Kebutuhan Nutrisi Pada Ternak Ruminansia


Nutrisi yang dibutuhkan oleh Ternak Ruminansia dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) kebutuhan untuk mikroba di dalam rumen dan (b) kebutuhan untuk ternak itu sendiri.

Kebutuhan nutrisi untuk mikroba rumen dapat berupa asam amino essensial, asam amino rantai cabang, ammonia, mineral sulfur dan asam α keto. Nutrisi tersebut diperlukan mikroba rumen untuk proses sintesis protein tubuhnya disamping memerlukan ATP sebagai sumber energi tinggi untuk terjadinya reaksi kimiawi.

Kebutuhan nutrisi untuk ternak ruminansia sama dengan ternak monogastrik yaitu membutuhkan air, protein, lemak, serat kasar, energi, vitamin dan mineral makro maupun mikro. 

Berikut ini penjelasan tentang Kebutuhan Nutrisi Ternak Ruminansia:

Air

Acap kali kita membicarakan kebutuhan zat gizi, kebutuhan air sering terabaikan.  Padahal air merupakan komponen terbesar tubuh ternak yang senantiasa menjaga keseimbangan suhu tubuh. Air juga ikut berperan dalam p roses pencernaan (hidrolisis protein, karbohidrat maupun lemak), proses penyerapan zat gizi, proses transport metabolit di dalam tubuh serta proses eksresi sisa metabolis ke luar tubuh.

Kebutuhan air sangat tergantung pada bentuk pakan, kandungan bahan kering pakan, cara makan serta suhu lingkungan. Pada ternak sap i setiap kg bahan kering yang dikonsumsi memerlukan air minum 3 – 5 L. Pada ternak yang masih menyusu kebutuhan air lebih besar lagi, yaitu dapat berkisar antara 6 – 7 L air/kg konsumsi bahan kering.

Sapi perah membutuhkan lebih banyak air untuk menjamin produksi susunya. Pemberian air minum secara berlebih (ad libitum) pada sapi perah laktasi dapat meningkatkan p roduksi susu antara 1 – 2 L/hari tanpa penambahan pakan suplemen.  

Adanya garam dapur (NaCl) atau protein dalam konsentrasi tinggi di dalam pakan akan memicu ekskresi urine, sehingga akan menyebabkan peningkatan konsumsi air.

Protein

Penentuan kebutuhan protein ternak mengalami perkembangan, yaitu jika semula hanya ditentukan berdasarkan protein kasar, kemidian berkembang ke protein tercerna,  sekarang ini telah berkembang ke arah kebutuhan UDN (Undegradable Dietary Nitrogen) atau UDP (Undegradable Dietary Protein).

UDP (Undegradable Dietary Nitrogen)merupakan bagian dari protein pakan yang tidak terdegradasi di dalam rumen dan sampai di usus halus untuk diserap . Besarnya nilai UDP sangat tergantung jenis sumber protein, komponen pakan lainnya dalam ransum, level pemberian serta status fisiologis ternak. Untuk memberikan gambaran, Tabel 2 berikut ini berisi keterangan tentang nilai UDP berbagai sumber pakan ternak ruminansia.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Energi

Kebutuhan energi ternak seringkali dinyatakan dalam satuan kalori atau joule, dimana per definisi 1 cal = 4.182 joule. Pada ternak ruminansia dikenal istilah Total Digestible Nutrient (TDN), yaitu suatu asumsi bahwa selisih antara nutrisi yang dikonsumsi dengan nutrisi yang terdapat di dalam feaces merupakan nilai nutrisi yang tercerna dan dapat diubahmenjadi energi.

Oleh karena itu nilai TDN dapat dihitung dari konversi nilai DE (Digestible Energy) atau nilai ME (Metabolizable Energy). Padahal kenyataannya energi tidak dapat dicerna atau dimetabolisir, melainkan hanya akan diubah sesuai dengan hukum kekekalan energi.

Pendapat Professor Max Kleiber pada awal dekade enam puluhan yang menyatakan bahwa:
“.... Metabolisable Energy is not a homogenous entity; instead it represents an assembly of nutrients or metabolites each of which is used with a specific efficiency for a particular  Purposes....” 

(Terjemahan bebas : “ Metabolisable Energy bukanlah ukuran homogen melainkan mewakili perpaduan nutrisi dimana masing-masing nutrisi digunakan oleh ternak secara spesifik untuk tujuan
Tertentu ”.

Para ahli pakan ternak telah melakukan kesalahan istilah dalam memberikan terminologi yang tepat bagi energi dan hingga sekarang masih tetap dijumpai di kepustakaan kan istilah TDN, DE atau ME untuk menentukan besaran kebutuhan ternak akan energi. Di Indonesia hampir semua pakar menggunakan satuan TDN untuk menghitung kebutuhan energi ternak ruminansia mengikuti sistem di Amerika.

Namun The National Research Council (NRC), Amerika Serikat sekarang ini tidak hanya mempublikasika tabel kebutuhan nutrisi ternak ruminansia dengan menggunakan satuan TDN untuk energi, melainkan juga mencantumkan nilai M E dan NE (nett energy ) untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan maupun untuk ternak laktasi.

Oleh karena itu sudah waktunya kita juga melakukan suatu re-orientasi dalam formulasi pakan ternak ruminansia yang kita sesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Kalau hingga saat ini Indonesia masih mengadopsi TDN sesungguhnya hanya seperti pepatah “Tiada Rotan Akarpun Jadi”.
Untuk mengkorversikan nilai TDN ke DE atau ME digunakan asumsi sebagai berikut :
**Setiap kg TDN = 4 M cal DE, sedangkan M E = 0.82 DE. Dengan demikian setiap kg TDN = 3,28 M cal ME. **



https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Lemak

Pakan ternak ruminansia umumnya mengandung lemak relatif rendah, yaitu kurang dari 5 % meskipun telah diberi pakan konsentrat. Jika diberi hanya hijauan kadar lemaknya dapat lebih rendah lagi.

Namun demikian karena konsumsinya relatif banyak maka sesungguhnya konsumsi lemak pakan juga relatif besar. Selain itu dengan adanya pasokan mikroba rumen yang mengandung fosfolipid, maka serapan lemak dari usus halus sangat besar jika dibandingkan dengan ternak monogastrik.

Peranan lemak dalam pakan cukup besar terutama bagi sapi perah karena lemak pakan memberikan kontribusi bagi kadar lemak susu. Salah satu karakteristik ternak ruminansia ialah terjadiny a proses dehidrogenasi lemak pakan di dalam rumen sehingga lemak tak jenuh diubah menjadi lemak jenuh karena pergantian ikatan rangkap dengan dua atom hidrogen. Sebagai contoh asam oleat (C18:1) akan diubah menjadi asam stearat (C18:0).

Oleh karena itu sebagian besar lemak y ang terserap dari usus halus juga berupa lemak jenuh. Hasil penelitian muthakir (Thun 2010) menunjukkan bahwa ternak ruminansia mamp u mentoleransi kandungan lemak pakan hingga 10 % tanpa mengalami gangguan pencernaan. Peranan lemak pakan adalah sebagai sumber energi melalui konversi gliserol yang terbebaskan dari proses hidrolisis lemak, menjadi VFA.

Penambahan lemak dalam pakan sapi perah memiliki keuntungan sebagai berikut:
M eningkatkan densitas kalori dari ransum, terutama jika konsumsi pakan terbatas oleh bahan pakan pengisi perut seperti rumput atau jerami padi.

Membatasi kebutuhan konsentrat yang mengandung karbohidrat kaya energi. Konsentrat seperti ini umumnya diberikan pada sapi perah dalam fase awal laktasi dimana sapi perah dalam kondisi keseimbangan energi negatif . 

Pada kondisi cuaca panas, pemberian lemak akan dapat membantu mengurangi stress akibat panas pada sapi laktasi.

Sebagai pedoman sapi perah tidak boleh diberi suplemen lemak hingga 1.5 kg/hari disamping konsumsi lemak yang terkandung di dalam pakan.Kadar lemak total ransum yang masih dapat dianjurkan ialah sekitar 6 hingga 8% sebelum muncul dampak negatif nya.

Produksi susu umumnya akan dimaksimalkan jika kadar lemak mencapai 5 % dari total kadar bahan kering pakan. Penambahan lemak umumnya akan menurunkan kandungan protein susu hingga 0,1%. Selain itu pemberian lemak secara berlebihan akan menurunkan konsumsi pakan, produksi susu serta komposisi lemak susu.

Serat Kasar

Fungsi utama serat kasar ada tiga yaitu, sebagai pengisi lambung, menjaga fungsi peristaltik usus dan merangsang salivasi. Hasil fermentasi komponen serat kasar adalah berupa VFA rantai p endek y aitu asam asetat yang berfungsi sebagai bakalan lemak susu. Oleh karena itu imbangan antara hijauan dan konsentrat dalam p akan akan berpengaruh juga terhadap kadar lemak susu.

Pemberian sumber serat kasar dalam bentuk panjang akan merangsang sekresi saliva sehingga berfungsi sebagai penyanggah (Buffering Action) keasaman rumen . Hal ini akan mencegah terjadinya acidosis serta merangsang aktivitas bakteri selulolitik yang sangat sensitif terhadap keasaman (p H) di bawah 5.

Gerakan peristaltik usus akan distimulir oleh kehadiran serat kasar, sehingga fungsi usus menjadi normal. Penelitian yang dilakukan di Rowett Research Institute, Aberdeen, UK menunjukkan bahwa sapi yang dipelihara dengan menginfus cairan berisi nutrisi yang diperlukan tetap dapat hidup , namun hanya mengeluarkan feaces dua atau tiga hari sekali. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi peristaltik usus mengalami gangguan.

Vitamin

Pada ternak ruminansia yang memperoleh pakan basal berupa limbah pertanian, misalnya jerami padi, dalam kurun waktu lama akan mengalami defisiensi vitamin  secara nyata dengan akibat pada sapi berupa gangguan buta ayam (night blindness), abortus, atau degenerasi ginjal.

Mineral

Kebutuhan mineral untuk ternak ruminansia dapat dibagi kedalam dua kelompok yaitu mineral makro (Ca, Na, Cl, K, P, S, Mg) dan mineral mikro (Cu, I, Fe, Zn,Co, Se, Mn). Fungsi utama mineral makro Na, Cl, dan K adalah sebagai agent elektro-kimia yang berperan dalam proses menjaga keseimbangan asam-basa dan mengontrol tekanan osmotik air sehingga didistribusikan ke seluruh tubuh.

Sedangkan mineral lainnya memiliki fungsi struktural, misalny a Ca dan P adalah komponen esensial pada tulang dan gigi. Selain itu peran mineral S
dalam proses sintesis protein mikroba di dalam rumen sangatlah penting.

Beberapa mineral mikro mempunyai fungsi khas, misalnya mineral Fe merupakan komponen penting dari haemochromogens, yaitu senyawa penting dalam proses respirasi. Sedangkan mineral Co diperlukan sebagai bagian metal senyawa vitamin B12. Mineral yodium ( I ) merupakan komponen penting hormon tyroxine.

Apabila kita ingin membuat sendiri campuran “Premix”, maka ada 14 mineral makro dan mikro penting yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia. Kebutuhan garam setiap ekor/hari adalah sekitar 200 g /hari tergantung dengan ukuran tubuh ternak. Pengalaman penulis untuk seekor sapi potong dengan bobot hidup sekitar 250 kg hanya memerlukan 125 g premix/ekor/hari tanpa ada gangguan akibat defisiensi mineral.

Sodium bentonite dan sodium bicarbonate dapat digunakan untuk mencegah terjadinya acidosis terutama jika pakan yang dikonsumsi mengandung konsentrat dengan ukuran partikel halus serta tinggi energinya. 

Semoga bermanfaat....



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kebutuhan Nutrisi Pada Ternak Ruminansia"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel