TERNAK BABI MENJADI PILIHAN SEBAGAI MODEL HEWAN COBA


Aktualisasi penggunaan Hewan Coba dalam pelaksanaan program penelitian sering digunakan di Indonesia, yang banyak hal dipergunakan dalam penelitian terapan maupun penelitian experimental. Penggunaan hewan coba dalam program penelitian banyak digunakan dalam berbagai bidang keilmuan seperti halnya Biotechnologi, Imunologi, Farmakologi, Fisiologi maupun Bedah Experimental dan Terapan.

Penggunaan hewan coba sebagai hewan model dalam studi/experimen yang dilakukan tidak terlepas dengan pilihan terhadap species, strain, umur, sex dan status kesehatan dan berapa yang dibutuhkan dari hewan coba yang bersangkutan (Tuffery A.A., 1995). Pilihan terhadap babi sebagai hewan coba dikarenakan sering digunakan dalam berbagai studi/experimen melalui prosedur pembedahan (Lumley JSP et al., 1992).

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Mengapa studi/experimen dengan hewan coba sangat diperlukan?

Tujuan utama dari studi atau experimen melalui hewan coba dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dibidang Kedokteran, Biomedik dan Farmasi, khususnya untuk peningkatan kualitas hidup manusia maupun peningkatan kualitas/ pengembangan teknologi Kedokteran melalui berbagai studi/experimen yang dilakukan.

Manfaat yang sangat berguna dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat ilmiah maupun masyarakat pada umumnya adalah berbagai kemajuan dan temuan-temuan baru dibidang IPTEK menjadi pendorong bagi kesejahteraan masyarakat. Produktifitas yang dihasilkan sebagai wujud kebersamaan dari berbagai disiplin keilmuan yang bekerja bersama dalam studi/experimen yang dilakukan, mendorong untuk dilakukan hal-hal sebagai berikut :

Pembentukan Studi/experimen (Center of Animal Laboratory Experimentation) dengan personalia yang memiliki latar belakang keilmuan dari berbagai disiplin ilmu untuk formasi yang dibutuhkan sesuai dengan kegiatan studi/experimen yang dilakukan.

Dibutuhkan dukungan sarana prasarana dan fasilitas dalam kegiatan studi/experimen dalam Institusi atau Kelembagaan yang ada.

Dibutuhkan ketersediaan berbagai hewan model sebagai hewan coba yang berfungsi sebagai obyek studi/experimen yang dilakukan.

Pengembangan studi/experimen yang terdahulu disamping temuan teknologi/hasil studi yang baru sebagai upaya peningkatan hasil studi/experimen terkini sebagai wujud dari peningkatan dan pengembangan teknologi.

Pemanfaatan berbagai temuan-temuan maupun pengembangan yang dilakukan sebagai institusi/lembaga ilmiah oleh para Akademisi (Staf Pengajar Fakultas/Universitas) dalam studi akhir Strata 1, spesialis, strata 2 maupun strata 3.

Pemanfaatan semua hasil studi/experimen untuk dipublikasikan baik dalam jurnal ilmiah yang berskala lokal, Nasional maupun Internasional.

Dengan semangat multi disiplin sebagai Institusi, membangkitkan spirit keilmuan untuk membangun masyarakat sehat dan sejahtera melalui pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Kolaborasi Antar Disiplin Ilmu

Keberhasilan dari kegiatan studi/experimen melalui hewan coba tidak bisa dilepaskan dari dukungan bersama antar disiplin ilmu yang ada , Para Klinikus khususnya bersama para kolega dari Bagian Anatomi Pathologi dan Histologi, Pathologi Klinik/Hematologi, Biokimia, Physiologi dan Imunologi serta Bagian Statistik memberikan kontribusi nyata dalam berbagai kegiatan dari studi/experimen pada hewan coba yang dilakukan.

Langkah dari kolaborasi juga dilakukan dengan melibatkan sektor swasta yang memberikan kontribusi sebagai partisipasi publik, sehingga tampak mata rantai dari kesinambungan antara Akademisi (Pusat Studi Hewan Coba) dan Pengusaha Swasta yang perduli dan Goverment/Pemerintah yang dalam hal ini dari Pihak Universitas dan Pemerintah Daerah.

Menurut A.A. Tuffery (1995); JSP Lumley et al.(1990); H.B. Waynforth & P.A. Flecknell (2007) bahwa Kegiatan aktual dari Studi/Experimen pada hewan coba sampai dengan saat ini mempresentasikan kegiatan bedah experimen dibidang organ transplan menempati mayoritas kegiatan.

Sebagaimana yang dipahami bahwa sifat dan pengaruh Immuno-suppresif dari Cyclosporine telah diketahui lebih dari puluhan tahun yang lalu, yang telah memberikan manfaat dalam terapi pada organ transplan. Kemajuan yang telah diperoleh dari pemberian terapi ini tidak hanya berhubungan dengan transplantasi organ baru sebagai organ donor seperti intestinal dan pulmo yang memiliki sensibilitas terhadap reaksi penolakan tubuh tetapi juga dipraktekan dalam transplantasi multi organes seperti renal- pancreas ; jantung- paru ; liver-pancreas – intestinal.

Keberhasilan dari bedah experimen dibidang organ transplan tidak terlepas dari keberhasilan yang telah dilakukan dibidang organ transplan melalui percobaan pada hewan terlebih dahulu yang telah memberikan kontribusi keberhasilan transplantasi organ pada manusia untuk memperbaiki kualitas hidup manusia yang bersangkutan. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari keberhasilan melakukan berbagai percobaan yang telah dilakukan pada hewan coba seperti halnya :

Teknik pembedahan untuk pengambilan organ baik dalam bentuk simple maupun multiple.

Teknik penyimpanan/konservasi organ yang baik untuk bisa
ditransplantasikan dengan hasil yang baik.

Teknik bedah reimplantasi dengan tingkat keberhasilan yang baik

Teknik biopsi organ yang ditransplan sebagai kontrol terhadap hasil
transplan organ yang dilakukan.

Studi pendalaman berkaitan dengan penanganan faktor Immunosupression sebagai upaya keberhasilan dari organ transplan yang dilakukan.

Mengapa Babi Menjadi Pilihan Sebagai Model Hewan Coba?

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Lumley JSP(1990) dan Gallix P.(1990) menyatakan bahwa penentuan pilihan terhadap hewan model sebagai hewan coba ditujukan terhadap tujuan studi/experimen yang dilakukan. Dari sisi anatomi dan ukuran tubuh hewan coba sangat penting dan sebagai hewan coba, babi sebagai species mammalia memiliki kesamaan secara luas dengan manusia yang berhubungan dengan sistim cardiovascular, respirasi sistim maupun sistim persyarafan termasuk sistim muskulo-skeletal.

Sebagai hewan golongan omnivora tentunya memiliki kesamaan dengan nutrisi sebagaimana yang menjadi asupan nutrisi hewan coba yang bersangkutan. Babi membutuhkan 6 nutrien esensial yang terdiri dari air, protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Jumlah bahan pakan berserat dalam ransum babi tidak lebih dari 5% dengan kualitas yang baik seperti tepung daun alfalfa, bijian seperti jagung, hijauan yang berfungsi sebagai vitamin sedangkan protein yang berkualitas dalam bentuk suplemen premix.

Kualitas protein dicerminkan dari kandungan asam aminonya, terdapat 10 macam asam amino esensial seperti arginin, histidin, isoleusin, leusin, lisin, methionin, fenilalanin, triptofan dan valin. Demikian juga kebutuhan lemak dalam unsur pakan baibi tetap dibutuhkan tidak lebih dari 5%. 

Kandungan karbohidrat merupakan komponen utama untuk memenuhi kebutuhan energi, TDN yang dikenal sebagai Total Digestible Nutrient digunakan untuk memperkirakan kebutuhan akan energi. Energi metabolis atau energi tersedia dapat pula dianggap sebagai ukuran yang lebih baik untuk mendasari perhitungan.

Kebutuhan mineral, disamping garam dapur, kalsium (Ca) merupakan mineral yang paling dibutuhkan oleh babi, dan sebagai sumber Kalsium dari tepung tulang, tepung dari kulit kerang yang digiling. Kebutuhan yodium juga diperlukan untuk pertumbuhan, kebuntingan maupun periode laktasi. Demikian juga dengan kebutuhan zat besi dan tembaga untuk pembentukan hemoglobin dan kejadian anemia yang sering terjadi pada babi, garam yodium dapat ditambahkan dalam ransum pakan sebesar 0,5%.

Kebutuhan magnesium diperlukan untuk pengontrolan otot, kontraksi dan keseimbangan tubuh, sedangkan Phosphor dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan kerangka dan Zn dibutuhkan untuk kesehatan kulit dan pertumbuhan, sedang garam dapur (NaCl) adalah mineral yang paling umum dibutuhkan dimana kebutuhan minimum adalah 0,2%-0,5%. Vitamin A,D,E,K sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan maupun reproduksi termasuk juga pemberian vitamin B1, B6 maupun B12(James Blakeley dan David H. Bade, 1991). (baca : Konsumsi Ransum Kebutuhan Nutrisi Ternak Babi)

Kateterisasi Pada Babi

Pada beberapa gambar dibawah ini menunjukan bahwa penggunaan babi sebagai hewan coba dalam studi/experimen melalui pembedahan daerah leher pada babi untuk pemasangan kateter pada arteri Carotis.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Studi tersebut dilakukan berhubungan dengan sistim ventilator dalam pembaruan sistim Mesin Anestesi. Keputusan untuk menggunakan babi sebagai hewan coba khususnya dalam pembedahan untuk experimen memberikan kontibusi yang berhubungan dengan:

Babi sebagai hewan coba yang baik digunakan dalam program pembedahan.

Teknik pembedahan pada hewan coba babi memudahkan untuk ditindak lanjuti pada hewan coba dari jenis yang lebih kecil.

Chronic canulation bisa terjadi.

Monitoring utk pemeriksaan MRI, Radiography, Angiography sangat baik.

Bisa dilakukan anestesi dengan durasi yang lama (Fleknell P.A. 1987).


Kesimpulan

Babi sebagai hewan coba sangat baik dipergunakan dalam studi/experimen khususnya dalam kaitan dengan teknologi bedah. Bedah experimen memberikan hasil yang baik dengan babi sebagai hewan coba.

DAFTAR PUSTAKA

Diah Kusumawati. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Gajah Mada University Press.
Flecknell P.A.1987. Laboratory Animal Anaesthesia, Comparative Biology Centre The Medical School, Newcastle Upon Tyne, UK. Academic Press.

Gallix Pierre, 1992. Le Laboratoire de Chirurgie Experimentale. Faculte de Medecine Necker Enfants Malade, Universite Rene Descartes.

James Blakely dan David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan , Gajah Mada University Press.

Lumley JSP, CJ Green, P Lear, J E Angell-James. 1990 Essentials of Experimental Surgery Butterworth & Co. (Publishers) Ltd.

Tuffery A.A. 1995. Laboratory Animals An Introduction for Experimenters. John Wiley & Sons Ltd.

Waynforth H.B., Fleknell P.A. 2007. Experimental and Surgical Technique in the Rat. Elsevier Academic Press.


Sumber :
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Ternak Babi 2014

0 Response to "TERNAK BABI MENJADI PILIHAN SEBAGAI MODEL HEWAN COBA"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel