Makalah Peranan Inseminasi Buatan (IB) Dalam Pembinaan Produksi Peternakan


BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang


Faktor penghambat yang diduga sebagai penyebab rendahnya produktivitas ternak di Indonesia adalah manajemen pemeliharaan yang belum optimal, yang ditandai dengan sistem pemeliharaan bersifat ekstensif (tradisional), usaha sambilan (non agribusiness oriented) dan tidak memperhatikan input produksi. Selain itu, sistem pemuliaan dan seleksi yang tidak terarah sehingga mengakibatkan kinerja ternak sangat beragam.

Hal lainnya adalah pencapaian kecukupan daging sapi masih masih mengandalkan anggaran pemerintah dan belum melibatkan peran swasta dan masyarakat; rendahnya produktivitas sapi akibat jarak beranak 21 bulan dan kelahiran 21 %; dan belum berkembangnya usaha/industri perbibitan sapi (Ditjen Peternakan, 2009). Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan melalui penerapan teknologi Inseminasi Buatan (IB).  Teknologi ini digunakan untuk peningkatan produksi dan  perbaikan mutu genetik ternak serta sebagai alat dalam pelaksanaan kebijakan pemuliaan secara nasional.

Inseminasi Buatan (IB) diterapkan di Indonesia sejak tahun 1953 pada ternak sapi perah, kemudian pada sapi potong dan kerbau. Walaupun hasilnya sampai saat ini sudah dirasakan oleh masyarakat yang ditandai dengan tingginya harga jual dari ternak hasil IB, namun demikian pelaksanaannya di lapangan belum optimal sehingga hasilnya (tingkat kelahiran) dari tahun ke tahun berfluktuasi. Tingkat kelahiran hasil Inseminasi Buatan (IB) pada sapi potong dan kerbau berfluktuasi setiap tahunnya.

Untuk menghindari timbulnya pro dan kontra di kalangan masyarakat mengenai penerapan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak, maka makalah ini akan menguraikan tentang peranan teknologi Inseminasi Buatan (IB) dalam pembinaan produksi peternakan.

Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk menjelaskan dan menguraikan peranan teknologi Inseminasi Buatan (IB) dalam pembinaan produksi peternakan.

Manfaat Penulisan


Penulisan makalah ini diharapkan dapat berguna dalam menghindari timbulnya pro dan kontra di kalangan masyarakat mengenai penerapan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak. (baca juga: Makalah Inseminasi Buatan Pada Ternak Babi)

BAB II

PEMBAHASAN


Definisi Inseminasi Buatan (IB)


Inseminasi Buatan (IB) adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami.  Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak betina (Hafez, 1993). 

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Namun dalam perkembangan lebih lanjut, program Inseminasi Buatan (IB) tidak hanya mencakup pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan pejantan, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan/ternak betina, bimbingan dan penyuluhan pada peternak.


Dengan demikian pengertian Inseminasi Buatan (IB) menjadi lebih luas yang mencakup aspek reproduksi dan pemuliaan, sehingga istilahnya menjadi artificial breeding (perkawinan buatan). Tujuan dari Inseminasi Buatan (IB) itu sendiri adalah sebagai satu alat yang ampuh yang diciptakan manusia untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak secara kuantitatif dan kualitatif (Toelihere, 1985).

Sejarah Inseminasi Buatan (IB)


Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada abad ke-14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akar cerdiknya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.

Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisa awal tentang IB, dan setelah itu tidak lagi ditemukan catatan mengenai pelaksanaan IB atau penelitian ke arah pengunaan teknik tersebut.

Penelitian ilmiah pertama dalam bidang inseminasi buatan pada hewan peliharaan dilakukan oleh ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani pada tahun 1780. Dia berhasil menginseminasi amphibia, yang kemudian memutuskan untuk melakukan percobaan pada anjing. Anjing yang dipelihara di rumahnya setelah muncul tanda-tanda birahi dilakukan inseminasi dengan semen yang dideposisikan langsung ke dalam uterus dengan sebuah spuit lancip. Enam puluh hari setelah inseminasi, induk anjing tersebut melahirkan anak tiga yang kesemuanya mirip dengan induk dan jantan yang dipakai semennya.

Dua tahun kemudian (1782) penelitian spallanzani tersebut  diulangi oleh P. Rossi dengan hasil yang memuaskan. Semua percobaan ini membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan mengunakan inseminasi dan menghasilkan keturunan normal. Spallanzani juga membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada spermatozoa, bukan pada cairan semen. Dia membuktikannya dengan menyaring semen yang baru ditampung. Cairan yang tertinggal di atas filter mempunyai daya fertilisasi tinggi.

Peneliti yang sama pada tahun 1803, menyumbangkan pengetahuannya mengenai pengaruh pendinginan terhadap perpanjangan hidup spermatozoa. Dia mengamati bahwa semen kuda yang dibekukan dalam salju atau hawa dimusim dingin tidak selamanya membunuh spermatozoa tetapi mempertahankannya dalam keadaaan tidak bergerak sampai dikenai panas dan setelah itu tetap bergerak selama tujuh setengah jam.

Hasil penemuannya mengilhami peneliti lain untuk lebih mengadakan penelitian yang mendalam terhadap sel-sel kelamin dan fisiologi pembuahan. Dengan jasa yang ditanamkannya kemudian masyarakat memberikan gelar kehormatan kepada dia sebagai Bapak Inseminasi.

Inseminasi Buatan (IB) pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun 1950-an oleh Prof. B. Seit dari Denmark di Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan Bogor. Dalam rangka rencana kesejahteraan istimewa (RKI) didirikanlah beberpa satsiun IB di beberapa daerah di awa Tenggah (Ungaran dan Mirit/Kedu Selatan), Jawa Timur (Pakong dan Grati), Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan Bali (Baturati).

Juga FKH dan LPP Bogor, difungsikan sebagai stasiun IB untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya, Aktivitas dan pelayanan Inseminasi Buatan (IB) waktu itu bersifat hilang, timbul sehingga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat.  Kekurang berhasilan program Inseminasi Buatan (IB) antara tahun 1960-1970, banyak disebabkan karena semen yang digunakan semen cair, dengan masa simpan terbatas dan perlu adanya alat simpan sehingga sangat sulit pelaksanaanya di lapangan. Disamping itu kondisi perekonomian saat itu sangat kritis sehingga pembangunan bidang peternakan kurang dapat perhatian.

Dengan adanya program pemerintah yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dimulai tahun 1969, maka bidang peternakan pun ikut dibangun. Tersedianya dana dan fasilitas pemerintah akan sangat menunjang peternakan di Indonesia, termasuk program Inseminasi Buatan (IB). Pada awal tahun 1973 pemerintah measukan semen beku ke Indonesia. Dengan adanya semen beku inilah perkembangan Inseminasi Buatan (IB) mulai maju dengan pesat, sehingga hampir menjangkau seluruh provinsi di Indonesia. Semen beku yang digunakan selama ini merupakan pemberian gratis pemerintah Inggris dan Selandia Baru.

Selanjutnya pada tahun 1976 pemerintah Selandia Baru membantu mendirikan Balai Inseminasi Buatan, dengan spesialisasi memproduksi semen beku yang terletak di daerah Lembang Jawa Barat. Setahun kemudian didirikan pula pabrik semen beku kedua yakni di Wonocolo Suranaya yang perkembangan berikutnya dipindahkan ke Singosari Malang Jawa Timur. Hasil evaluasi pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) di Jawa, tahun 1972-1974 menunjukkan angka  konsepsi yang dicapai selama dua tahun tersebut sangat rendah yaitu antara 21,3 – 38,92 persen.

Dari survei ini disimpulkan juga bahwa titik lemah pelaksaan Inseminasi Buatan (IB), tidak terletak pada kualitas semen, tidak pula pada keterampilan inseminator, melainkan sebagian besar terletak pada ketidak suburan ternak-ternak betina itu sendiri. Ketidak suburan ini banyak disebabkan oleh kekurangan pakan, kelainan fisiologi anatomi dan kelainan patologik alat kelamin betina serta merajalelanya penyakit kelamin menular. Dengan adanya evaluasi terebut maka perlu pula adanya penyemopurnaan bidang organisasi Inseminasi Buatan (IB), perbaikan sarana, intensifikasi dan perhatian aspek pakan, manajemen, pengendalian penyakit.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inseminasi Buatan (IB)


Penerapan bioteknologi Inseminasi Buatan (IB) pada ternak ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu semen beku, ternak betina sebagai akseptor Inseminasi Buatan (IB), keterampilan tenaga pelaksana (inseminator) dan pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini berhubungan satu dengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah akan menyebabkan hasil Inseminasi Buatan (IB) juga akan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan reproduksi tidak optimal (Toelihere, 1997).

Permasalahan utama dari semen beku adalah rendahnya kualitas semen setelah dithawing, yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada ultrastruktur, biokimia dan fungsional spermatozoa yang menyebabkan terjadi penurunan motilitas dan daya hidup, kerusakan membran plasma dan tudung akrosom, dan kegagalan transport dan fertilisasi.

Ada empat faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya kualitas semen beku, yaitu (1) perubahan-perubahan intraseluler akibat pengeluaran air yang bertalian dengan pembentukan kristal-kristal es; (2) cold-shock (kejutan dingin) terhadap sel yang dibekukan; (3) plasma semen mengandung egg-yolk coagulating enzyme yang diduga enzim fosfolipase A yang disekresikan oleh kelenjar bulbourethralis; dan (4) triglycerol lipase yang juga berasal dari kelenjar bulbourethralis dan disebut SBUIII.

Pengaruh yang ditimbulkan akibat fenomena di atas adalah rendahnya kemampuan fertilisasi spermatozoa yang ditandai oleh penurunan kemampuan sel spermatozoa untuk  mengontrol aliran Ca 2˟ (Bailey dan Buhr, 1994). Padahal ion kalsium memainkan peranan penting dalam proses kapasitasi dan reaksi akrosom spermatozoa. Kedua proses ini harus dilewati oleh spermatozoa selama dalam saluran reproduksi betina sebelum  membuahi ovum. 

Permasalahan pada kambing betina (akseptor IB) dalam kaitannya dengan kinerja reproduksi adalah: (1) variasi dalam siklus berahi dan lama berahi, (2) variasi dalam selang beranak (kidding interval) yang berkaitan dengan involusi uterus; dan (3) gejala pseudopregnancy (kebuntingan semu). Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan semen pada puncak kesuburan ternak betina. Puncak kesuburan ternak betina adalah pada waktu menjelang ovulasi. Waktu terjadinya ovulasi selalu terkait dengan periode berahi.

Pada umumnya ovulasi berlangsung sesudah akhir periode berahi. Ovulasi pada ternak sapi terjadi 15-18 jam sesudah akhir berahi atau 35-45 jam sesudah munculnya gejala birahi. Sebelum dapat membuahi sel telur yang dikeluarkan sewaktu ovulasi, spermatozoa membutuhkan waktu kapasitasi untuk menyiapkan pengeluaran enzimenzim zona pelucida dan masuk menyatu dengan ovum menjadi embrio (Hafez, 1993). Waktu kapasitasi pada sapi, yaitu 5-6 jam (Bearden dan Fuqual, 1997).

Oleh sebab itu, peternak dan petugas lapangan harus mutlak mengetahui dan memahami kapan gejala birahi ternak terjadi sehingga tidak ada keterlambatan Inseminasi Buatan (IB). Kegagalan Inseminasi Buatan (IB) menjadi penyebab membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan peternak.  Apabila semua faktor di atas diperhatikan diharapkan bahwa hasil Inseminasi Buatan (IB) akan lebih tinggi atau hasilnya lebih baik dibandingkan dengan perkawinan alam (Tambing, 2000).

Hal ini berarti dengan tingginya hasil Inseminasi Buatan (IB) diharapkan efisiensi produktivitas akan tinggi pula, yang ditandai dengan meningkatnya populasi ternak dan disertai dengan terjadinya perbaikan kualitas genetik ternak, karena semen yang dipakai berasal dari pejantan unggul yang terseleksi. Dengan demikian peranan bioteknologi Inseminasi Buatan (IB) terhadap pembinaan produksi peternakan akan tercapai. (baca juga: Langkah - Langkah Inseminasi Buatan Pada Ternak)

Manfaat Penerapan Inseminasi Buatan (IB)


Manfaat penerapan bioteknologi Inseminasi Buatan (IB) pada ternak (Hafez, 1993) adalah sebagai berikut :

a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; 

b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik; 

c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);

d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka  waktu yang lama; 

e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan
telah mati; 

f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik
pejantan terlalu besar; 

g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan
dengan hubungan kelamin.

Penerapan Inseminasi Buatan (IB) Ditinjau Dari Aspek Bioetika


Dalam pandangan bioetika, penerapan bioteknologi reproduksi Inseminasi Buatan (IB) berhubungan erat dengan aspek kesehatan dan penyelamatan dari kepunahan ternak asli (animal welfare). Problem utama dalam sistem animal welfare dalam kaitannya dengan penerapan bioteknologi adalah efisiensi produksi. Problem ini berkaitan erat pula dengan beberapa faktor, diantaranya (1) ekspresi gen (pertumbuhan yang cepat atau produksi susu tinggi), (2) teknik perkawinan, dan (3) mutasi gen (Christiansen dan Sandoe, 2000).

Dampak negatif yang akan timbul apabila penerapan bioteknologi Inseminasi Buatan (IB) tidak terkontrol dalam kaitannya dengan animal welfare, seperti :

a) Hilangnya/punahnya ternak lokal akibat terkikis oleh munculnya ternak persilangan (crossbred animal). Hal ini bisa muncul karena persepsi masyarakat (petani/peternak) yang lebih menyukai ternak persilangan karena pertumbuhannya lebih cepat dan dampak akhirnya adalah nilai jual yang tinggi.

b) Dapat menyebabkan stress dan menimbulkan resiko pada animal welfare. Pemilihan pejantan sebagai sumber semen yang tidak tepat (kemungkinan mengandung gen lethal) akan menimbulkan beberapa dampak negatif, antara lain masa kebuntingan lebih panjang, meningkatnya kejadian kesulitan melahirkan (distokia) dan tingginya frekuensi gen anomali dan anak yang dilahirkan memiliki bobot lahir yang melebihi ukuran normal dan penurunan daya reproduksi.

c) Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;

d) Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan  berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;

e) Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;

f) Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor  tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).  

g) Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;

h) Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;

i) Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;  

j) Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).   

k) Hilangnya keanekaragaman akibat dipertahankan alel yang sama pada populasi (hilangnya gen), sehingga rentan terhadap penyakit bila alel resisten hilang.

Namun demikian dampak negatif tersebut dapat ditanggulangi melalui upaya konservasi in-situ dimana petani/peternak ikut serta di dalamnya. Program konservasi in-situ yang telah dilakukan pada ternak lokal antara lain :  (1) Mengisolasi bangsa ternak lokal dalam suatu lokasi tertutup dan dilakukan upaya pemurniannya,(2) mendatangkan pejantan unggul yang sejenis dengan bangsa ternak lokal tersebut untuk dilakukan program perkawinan dengan ternak lokal yang telah diisolasi, (3) melakukan program pemuliaan dan seleksi dengan ketat, dan (4) mengaplikasikan program IB dengan menggunakan semen yang berasal dari pejantan unggul.

Hal yang terpenting adalah upaya dari petugas dan petani dalam mencatat (recording) identitas semen induk dan turunannya, serta adanya bank sperma yang untuk semua ternak lokal atau non lokal sehingga tidak terjadi kemusnahan. (baca juga: Masalah Gangguan Reproduksi Pada Ternak Ruminansia)  

BAB III

KESIMPULAN


Peternak dan petugas lapangan harus mutlak mengetahui dan memahami kapan gejala birahi ternak terjadi sehingga tidak ada keterlambatan Inseminasi Buatan (IB). Kegagalan Inseminasi Buatan (IB) menjadi penyebab membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan peternak. Apabila semua faktor di atas diperhatikan maka hasil  Inseminasi Buatan (IB) lebih baik dibandingkan dengan perkawinan alam.

Ditinjau dari aspek bioetika, penerapan bioteknologi Inseminasi Buatan (IB) mampu mencegah terhadap hilangnya atau punahnya ternak-ternak lokal (animal welfare) dan meningkatkan produktivitas ternak bila dikelola dengan baik.  


DAFTAR PUSTAKA


Bailey, J.L and M.M Burh. 1994. Cryopreservation alters the Ca 2+  flux of bovine spermatozoa. Can. J. Anim. Sci. 74: 45-51. 

Beaden, H.J. and J.W. Fuqual. 1997. Applied Animal Reproduction. Reston Publishing Co., Inc. Prentice Hall Co. Reston Virginia. 

Christiansen, S.B. and P. Sand√łe. 2000. Bioethics : limits to the interference with life. Anim. Reprod. Sci, 60-61 : 15-29.

Ditjen Peternakan. 2009. Renstra Kecukupan Daging Sapi Tahun 2010-2-14. Semnas Pengembangan Ternak Potong untuk Mewujudkan Program Kecukupan/Swasembada Daging, Fafet UGM. Yogyakarta.

Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6 th  Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp. 424-439. 

Senger,  PL. 2003. Artificial insemination technique in the cow.Pathways to Pregnancy and Parturition.  Page 274.

Toelihere, M.R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Edisi ke-2. Angkasa, Bandung. 292 hal.

Toelihere, M.R. 1997. Peranan Bioteknologi Reproduksi Dalam Pembinaan Produksi Peternakan di Indonesia. Disampaikan pada Pertemuan Teknis dan Koordinasi Produksi (PERTEKSI) Peternak Nasional T.A. 1997/1998, Ditjennak di Cisarua Bogor 4-6 Agustus 1997.


Sumber:
Irawan Sugoro,  Kajian Bioetika : Pemanfaatan Inseminasi Buatan (Ib) Untuk Peningkatan Produktivitas Sapi, Institut Teknologi Bandung (2009)

0 Response to "Makalah Peranan Inseminasi Buatan (IB) Dalam Pembinaan Produksi Peternakan"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel