Masalah Utama Distribusi Pasokan Daging Sapi Antar Daerah di Indonesia


Berdasarkan data Kementerian Pertanian populasi sapi potong pada tahun 2017 mencapai 16,6 juta ekor naik 3,72% dari tahun sebelumnya. Populasi sapi potong terbesar terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera yaitu 69,06 % dari populasi sapi potong nasional. Populasi sapi potong di Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua mencapai 16,77 %, sedangkan di Pulau Bali dan Nusa Tenggara sebanyak 14,18 % dari total populasi sapi potong di Indonesia.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Jumlah penduduk di Jawa dan Sumatera sebanyak 186,7 juta orang atau 78% dari total seluruh penduduk Indonesia (BPS, 2017). Dengan asumsi konsumsi daging sapi 2,2 kg per kapita (Kementerian Perdagangan), maka kebutuhan konsumsi daging sapi di Pulau Jawa dan Sumatera diperkirakan sebanyak 410 juta kg per tahun atau setara dengan 2,98 juta ekor sapi potong lokal (asumsi rata-rata berat sapi potong lokal 350 kg dengan berat karkas 54 %). 

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Jika disandingkan dengan data populasi sapi potong di Jawa dan Sumatera yang diperkirakan berjumlah 8,6 juta ekor (69,09 % dari total populasi sapi potong), mestinya kebutuhan konsumsi daging sapi di kedua lokasi tersebut dapat dipenuhi sendiri.

Namun kenyataannya, karena pemeliharaan ternak di Jawa sebagian besar bersifat tabungan keluarga dengan jumlah pemilikan sapi rata-rata 1
- 2 ekor per KK, maka ketersediaannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi khususnya di Jawa tidak dapat dipastikan dan oleh karenanya harus didatangkan dari kawasan sentra sapi potong, seperti Bali dan Nusa Tenggara. Pulau Bali dan Nusa Tenggara yang dihuni 5,5% penduduk Indonesia memiliki 14,18% dari populasi sapi potong nasional.

Masalah Distribusi Pasokan Daging Sapi Antar Daerah di Indonesia



Pasokan daging sapi di Pulau Jawa, terutama di wilayah Jabodetabek seharusnya tidak akan menjadi masalah apabila distribusi sapi dari daerah sentra dapat dilakukan dengan mudah dan biaya murah.  Kelebihan potensi populasi sapi potong di Bali dan Nusa Tenggara yang cukup besar sulit untuk disalurkan ke Jawa dan Sumatera akibat sistem logistik yang belum cukup baik. 

Tata niaga daging sapi domestik masih mengandalkan pada pengiriman sapi hidup dan masih memiliki hambatan yang cukup banyak sehingga belum efisien. Penyebab inefisiensi itu utamanya adalah karena belum memadainya jumlah dan kapasitas alat angkut (truk dan kapal) dan minimnya kualitas sarana angkutan baik truk maupun kapal yang digunakan.

Begitu pula sistem bongkar muat ternak sapi di pelabuhan dilakukan dengan teknik yang kurang memperhatikan kenyamanan ternak sehingga menjadi faktor penyebab tingginya stress pada ternak.Sampai saat ini, pengangkutan ternak dari Nusa Tenggara masih menggunakan kapal kayu dan kargo yang berkapasitas kecil sekitar 300-500 ekor per pengiriman.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/


Terlebih lagi, belum semua pelabuhan memiliki holding ground untuk tempat pengumpulan ternak dan pemeriksaan karantina sebelum naik maupun setelah turun dari atas kapal. Kondisi ini diperburuk lagi dengan adanya retribusi yang harus dikeluarkan selama proses pengangkutan mulai dari desa, kecamatan, propinsi sampai ke daerah tujuan.

Biaya logistik yang tinggi menjadi kendala serius di wilayah Indonesia Timur. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya jaminan muatan balik dari wilayah timur bagi angkutan kargo (backhaul), yang menyebabkan ongkos angkut dari dan ke wilayah timur Indonesia menjadi lebih tinggi dibandingkan dari dan ke wilayah barat Indonesia.Kondisi ini mengakibatkan terjadinya disparitas harga yang tinggi antara wilayah barat dan timur.

Padahal, terkait masalah pasokan daging sapi, wilayah timur Indonesia memiliki populasi serta potensi menyediakan sapi hidup dan daging sapi yang cukup besar dan prospektif.
Sebagai contoh, Rumah Potong Hewan (RPH) di NTB memiliki kapasitas pemotongan daging hingga 60 ton per hari. 

Namun karena terbatasnya cold storage pada angkutan kapal dan pelabuhan, maka lebih efisien apabila pasokan daging ke daerah lain dilakukan dalam bentuk sapi hidup.Kondisi proses pengangkutan sapi seperti itu mengakibatkan, pasokan daging sapi lokal dari wilayah sentra ke wilayah yang membutuhkan menjadi sangat terbatas dan biaya angkutnya menjadi mahal.

Tidak mengherankan apabila daging sapi impor dari Australia jauh lebih cepat didatangkan dan biayanya pun lebih murah. Saat ini, biaya angkutan antar pulau seringkali jauh di atas biaya angkutan impor dari negara lain. Biaya angkutan daging sapi atau sapi potong dari Nusa Tenggara ke Jakarta mencapai Rp 3.000 per kg. Ongkos pengiriman satu kontainer ukuran 40 feet dari Padang, Sumatera Barat ke Jakarta mencapai USD 600.

Padahal, biaya angkut komoditas yang sama dari Australia atau Selandia Baru ke Jakarta hanya Rp700 per kg, sedangkan ongkos kirim kontainer berukuran sama dari Jakarta ke Singapura, yang jaraknya lebih jauh, hanya sebesar USD185. 

Upaya Pembenahan Sistem Distribusi


Dalam rangka mengendalikan kenaikan harga daging sapi pada saat ini, Pemerintah telah menunjuk Perum BULOG untuk melakukan impor daging sapi dan menggelar operasi pasar.  Langkah ini merupakan kebijakan jangka pendek yang diambil untuk mengatasi permasalahan pasokan daging sapi dan tingginya lonjakan harga daging sapi. 

Untuk jangka menengah–panjang, pembenahan sistem distribusi sapi lokal hidup harus dilakukan secara komprehensif dan tidak bersifat sektoral. Penambahan jumlah dan peningkatan kapasitas serta kualitas alat angkut ternak sapi perlu dilakukan baik untuk moda transportasi truk, kereta api, maupun kapal.

Pembenahan sistem distribusi sapi hidup lokal dan daging sapi perlu dilakukan mulai dari jumlah dan jenis sarana angkutan hingga adminsitrasinya.Diperlukan penyediaan angkutan yang di desain khusus untuk mengangkut ternak sapi dan daging sapi. Demikian pula dengan teknik proses bongkar muat dalam pengangkutan sapi hidup dan daging sapi.
 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Kapal Khusus Angkut Ternak
Rencana Kementerian Perhubungan untuk mengembangkan desain khusus kapal ternak harus didukung oleh semua pihak terkait, seperti PT PELNI, Pemda, dan pengusaha pemilik angkutan lokal antar daerah. Begitu pula, Pemda perlu mendorong peran serta pihak swasta ataupun asosiasi pengusaha daging sapi di daerah untuk ikut berperan dalam menyediakan box pendingin (cold storage) pada setiap pelabuhan atau titik transfer daging sapi.

Upaya yang dilakukan dalam stabilisasi harga daging sapi dan menciptakan pasar daging domestik agar lebih kompetitif tetap diperlukan.Impor daging sapi sampai saat ini masih diperlukan, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar horeka ataupun memenuhi kebutuhan pasar manakala produksi lokal tidak memadai.Hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan impor adalah ketepatan waktu pelaksanaan dan lokasi pemasarannya, sehingga tujuan untuk stabilisasi harga tercapai.


0 Response to "Masalah Utama Distribusi Pasokan Daging Sapi Antar Daerah di Indonesia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel