hidup spermatozoa babi Hampshire pada awal pengenceran (jam ke-0) yang didapatkan pada penelitian ini pada masing-masing bahan pengencer adalah 79,21% pada bahan pengencer sari buah pepaya (perlakuan A), bahan pengencer sari buah tomat (perlakuan B) sebesar 85,22% dan pada bahan pengencer sari buah melon (perlakuan C) sebesar 78,95%. Secara statistic menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05).

Pada pengamatan 6 jam I rataan persentase hidup semen babi Hampshire yang diencerkan dengan sari buah papaya (perlakuan A) adalah 46,52%, sari buah tomat (perlakuan B) adalah 70,76% dan sari buah melon (perlakuan C) adalah 34,79%. Hasil ini secara statistik menunjukkan berbeda sangat nyata (P<0,01) (Tabel 2).

PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian ini volume semen babi Hampshire didapatkan rata - rata sebesar 242 ml. Menurut Ax et al. (2000) volume semen babi normal berkisar antara 240 - 250 ml. Sedangkan Toelihere (1993) mendapatkan volume  semen  babi berkisar antara 125 - 500 ml.

Derajat keasaman (pH) semen babi Hampshire pada penelitian ini adalah 7. Derajat keasaman pada semen babi yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah pepaya, sari buah tomat dan sari buah melon yaitu 7. Hasilyang diperoleh sama dengan penelitian Narayana (2004) yang mendapat derajat keasaman (pH) semen babi Landrace adalah 7.

pH semen babi yang normal berkisar antara 7-8 (Toelihere, 1993). Untuk mencegah penurunan derajat keasaman (pH) semen maka kedalam bahan pengencer perlu ditambahkan lautan penyanggah atau buffer. Warna semen babi yang didapatkan dalam penelitian ini adalah putih keabuan. Warna tersebut pada semen babi termasuk warna yang normal, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suyadnya (2005) bahwa semen babi berwarna putih.

Gerakan massa semen babi dalampenelitian ini adalah ++ (baik). Gerakan massa dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi semen (Djanuar, 1985). Menurut Toelihere (1993) gerakan massa ++ (baik) menunjukkan kualitas semidensum dimana konsentrasi sperma berkisar 500-1000 juta sel per milliliter semen.

Konsistensi atau derajat kekentalan semen babi yang didapat dari penelitian ini adalah encer. Sesuai dengan pernyataan Toelihere (1993) yang menyatakan bahwa konsistensi dari semen babi adalah cukup encer. Konsistensi semen babi setelah diencerkan dengan bahan pengencer sari buah papaya, sari buah tomat dan saribuah melon adalah encer, oleh karena itu berbeda halnya dengan semen sapi maka pada semen babi tingkat pengencerannya adalah lebih rendah dibandingkan dengan semen sapi.

Konsentrasi semen babi sebelum diencerkan yang didapat dalam penelitian ini rata-rata 63,28 × 106/ml. Konsentrasi semen babi yang diencerkan dengan bahan pengencer dari sari buah papaya (perlakuan A) adalah 52,8 × 106/ml dan dengan bahan pengencer dari sari buah tomat (perlakuan B) 54,2 × 106/ml, sedangkan untuk bahan pengencer dari sari buah melon (perlakuan C) 52,4 × 106/ml.

Wirtha at al. (2003) dalam penelitian pada semen babi Landrace mendapatkan konsentrasi sebesar 678,75 × 106/ml. Menurut Toelihere (1993) konsentrasi semen babi berkisar antara 25 - 1000 (juta/ml). Konsentrasi semen babi menurut Yusuf (2003) adalah 50 - 200 juta/ml.

Daya tahan hidup spermatozoa semen babi yang diencerkan dengan bahan pengencer dari sari buah tomat (perlakuan B) 13,2 jam lebih lama dibandingkan dengan bahan pengencer sari buah pepaya (perlakuan A) dan 6,4 jamlebih lama dibandingkan dengan bahan pengencer sari buah melon (perlakuan C). Daya hidup spermatozoa yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah melon (perlakuan C) 6,8 jam lebih lama dari sari buah pepaya (perlakuan A).

Rataan persentase spermatozoa yang hidup pada pengencer sari buah tomat (perlakuan B) lebih tinggi dari pengencer sari buah pepaya (perlakuan A) dan sari buah melon (perlakuan C), masing-masing 2,45% dan 2,58% pada pengamatan jam ke-0. Secara statistik antar perlakuan pengencer menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0,05). Persentase hidup 6 jam I pada perlakuan B menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A dan perlakuan C. Pada 6 jam II perlakuan A sudah mati dan 6 jam III hanya perlakuan B yang masih hidup.

Daya tahan hidup dan persentase hidup spermatozoa pada semen yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah tomat lebih lama dibandingkan dengan semen yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah papaya dan sari buah melon, hal ini disebabkan karena bahan pengencer sari buah tomat (perlakuan B) memiliki kandungan zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh spermatozoa antara lain karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. 

Untuk bahan pengencer sari buah pepaya (perlakuan A) dan bahan pengencer sari buah melon (perlakuan C) kandungan sat-sat makanan untuk spermatozoa hanya terdiri dari karbohidrat, protein dan vitamin. Sari buah tomat memiliki kandungan lemak, protein dan vitamin C yang lebih banyak dari bahan pengencer sari buah pepaya dan sari buah melon.

Menurut Susilowati at al. (1989) komponen lemak dan protein yang ada pada buah dimanfaatkan untuk pembentukan lipoprotein yang sangat berguna dalam melindungi spermatozoa sehingga membran sel menjadi lebih kuat terhadap gangguan perubahan suhu lingkungan.

Kandungan karbohidrat yang ada pada setiap komponen sari buah tersebut berfungsi untuk sumber energy untuk kehidupan spermatozoa. Vitamin C yang ada pada setiap sari buah tersebut menurur Yulnawati (2002) berfungsi sebagai antioksidan yang akan mengikat radikal bebas yang dapat merusak keutuhan membrane yang terbentuk sebagai hasil metabolisme spermatozoa selama penyimpanan.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Daya tahan hidup spermatozoa semen babi pada bahan pengencer sari buah tomat menunjukkan hasil yang paling lama bila dibandingkan dengan semen yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah melon dan sari buah pepaya.

2. Persentase hidup spermatozoa yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah tomat pada pengamatan 6 jam I masih tinggi, sedangkan pada bahan pengencer sari buah melon dan pepaya persentase hidupnya adalah rendah.

Saran

Perlu penelitian lebih lanjut untuk menguji fertilitas semen yang diencerkan dengan bahan pengencer sari buah tomat yaitu dengan melakukan Inseminasi Buatan untuk melihat litter sise yang dihasilkan. (baca juga: Langkah – Langkah Inseminasi Buatan Pada Ternak)

DAFTAR PUSTAKA


AAK. 2002. Beternak babi. Kanisius. Yogyakarta

Dinas Peternakan Propinsi Bali. 2005. Laporan survey Ketersediaan Kebutuhan Daging di Provinsi Bali Tahun 2004 dan Tahun 2005.

Djanuar, R. G. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Narayana, I Kt Gd. 2004. Kemampuan Pengenceran Semen Babi dengan Ekstrak Buah Tomat dalam Mempertahankan Kualitas Semen dan Jumlah Anak yang Dilahirkan pada Babi Landrace. Program Pasca Sarjana Universitas Udayana, Bali.

Parakkasi, A. 1990. Ilmu dan Gisi Makanan Ternak Monogastrik. Angkasa. Bandung.

Steel, R. G. D.and J. M.Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Penerjemah Bambang.S. Edisi ke-2 PT. Gramedia Jakarta.

Susilowati, S. T. Hernawati dan Soehartojo. 1989. Sari Buah sebagai Diluter Air Mani Domba (Suatu Study Pendahuluan). Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.

Suyadnya, I Pt. 2005. Inseminasi Buatan pada Ternak Babi. Makalah Pelatihan Inseminasi Buatan Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Denpasar.

Toelihere, M. R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Cetakan ke-III. Angkasa. Bandung.
Trisnawati, Y. dan A. I. Setiawan. 1994. Tomat Pembudidayaan secara Komersial. PS. Jakarta.

Wahyuni, Ni Kt. 2002. Pengaruh Pengenceran Sitrat Kuning Telur Ayam Kampung terhadap Daya Hidup Spermatosoa Kambing Peranakan Etawa (FE). Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar.

Wirtha, W. D. K. Harya Putra dan N.M. Sukreni. 2003. Pengaruh Kadar Pengenceran Air Kelapa dan Suhu Penyimpanan terhadap Daya Simpan Semen Babi Landrace. Majalah Ilmiah Peternakan Universitas Udayana. Volume 6, No. 3.

Yulnawati. 2002. Pemanfaatan Sari Buah Melon dan Sari Wortel sebagai Pengencer Aternatif Semen Domba Garut. Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Yusuf, L. Tuty. 2003. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Babi. Makalah Pelatihan Inseminasi Buatan pada Ternak Babi PUSPITNAK. Direktoran Jendral Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian Bali.

Sumber: Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Ternak Babi 2014

0 Response to "Pengencer Sperma (Semen) Babi Dari Sari Buah Tomat, Pepaya & Melon"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel