Pengembangan Peternakan Sapi Melalui Model Ternak Sapi Terpadu

Impor daging dan sapi bakalan di Indonesia cenderung terus meningkat selama produksi dan produktivitas sapi yang ada di dalam negeri belum mampu merespon perkembangan lonjakan permintaan daging. Kelangkaan pasokan ini berdampak cukup luas, karena (1) di dalam negeri banyak dilakukan pemotongan hewan betina produktif dan ternak muda yang ukurannya relatif kecil, serta (2) pihak yang kurang bertanggung jawab memanfaatkan situasi pasar ini dengan memasukan daging ilegal atau produk yang tidak ASUH.


Kondisi ini akan menjadi salah satu penyebab terkurasnya populasi sapi di sentra produksi, dan pada saat yang sama tidak memberi suasana kondusif bagi petemak karena harga yang tertekan oleh membanjirnya produk impor. Hal ini  jelas akan merapuhkan kemandirian dan ketahanan pangan yang berasal dari daging sapi.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Usaha petemakan sapi untuk menghasilkan bakalan (feeder cattle) sebagian besar  (99%) berada ditangan petemak kecil, dengan skala kepemilikan antara 1-5 ekor. Usaha Cow-Calf Operation ini sebenarnya dilakukan secara sambilan, dan petani hanya sekedar sebagai keeper atau user. Kondisi ini yang menjadi salah satu penyebab rendahnya adopsi teknologi yang pada gilirannya menurunkan produksi dan produktivitas sapi lokal di Indonesia.

Peternakan besar yang mengandalkan grass fed, pada tahun 1970-an berkembang di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, NTT, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Namun saat ini tidak ada perusahaan yang mampu bertahan karena manajemen yang diaplikasikan bertumpu pada teori dan inovasi yang tidak kompatibel dengan kondisi agro ekologi dan sosial - budaya masyarakat.  Usaha Cow-Calf Operation yang dilakukan secara 'monokultur' ternyata tidak memberi keuntungan yang memadai, disamping ancaman lain berupa: pencurian ternak, persaingan penggunaan lahan dan tiadanya dukungan permodalan,  kelembagaan dan prasarana (Dwiyanto dan Handiwirawan,2004).

Sebagai gambaran kasar, bila saat ini biaya untuk memelihara induk sekitar Rp. 4000/ekor/hari, dan  jarak beranak (calving interval) sekitar 500 hari, maka untuk menghasilkan seekor pedet diperlukan biaya pakan sekitar Rp. 2 juta/ekor pedet. Oleh karena itu dengan kondisi seperti tersebut diatas dan bunga bank sekitar 12% per tahun, rasanya sangat sulit untuk mengandalkan usaha Cow-Calf Operation sebagai usaha monokultur (Puslitbangnak, 2004).

Dukungan kebijakan dan teknologi inovatif sangat diperlukan untuk mendorong perkembangan usaha peternakan sapi lebih berdaya saing, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan peternak. Teknologi yang terkait dengan pemanfaatan  SDG lokal, pengembangan sapi potong atau dwi guna jua sangat penting untuk diperhatikan dan perlu mendapat prioritas.

Teknologi tinggi yang terkait dengan rekayasa genetik, reproduksi dan embrio (ET, MOET, IVM/IVF, splitiIng, clonning, sexiing, dll) dapat dilakukan secara selektif, namun harus dengan sasaran yang jelas serta sudah diarahkan penerapan maupun pengembangannya. Menambah populasi sapi betina misalnya, teknologi sexing sperma diaplikasikan secara terencana.


Untuk mengatasi masalah,menjawab tantangan sekaligus merebut peluang pasar domestik yang sangat besar tersebut maka diperlukan akselerasi peningkatan populasi dan produksi untuk menurunkan impor daging sapi dan mencapai swasembada daging. Pemerintah melalui Dirjen Peternakan telah melakukan berbagai upaya utamanya dalam peningkatan pengembangan sapi potong di Indonesia yangdidasarkan pada Road Map Perbibitan Ternak, Direktorat Jenderal peternakan Tahun 2008.

Upaya peningkatan populasidan produksi sapi potong pertama didasarkan prediksi dari perhitungan jumlah populasi penduduk Indonesia pada tahun 2018 dan seberapa besar rata-rata konsumsi daging pada saat itu, dimana saat ini konsumsinya masih kurang dari 2 kg/kapita/tahun. Dari proyeksi ini diketahui kebutuhan daging, karkas, dan ternak potong pada tahun 2019.

Dalam hal ini harus diketahui rata-rata berat potong, persentase dan berat karkas maupun edible portion dari ternak sapi/kerbau yang akan dipotong pada tahun 2019. Prediksi tersebut telah memberi gambaran tentang kebutuhan sapi bakalan, jumlah kelahiran yang diperlukan, dan kebutuhan atau jumlah induk produktif agar dapat memenuhi kebutuhan bakalan, serta parameter lainnya seperti: persentase kelahiran, tingkat kematian, calving interval, dll.

Oleh karena itu perlu diketahui dengan pasti jumlah induk produktif saat ini (tahun 2018), kondisinya, serta penyebarannya. Dengan angka ini dapat diperkirakan kebutuhan (penambahan) induk pada 2 tahun ke depan, agar anak yang dilahirkan dapat mencukupi kebutuhan bakalan dan sapi potong pada tahun.

Sapi potong yang berkembang di Indonesia terdiri dari Sapi Bali yang merupakan Sapi Asli Indonesia, serta Sapi Lokal hasil introduksi maupun hasil persilangan, seperti: Sumba Ongole (SO), Peranakan Ongole (PO), Madura, dan sapi komersial hasil program inseminasi buatan (IB).

Sapi Bali diketahui mempunyai keistimewaan dalam hal (1) daya adaptasi dalam lingkungan lembab tropis, (2) efisiensi reproduksi yang sangat tinggi walaupun dipelihara dalam iingkungan yang 'keras', (3) kualitas karkas dan kulit yang sangat baik, serta (4) mampu memanfaatkan bahan pakan lokal seperti limbah pertanian, perkebunan dan agro industri, secara efisien. Akan tetapi Sapi Bali mempunyai beberapa kelemahan, seperti: (1) rentan terhadap penyakit jembrana, (2) tidak dapat dipersatukan dengan domba karena penyakit MCF, (3) kecepatan pertumbuhan dan ukuran fubuh yang relatif kecil, serta (4) kurang responsive dengan pemberian pakan yang berkualitas. (baca: Karakteristik Sapi Bali)


Sumber : Journal “The Development of Cattle Farming Through Integrated Plant Cattle Model” (2018)

0 Response to "Pengembangan Peternakan Sapi Melalui Model Ternak Sapi Terpadu"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel