MASALAH GANGGUAN REPRODUKSI PADA TERNAK RUMINANSIA


Rendahnya peningkatan populasi ternak ruminansia menandakan adanya problem yang serius, khususnya adalah problem kesehatan reproduksi (gangguan reproduksi). Kesehatan reproduksi ternak ruminansia memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan peningkatan populasi. Adanya gangguan kesehatan reproduksi ternak ruminansia atau dikenal dengan istilah gangguan reproduksi ditandai dengan efisiensi reproduksi dan produktifitas yang rendah.

Dampak adanya gangguan reproduksi dapat dilihat dari tingginya service per conception (S/C), panjangnya calving interval (CI), dan rendahnya angka kelahiran. Dari berbagai pemeriksaan yang dilakukan di wilayah Indonesia gangguan reproduksi pada ternak ruminansia besar seperti sapi potong, sapi perah dan kerbau pada tahun 2015, tahun 2016 dan awal tahun 2017 sekitar 40-55% sapi dan atau kerbau betina yang diperiksa mengalami gangguan reproduksi.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Gangguan Reproduksi Ternak Ruminansia

Kasus gangguan reproduksi pada ternak ruminansia yang terbanyak adalah hypofungsi ovarium, repeat breeding (kawin berulang), silent heat, corpus luteum persisten, delayed puberty  dan endometritis atau metritis.

Adanya gangguan kesehatan reproduksi ternak ruminansia atau dikenal dengan istilah gangguan reproduksi ditandai dengan efisiensi reproduksi dan produktifitas yang rendah. Antara lain adalah sebagai berikut:

 Rendahnya angka kelahiran

Tingginya angka kematian .

Gangguan reproduksi (yang sifatnya fungsional) dan penyakit menular

Kurang terkontrolnya pemotongan betina produktif,serta penjantan berkualitas di RPH.

Gangguan reproduksi yang sifatnya fungsional secara garis besar disebabkan oleh :     

(1) Anestrus : tidak aktifnya kelakuan kelamin secara lengkap di tandai dengan tidak munculnya gejala estrus.

(2) Kawin berulang : sapi betina dengan siklus estrus normal /mendekati normal tapi sudah dikawinkan baik alam maupun Inseminasi Buatan (IB), tidak menunjukan kebuntingan (kematian embrio dini serta gangguan fertilitas 25 - 40 % merupakan penyebab umum). Permasalahnya pada saat kebuntingan dan komplikasi setelah melahirkan (post parturition complication )

Masalah Gangguan Reproduksi Pada Ternak Ruminansia

Hypofungsi Ovarium (Ovarium In- Aktif)

 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Hipofungsi ovarium
Hipofungsi ovarium adalah suatu keadaan dimana ovarium kurang berfungsi yang ditandai dengan tidak munculnya birahi (anestrus) dan umumnya sering terjadi pada ternak ruminansia setelah beranak atau dara yang kondisi tubuhnya rendah atau ternak ruminansia yang kurus. Ovarium atau indung telur ternak ruminansia yang mengalami hypofungsi ovarium pada umumnya tidak berkembang, pat palpasi per rektal akan teraba licin dan pipih.

Penyebab Hypofungsi Ovarium karena adanya gangguan hormon, yaitu terjadi penurunan sekresi Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) oleh hipothalamus, diikuti menurunnya hormon kekurangan pakan baik kualitas dan kuantitas (kurus, skor kondisi tubuh kurang dari 2.5), keseimbangan nutrisi yang jelek, menderita penyakit akut dan kronis seperti cacingan, iklim yang tidak serasi dengan kehidupan ternak seperti suhu yang terlalu tinggi atau terlalu panas.

Kejadian Hypofungsi Ovarium akan sembuh setelah ada perbaikan pakan. Untuk mempercepat kesembuhan hipofungsi ovaria, selain perbaikan pakan sebaiknya diberi vitamin yang mengadung vitamin ADE dan mineral, ini akan mempercepat aktifitas ovaria. Pemberian GnRH dapat dilakukan jika SKT sudah memenuhi syarat.

Repeat Breeding

 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Reapeat breeding
Reapeat breeding adalah ternak ruminansia yang mempunyai siklus estrus normal dan sudah dikawinkan lebih dari tiga kali namun belum bunting. Penyebab dasarnya adalah karena kegagalan fertilisasi dan kematian embrio dini. Repeat breeding sebetulnya bukan merupakan suatu kasus, tapi suatu gejala dari suatu kasus.

Kasus-kasus dilapangan yang ditandai dengan adanya repeat breeding adalah endometritis subklinis, delayed ovulation, sista korpora luteal, anovulation dan defisiensi luteal. Kemampuan dokter hewan dilapangan utnuk menentukan kasus-kasus tersebut sangatlah penting agar terapi yang dilakukan bisa lebih tepat. Kesalahan dalam menentukan diagnosa dengan gejala repeat breeding dapat mengacaukan terapi yang diberikan sehingga hasilnya tidak maksimal.

Pada umumnya, dokter hewan dilapangan memberi terapi repeat breeding dengan antiseptik (iodin povidon) atau antibiotik, dan ini hanya akan memberi hasil kesembuhan (bunting) sekitar 20%. Kalau dikombinasi dengan hormon GnRH, tingkat kebuntingan bisa mencapai 60%.

Korpus Luteum Persisten (CLP)

 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Korpus Luteum Persisten

Korpus Luteum Persisten adalah suatu keadaan korpus luteum tetap ada (persisten) dalam jangka waktu yang lama, disebabkan adanya gangguan terhadap produksi dan pelepasan prostaglandin dari endometrium yang ditandai dengan anestus (ternak ruminansia tidak menunjukan birahi). Korpus luteum persisten sebetulnya merupakan suatu gejala dari adanya gangguan pada endometrium (uterus) dan bukan merupakan kasus gangguan reproduksi.

Gangguan reproduksi yang ditandai dengan adanya CLP dapat berupa endometritis klinis, piometra, mummifikasi, dan maserasi fetus. Terapi untuk mengatasi adanya CLP adalah tergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan karena maserasi fetus, penanganan yang paling baik adalah dengan operasi. Pada umumnya terapi CLP adalah dengan injeksi prostaglandin dan idealnya dikombinasi dengam pemberian iodin povidon 1%.

Silent Heat

 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Silent Heat
Silent Heat adalah suatu keadaan pada ternak ruminansia yang tidak menunjukkan gejala estrus yang jelas dan jika dilakukan palpasi perrektal teraba ada aktifitas ovarium seperti adanya korpus luteum atau folikel. Peternak tidak akan pernah mengetauhinya jika ternak ruminansia miliknya sedang dalam keadaan estrus.

Seorang dokter hewan yang sudah pengalaman akan dengan mudah menentukan silent heat, yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara rektal. Terapi silent heat tergantung pada hasil pemeriksaan. Jika ditemukan ada korpus luteum, sebaiknya langsung diinjeksi prostaglandin. Pemberian mineral, vitamin ADE dan hormon GnRH akan mempercepat kesembuhan silent heat.

Delayed Puberty



Keterlambatan dewasa kelamin (Delayed Puberty) adalah suatu keadaan ternak ruminansia belum mengalami dewasa kelamin (belum pernah estrus) walau umurnya sudah mencapai lebih dari dua tahun, yang ditandai (palpasi perektal) tidak adanya aktifitas ovarium. Kejadian keterlambatan dewasa kelamin dilapangan cukup tinggi dan penyebab utamanya adalah kekurangan nutrisi.

Pada daerah tertentu, faktor inbreeding (model peternakan semi intensif dan lepas dipadangan) mungkin sangat berpengaruh. Secara palpasi per-rektal, ciri utama dari delayed pubertas adalah ovarium belum aktif, dan ukurannya lebih kecil. Pemberian pakan yang baik dan vitamin ADEK dapat membantu mempercepat dewasa kelamin.

Endometritis

 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Endometritis Pada Sapi
Endometritis adalah infeksi endometrium dan merupakan peradangan uterus yang paling ringan. Endometritis dapat merupakan lesi primer atau kondisinya berkembang secara cepat menjadi peradangan uterus yang lebih berat. Uterus ternak ruminansia biasanya terkontaminasi dengan berbagai mikroorganisme selama masa puerperium atau masa nifas. Bakteria disingkirkan dari lumen uterus selama minggu-minggu pertama setelah beranak oleh proses fagositosis yang prosesnya dipacu oleh estrogen dan dihambat oleh progesteron.

Penyebab utama kejadian edometritis adalah mikroba yang masuk akibat perlakuan IB yang tidak legeartis dan perawatan post partum yang tidak benar. Gejala yang muncul diawali keluarnya leleran yang berbau busuk dan sapi tidak menunjukan estrus. Terapinya tergantung tingkat keparahan dan agen penyebab infeksi




Demikian penjelasan tentang Masalah Gangguan Reproduksi Pada Ternak Ruminansia. Semoga bermanfaat...

Sumber : Litbang Pertanian

0 Response to "MASALAH GANGGUAN REPRODUKSI PADA TERNAK RUMINANSIA"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel