Pengaruh Pemberian Jenis Antibiotika Terhadap Penampilan Anak Babi Prasapih


PENDAHULUAN

Produktivitas suatu usaha peternakan babi (pola breeding) dapat dinilai dari jumlah anak perkelahiran (littersize), jumlah sapihan, laju pertumbuhan, FCR, dan tingkat imun (Putra, dkk., 1992). Mortalitas (jumlah kematian) yang tinggi pada anak-anak babi prasapih menyebabkan kerugian yang sangat signifikan pada perusahaan pembibitan babi. Penanganan anak babi dari lahir sampai disapih diperlukan teknik yang cukup intensif, karena pada fase ini merupakan fase sangat kritis bagi seekor anak babi.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Antibiotika selain dapat dipakai sebagai obat, dalam jumlah sedikit dapat pula ditambahkan ke dalam ransum dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan mencegah penyakit (Srigandono, 1987). Pemberian antibiotika sebagai feed aditif dapat menekan perkembangan mikroorganisme yang sifatnya berkompetisi dengan ternak terhadap beberapa zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh ternak.
Di dalam saluran pencernaan, antibiotika dapat mencegah penebalan dinding usus/saluran pencernaan yang disebabkan oleh mikroorganisme, sehingga antibiotika dapat meningkatkan penyerapan terhadap zat makanan dan mencegah penyakit subklinis. Pemberian antibiotika pada anak babi banyak diberikan dan terbukti nyata dapat menekan mortalitas dari 11% menjai 7,5% dan meningkatkan berat badan 8,5% (Anon, 1999).

Di pasaran sangat banyak jenis atau merek dagang antibiotika yang ditawarkan kepada peternak babi dengan tujuan dan manfaat yang hampir sama atau mempunyai spektrum luas maupun pengaruh khusus. Berdasarkan fakta yang ditemukan di pasaran tersebut maka perlu diteliti pengaruh dari masing-masing antibiotika tersebut terhadap penampilan dan mortalitas anak babi prasapih.

METODOLOGI

Materi penelitian menggunakan anak babi putih persilangan (landrace × chester white) umur 1 (satu) hari sebanyak 24 ekor dengan berat badan 1,4 - 1,8 kg yang berasal dari 4 ekor induk babi. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan yaitu anak babi yang tidak dinjeksi dengan antibiotika (P0), anak babi yang diinjeksi dengan antibiotika merek Tysinol (P1), dan anak babi yang diinjeksi dengan antibiotika merek Corflox (P2).

Injeksi antibiotika dilakukan pada umur 1 (satu) hari. Setiap perlakuan diulang pada 4 induk (sebagai blok),dan setiap ulangan terdiri dari 2 ekor. Parameter pada penelitian ini adalah berat lahir, berat badan pada umue 20 hari, pertambahan berat badan, panjang badan, lingkar dada, dan mortalitas. Data yang dipeoleh dianalisa dengan analisis sidik ragam, dan apabila terjadi perbedaan yang nyata diantara perlakuan (P<0,05), maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Steel and Torrie, 1989).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Injeksi antibiotika jenis Tysinol maupun jenis Corflox cenderung dapat meningkatkan penampilan secara umum anak babi prasapih, namun secara statistik untuk beberapa parameter penampilan antara ketiga kelompok perlakuan tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05).

Hasil penelitian juga menunjukkan mortalitas untuk semua kelompok perlakuan adalah 0% (P>0,05), seperti yang disajikan pada Tabel 1 di bawah. Data mortalitas yang non signifikan diperoleh mungkin disebabkan kurangnya materi (anak babi) yang dipakai pada setiap blok/kelompok.

Secara statistik banyaknya ulangan akan memberikan hasil dengan tingkat akurasi yang tinggi dan dapat meminimalis kesalahan. Faktor lain manejemen kandang seperti tata letak kandang induk yang selalu kering dengan tingkat penyinaran yang cukup, merupakan faktor yang berkontribusi terhadap sulitnya berkembangnya mikroba patogen.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Secara totalitas untuk parameter produksi induk pada fase menyusui adalah berat badan sapihan dan mortalitas. Injeksi antibiotika jenis Tysinol dan Corflox diperoleh databerat badan sapih yang tidak berbeda nyata (P>0,5) namun secara statistik nyata(P<0,05) lebih berat jika dibandingkan dengan kelompok anak babi tanpa injeksi antibiotika.

Penyebab utamanya adalah dari pengaruh antibiotika yang mempunyai efek dapat menekan mikroorganisme patogen di dalam saluran pencernaan, mengurangi penebalan dinding saluran pencernaan, yang selanjutnya akan berdampak terhadap efisiensi penyerapan zat makanan oleh saluran pencernaan. Tingkat efisiensi penyerapan zat makanan/susu yang baik akan menyebabkan tingkat pertumbuhan (PBB) yang baik, tinggi badan, dan peningkatan imun selanjutnya berdampak terhadap penurunan mortalitas (Tabel 1) (Srigandono, 1987).

Non signifikan efek dari injeksi antibiotika terhadap parameter lainnya, sesuai dengan pendapat Parakasi (1983) bahwa pengaruh antibiotika tidak selalu sama pada setiap saat. Salah satu faktor penyebab adalah adanya stres (yang diartikan sebagai segala kondisi lingkungan yang dapat menurunkan kondisi ternak termasuk pakan, situasi kandang, dan penyakit). Selanjutnya Sihombing (2006), menyatakan bahwa produktivitas antibiotika menjadi meningkat jika kondisi lingkungan maupun manejemen peternakan babi yang kurang bagus.

Disampaikan pula babi yang mendapat Tysinol dalam ransumnya mengalami perbaikan pertambahan berat badan 2,4%-14,6% pada kandang baru, dan kandang yang lama mencapai 9,6%-19,6%. Pada parameter mortalias = 0%, sesuai dengan pendapat Hollis (1993) dan Putra (1993), yang menyampaikan bahwa penerapan manejemen peternakan babi yang baik dan tidak ada wabah penyakit, maka keuntungan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan menjadi kecil.

KESIMPULAN

Injeksi antibiotika jenis Tysinol dan Corflox menyababkan penampilan anak babi prasapih yang tidak berbeda nyata, namun injeksi kedua jenis antibiotika tersebut menyebabkan perbaikan penampilan (pada PBB/Pertambahan Bobot Badan, berat sapihan dan tinggi badan) yang nyata lebih baik jika dibandingkan dengan tanpa injeksi antibiotika.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2013. Informasi Data Peternakan Provinsi Bali Tahun 2012. Dinas Peternakan danKesehatan Hewan. Denpasar

Ardana, I.B., D.K.H.Putra. 2008. Ternak Babi. Manajemen Reproduksi, Produksi dan Penyakit. Udayana University Press. Denpasar

Muir, L.A. 1988. Effects of Beta-Adrenergic Agonists on Grouth and Carcass Characteristics of Animals. Designing Foods.National Academy Press. Washington, D.C.

Parakasi. A.,1992. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik.Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penerbit Angkasa Bandung.

Putra, IG. G., 1993. Pengaruh Kombinasi Dynamutilin dan Quxalud Terhadap Komposisi Karkas Berbagai Jenis Kelamin Anak Babi. Tesis Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sihombing DTH., 2006. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Srigandono, B., 1997. Ilmu Peternakan. Diterjemahkan dari James Blakeley- David H. Bade. Fakultas Peternakan, Universitas Diponogoro. Gadjah Mada University Press.

Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1989. Prinsip Dan Prosedur Statistika. Suatu Pendekatan Biometrik. PT. Gramedia. Jakarta.

Sumber: 
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Ternak Babi 2014

0 Response to "Pengaruh Pemberian Jenis Antibiotika Terhadap Penampilan Anak Babi Prasapih"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel