Tinjauan Pustaka Karakteristik Anggota Kelompok SIMANTRI di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis SWOT

Definisi dan Konsep Simantri


Simantri adalah upaya terobosan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian, karena merupakan pengembangan model percontohan dalam percepatan alih teknologi kepada masyarakat pedesaan. Simantri mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010).



Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan kebutuhan pangan manusia (food), pakan ternak (feed), pupuk (fertilizer), dan bahan bakar (fuel) yang biasa disebut 4F. Kegiatan utamanya adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim kemarau dan limbah ternak (faeces, urine) diolah menjadi biogasbiourine, pupuk organik dan bio pestisida (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010).

https://www.berbagiilmupeternakan.com/


Maksud dan tujuan kegiatan Simantri yaitu: (1) mendukung berkembangnya diversifikasi usaha pertanian secara terpadu dan berwawasan agribisnis, (2) sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, mendukung pembangunan ramah lingkungan, Bali bersih dan hijau (clean and green) serta program Bali Organik menuju Bali Mandara;

(3) kegiatan utama adalah integrasi tanaman dan ternak dengan kelengkapan: unit pengolah kompos, pengolah pakan, instalasi biourine dan biogas, dan (4) dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan dengan target peningkatan pendapatan petani pelaksana, minimal 2 (dua) kali lipat dalam 4 – 5 tahun ke depan. 

Kriteria lokasi kegiatan Simantri yakni: (1) desa yang memiliki potensi pertanian dan memiliki komoditi unggulan sebagai titik ungkit, (2) terdapat Gapoktan yang mau dan mampu melaksanakan kegiatan terintegrasi, dan (3) dilaksanakan pada desa dengan rumah tangga miskin (RTM) yang memiliki SDM dan potensi untuk pengembangan agribisnis (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010).

Indikator Keberhasilan Simantri


Untuk menilai keberhasilan kegiatan Simantri, terdapat ukuran keberhasilan yang dipergunakan yaitu indikator keberhasilan Simantri (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010). Beberapa indikator keberhasilan Simantri yang diharapkan dapat terwujud dalam jangka pendek (4-5 tahun) yaitu:



(1) berkembangnya kelembagaan dan SDM baik petugas pertanian maupun petani. (2) Terciptanya lapangan kerja melalui pengembangan diversifikasi usaha pertanian dan industri rumah tangga, (3) berkembangnya intensifikasi dan ekstensifikasi usaha tani, (4) meningkatnya insentif berusaha tani melalui peningkatan produksi dan efisiensi usaha tani, (5) tercipta dan berkembangnya pertanian organik menuju green economi, (6) berkembangnya lembaga usaha ekonomi perdesaan, dan (7) peningkatan pendapatan petani (minimal 2 kali lipat).



Paket Kegiatan Utama Simantri


Paket kegiatan utama Simantri pada tahap awal yang disyaratkan meliputi: (1) pengembangan komoditi tanaman pangan, peternakan, perikanan dan intensifikasi perkebunan sesuai potensi wilayah, (2) pengembangan ternak sapi atau kambing dan kandang koloni (20 ekor), (3) Bangunan instalasi bio gas sebanyak 3 unit; kapasitas 11 m3 sebanyak 1 unit dan kapasitas 5 m3 masing-masing 1 unit dilengkapi dengan kompor gas khusus sebanyak 5 unit;

(4) bangunan instalasi biourine sebanyak 1 unit, (5) bangunan pengolah kompos dan pakan masing-masing sebanyak 1 unit, dan (6) pengembangan tanaman kehutanan sesuai kondisi dan potensi masing-masing wilayah (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010).



Dinas Pertanian Tanaman Pangan (2010) menyebutkan paket utama Simantri dibiayai dari dana Bantuan Sosial (Bansos) APBD Provinsi, akan tetapi pada tahun 2012 program simantri dibiayai melalui dana Hibah hingga sekarang. Untuk kegiatan penunjang termasuk dalam pengembangan infrastruktur perdesaan dibiayai dari kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait sesuai ketersediaan dana dan kegiatan masing-masing.



Dalam jangka panjang juga diharapkan peran swasta dalam bentuk Coorporate Social Responsibility (CSR). Dukungan pembinaan teknis dan pembiayaan juga dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali.



Kelompok Tani/Ternak


https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Kelompok Tani/Ternak adalah kumpulan petani atau peternak yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Jumlah anggota kelompok tani terdiri atas 20 orang atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan usaha taninya (Deptan, 2007).



Kelembagaan petani (kelompok tani) mempunyai fungsi yang meliputi : (1) Kelas Belajar; wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta berkembangnya kemandirian dalam berusaha tani sehingga produktivitasnya meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera, dan



(2) Wahana Kerjasama; untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompoktani serta dengan pihak lain. sehingga usaha taninya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.



Karakteristik Petani

Petani memiliki karakteristik yang sangat beragam, karakteristik tersebut dapat berupa karakteristik ekonomi, karakteristik sosial serta karakteristik demografi sesuai dengan lingkungan fisik (topografi wilayah) tempat petani tersebut menetap. Karakteristik tersebutlah yang membedakan petani dilihat dari tipe perilaku terhadap situasi tertentu.



Menurut Hartanto (1984), karakteristik petani berdasarkan lingkungan fisik meliputi: umur, pendidikan, luas lahan, pendapatan petani dan pengalaman. Karakteristik petani menurut Nurmanaf (2003) yaitu meliputi : jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan formal, jumlah tanggungan keluarga, pengalaman, sumber informasi, dan pendapatan usaha tani.



Karakteristik petani jika dilihat dari indikator utamanya yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal, pengalaman, pengetahuan, keaktifan dalam kelompok tani, kepemilikan lahan, dinyatakan secara serempak berpengaruh terhadap penerapan usaha tani, sehingga dikatakan bahwa variabel tersebut mempengaruhi produksi dan produktivitas dari usaha tani yang dilakukan (Sanjaya, 2013).



Sikap dan karakteristik petani terhadap suatu kegiatan usaha tani dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal (Mar’at, 1984). Faktor-faktor karakteristik petani yang diamati dalam penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

Pendidikan Formal


Pendidikan formal adalah pendidikan yang sifatnya melembaga, yang pelaksanaannya sesuai dengan perkembangan seseorang. Pendidikan formal berhubungan erat dengan kemampuan intelektual. Wahjono (2010) mengatakan bahwa kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental.



Tujuh dimensi paling sering dikutip yang membentuk kemampuan intelektual adalah kemahiran berhitung, pemahaman (comprehension) verbal, kecepatan perceptual, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruang, dan ingatan (memori). 

Soekartawi (1988) mengemukakan bahwa mereka yang berpendidikan lebih tinggi akan relatif lebih cepat menerapkan inovasi, begitu pula sebaliknya, mereka yang berpendidikan lebih rendah agak sulit untuk menerapkan inovasi ini dengan cepat.



Gapener, (1964) (dalam Nuraini, 1984) menyatakan bahwa pendidikan merupakan faktor penting untuk mempercepat proses penerapan inovasi. Pendidikan anggota rumah tangga petani dapat mempengaruhi keputusan produksi. 

Chavas et. al. (2005) dalam penelitiannya memasukkan pendidikan dalam menganalisis karakteristik rumah tangga dan usaha tani. Makin tinggi tingkat pendidikan, makin mudah anggota keluarga mengadopsi teknologi sehingga mereka dapat meningkatkan produksi secara rasional untuk mencapai keuntungan yang maksimum.



Mosher (1983) menyatakan bahwa, pendidikan formal merupakan faktor pelancar yang dapat mempercepat pembangunan pertanian. Dengan pendidikan formal yang memadai seorang petani akan lebih mudah dalam mengadopsi teknologi baru, mengembangkan keterampilan, dan memecahkan permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya dikatakan tingkat pendidikan formal berpengaruh terhadap keinovativan, kecepatan proses adopsi inovasi dan perilaku petani itu sendiri.



Pendidikan Non Formal


Pendidikan non formal menurut Rogers (2005) adalah setiap kegiatan yang terorganisir dan sistematis, di luar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari aktifitas yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani proses belajar peserta didik tertentu dalam mencapai tujuan belajarnya.



Pendidikan non formal melayani pendidikan kepada masyarakat baik orang dewasa maupun anak-anak. Selanjutnya menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyarankan bahwa definisi pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar jalur pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara berstruktur dan berjenjang.



Wahjono (2010) mengatakan bahwa pendidikan non formal adalah pengajaran sistematis yang diorganisir di luar sistem pendidikan formal bagi sekelompok orang untuk memenuhi keperluan khusus. Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal.



Suhardiyono (1992),  menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas pendidikan non formal yang pernah diikuti oleh petani akan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan keterampilannya dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya. Selanjutnya dikatakan semakin banyak pendidikan non formal yang pernah diikuti petani, maka akan semakin meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya.



Pendidikan non formal bagi petani umumnya bersifat penyuluhan yang dimaksudkan untuk mengembangkan potensi petani dengan penekanan pada penguasaan teknologi dan keterampilan fungsional dalam bidang pertanian serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional bagi petani itu sendiri (Kartasapoetra, 1987)).



Pengalaman


Pengalaman adalah banyaknya jenis pekerjaan atau jabatan yang pernah diemban oleh seseorang, serta lamanya mereka bekerja pada masing-masing pekerjaan. Semakin banyak pengalaman kerja seseorang maka akan semakin banyak manfaat yang berdampak pada luasnya wawasan pengetahuan di bidang pekerjaannya serta semakin meningkatkan keterampilan orang tersebut 

(Mardikanto, 1992). Pengalaman kerja akan mempengaruhi keterampilan seseorang dalam melaksanakan tugas dan juga membuat kerja lebih efisien (Cahyono, 1995). Pengalaman kerja adalah sebagai suatu ukuran tentang lama waktu atau masa kerjanya yang telah ditempuh seseorang dalam memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakannya dengan baik (Foster, 2001). 

Terdapat beberapa hal untuk menentukan berpengalaman tidaknya seorang karyawan yang sekaligus sebagai indikator pengalaman kerja seperti masa kerja, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, serta penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.



Pengetahuan


Setiap orang mempunyai kekuatan dan kelemahan dalam hal kemampuan yang membuatnya relatif unggul atau rendah dibandingkan orang-orang lain dalam melakukan tugas atau kegiatan tertentu. Jahi (1989) menyatakan bahwa pengetahuan menekankan pada usaha untuk membuat seseorang yang belum mengetahui adanya sesuatu menjadi mengetahuinya, sedangkan Wahyu (1986), menyatakan bahwa pengetahuan merupakan produk dari kegiatan berpikir manusia.



Sutrisna dan Nuraini (1987) menyatakan bahwa pengetahuan seseorang tentang suatu inovasi serta sikapnya terhadap inovasi tersebut menentukan kesiapannya untuk melaksanakan inovasi tersebut, serta dengan sikap yang positif lebih bisa diharapkan dari seseorang untuk menerapkan suatu inovasi. 

Lebih lanjut Supriyanto (1978) menyebutkan bahwa pengetahuan petani juga sangat menunjang kelancaran petani dalam mengadopsi suatu inovasi maupun kelanggengan usahataninya. Rogers dan Shoemaker (1971) membagi tiga tipe pengetahuan dalam tahap pengenalan suatu inovasi, yaitu :



1) Pengetahuan kesadaran akan adanya inovasi yang dapat menyebabkan timbulnya kebutuhan, sehingga dengan adanya pengetahuan ini akan dapat menumbuhkan motivasi mereka untuk mengadopsinya.



2) Pengetahuan teknis meliputi informasi yang diperlukan mengenai cara penggunaan dan pelaksanaan suatu inovasi.



3) Pengetahuan prinsip adalah pengetahuan yang berkenaan dengan prinsip berfungsinya suatu inovasi, sehingga petani akan lebih mudah mengadopsi inovasi karena petani mampu meramal kegunaan dari inovasi tersebut dalam jangka panjang.



Keaktifan Dalam Kelompok


Pada dasarnya keaktifan dalam kelompok didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang  mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada  kelompok dalam usaha mencapai tujuan. Keaktifan dalam kelompok dalam kelompok, bukan hanya berarti  keterlibatan jasmaniah semata.



Keaktifan dalam kelompok dapat di artikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan  emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.



Keaktifan dalam kelompok adalah keterlibatan spontan dengan kesadaran disertai tanggung jawab terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama (Sastroepoetra, 2004).   

Mikkelsen (2003) menyatakan bahwa, keaktifan dalam kelompok adalah suatu proses keterlibatan dimana anggota kelompok secara langsung ikut serta dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek atau kegiatan yang dimiliki dengan tujuan untuk menumbuhkan kemandiriaannya, meningkatkan pendapa tannya dan pengembangan.



Keaktifan petani dalam kelompok merupakan keikutsertaan  dari petani baik secara individu maupun secara kelompok dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab dalam bidang usaha pertanian (Porawouw, 2005).



Analisis “SWOT”


Analisis SWOT adalah teknik analisis data yang mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pengembangan. Analisis ini didasarkan pada logika yang memaksimalkan kekuatan (Strength) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). Proses pengembalian keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan kelompok.


Dengan demikian perencana strategis (Strategic Planner) harus menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini (Rangkuti, 2009). 

Pendapat tersebut didukung oleh pernyataan Suwarsono (2004) untuk mencapai tujuan kelompok yang telah ditetapkan, perlu memperhatikan dua faktor pokok yakni: faktor eksternal yang tidak terkontrol oleh kelompok, dan faktor internal yang sepenuhnya berada dalam kendali kelompok.



Faktor eksternal merupakan lingkungan bisnis yang melingkupi operasi kelompok yang dari padanya muncul peluang (opportunities) dan ancaman (threats) bisnis. Faktor ini mencakup lingkungan industri, bisnis, ekonomi, politik, hukum, teknologi, kependudukan, dan sosial budaya. 

Faktor internal meliputi semua macam manajemen fungsional; pemasaran, keuangan, operasi, sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, sistem informasi manajemen dan budaya kelompok (corporate culture). Dari penguasaan faktor internal kelompok dapat mengidentifikasikan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) yang dimiliki.



Salusu (1996), selanjutnya mengatakan bahwa lingkungan eksternal terdiri dari atas dua faktor yaitu peluang dan ancaman.  Peluang merupakan suatu kondisi dari faktor-faktor eksternal yang membantu kelompok mencapai atau bahkan melampaui pencapaian sasarannya. Sedangkan ancaman adalah faktor-faktor eksternal yang menyebabkan kelompok tidak dapat mencapai sasarannya dan bahkan bersifat negatif.



Beberapa faktor yang terdapat dalam lingkungan eksternal adalah kekuatan hukum dan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan sosial-kultural dan kekuatan teknologi (Hunger dan Thomas, 2003). Kekuatan hukum dan politik meliputi kekuasaan dan pelaksanaan serta perlindungan hukum dan aturan-aturan. 

Sedangkan, kekuatan ekonomi yang dimaksudkan adalah menyangkut pertukaran material, uang, energi, dan informasi. Pengaturan nilai-nilai, adat istiadat dan kebiasaan lingkungan merupakan bagian dari kekuatan sosial-kultural.



Untuk merumuskan strategi, digunakan alat bantu berupa matriks SWOT yang menggambarkan peluang dan ancaman yang dihadapi suatu kelompok, yang selanjutnya disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini menghasilkan empat set kemungkinan strategi sebagai berikut:



Strategi SO (Strengths-Opportunities); menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada.



Strategi ST (Strengths-Threats); menggunakan kekuatan untuk menghindari dan mengatasi ancaman.



Strategi WO (Weaknesses-Opportunities); memanfaatkan peluang yang ada untuk mengatasi kelemahan internal.



Strategi WT (Weaknesses-Threats); berupaya meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman.



DAFTAR PUSTAKA


                      

Arbi, P. (2009). Analisis Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong (Studi Kasus Desa Kesuma Kecamatan Namo Rambe Kabupaten Deli Serdang). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara, Medan.



Anonim. (2009). Pedoman Umum Program Swasembada Daging Sapi 2014, Kementerian Pertanian, Jakarta.



Anonim. (2009). Program Pembangunan Sektor Pertanian. Kementerian Pertanian, Jakarta.



Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Bali. (2011). Provinsi Bali Adopsi Program Prima Tani menjadi Simantri. Edisi Khusus Penas XIII, 21 Juni 2011. Website: www.bali.litbang.deptan.go.id. Diakses Tanggal 10 November 2015.



Dananjaya, I.G.A.N. (2014). Pengaruh Jiwa Kewira usahaan dan Manajemen Agribisnis terhadap Keberhasilan Gapoktan Simantri di Kabupaten Tabanan. Tesis. Bidang Ilmu Agribisnis. Universitas Udayana. Denpasar.



David, F. R. (2002). Manajemen Strategik. Edisi Ketujuh. Jakarta: PT. Prenhallindo.



Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali: Denpasar. http://distan provinsibali.com/syarat-Gapoktan-simantri.



Prawirokusumo, S.(1990). Ilmu Usahatani. BPIE, Yogyakarta.



Priyanti, A. (2007). Dampak Program Sistem Integrasi Tanaman-Ternak terhadap Alokasi Waktu Kerja, Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga Petani. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.



Rangkuti F. (2008). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.


Salikin, K. A. (2003). Sistem Pertanian Berkelanjutan. Kanisius. Yogyakarta.


Salusu, J. (2000). Pengambilan Keputusan Strategik untuk Organisasi Publik dan Nonprofit. Cetakan Ketiga. Jakarta; PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Siagian, S.P. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara, Jakarta.


Suradisastra, K. (2008). Startegi Pemberdayaan Kelembagaan Petani. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor.

Van Den Ban, A.W dan H.S. Hawkins. (1999). Penyuluhan Pertanian. Kanisius, Yogyakarta.


(Untuk Bab Pendahuluannya, silahkan baca disini : 


Karakteristik Anggota Kelompok SIMANTRI di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis SWOT

Read more: https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Karakteristik Anggota Kelompok SIMANTRI di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis SWOT

Read more: https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Karakteristik Anggota Kelompok SIMANTRI di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis SWOT

Read more: https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Semoga bermanfaat....


0 Response to " Tinjauan Pustaka Karakteristik Anggota Kelompok SIMANTRI di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis SWOT"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel