Kebutuhan Gizi Ternak Ruminansia Pada Berbagai Status Fisiologis

Ternak ruminansia sebagaimana ternak lainnya memerlukan gizi sesuai dengan status fisiologisnya. Kebutuhan gizi saat bunting tentu berbeda dengan kebutuhan untuk laktasi, karena energi yang dibutuhkan untuk kelangsungan proses tersebut juga berbeda.

Kebutuhan untuk hidup pokok ternak ditentukan oleh kondisi lingkungan setempat seperti suhu, hembusan dan arah angin. Sebagai golongan mamalia, ternak ruminansia juga memerlukan upaya untuk menjaga agar suhu tubuhnya konstan meskipun suhu di luar tubuh mengalami fluktuasi.

Umumnya suhu tubuh mamalia lebih tinggi dari suhu lingkungan, sehingga panas tubuh dap at mengalir ke luar. Jika suhu lingkungan turun diluar kemampuan toleransi tubuh maka ternak akan menggigil; sebaliknya jika suhu lingkungan mengalami kenaikan maka ternak akan terengah-engah (panting) untuk menjaga suhu tubuh dalam kisaran daerah kenyamanan (comfortable zone).

Jika ternak dipuasakan atau dalam keadaan kelaparan, akan lebih cepat menggigil dibandingkan jika suhu lingkungan mengalami penurunan. Sebagai contoh, pedet yang dipuasakan akan mulai menggigil jika suhu turun menjadi 19°C sementara pedet yang memperoleh pakan baru menggigil jika suhu turun menjadi 7°C.

Keadaan serupa juga terjadi jika suhu lingkungan lebih tinggi dari normal, yaitu ternak yang dipuasakan akan lebih cepat terengah-engah dibandingkan dengan ternak yang mem eroleh cukup pakan. Kemampuan seekor ternak untuk beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan melalui pertukaran energi sangat tergantung pada beberapa faktor antara lain ukuran tubuh, bentuk tubuh, aktivitas fisik, fungsi endokrin, insulasi an tingkah laku ternak.

Ketebalan lemak di bawah kulit serta kondisi kulit itu sendiri akan berpengaruh terhadap kisaran zona kenyamanan, yaitu semakin tebal lemak di bawah kulit maka toleransi ternak terhadap penurunan suhu semakin tinggi, namun sebaliknya toleransi terhadap peningkatan suhu semakin rendah.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kebutuhan gizi ternak pada status fisiologis yang berbeda sangat penting untuk dapat meramu pakan sesuai dengan kebutuhan. Uraian berikut ini membahas tentang gizi yang diperlukan oleh ternak ruminansia sesuai dengan status fisiologisnya agar dapat digunakan sebagai pedoman akan penyusunan bahan pakan (ransum).

Kebutuhan Gizi Ternak Ruminansia Pada Berbagai Status Fisiologis

Zat gizi yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) kebutuhan untuk mikroba di dalam rumen dan (b) kebutuhan untuk ternak itu sendiri.

Kebutuhan zat gizi untuk mikroba rumen dapat berupa asam amino essensial, asam amino rantai cabang, ammonia, mineral sulfur dan asam α keto. Zat gizi tersebut diperlukan mikroba rumen untuk proses sintesis protein tubuhnya disamping memerlukan ATP sebagai sumber energi tinggi untuk terjadinya reaksi kimiawi.

Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan terbukti bahwa bakalan (precursor) utama gugus amino untuk sintesis protein bakteri rumen ternyata adalah ammonia, sehingga ternak ruminansia mampu bertahan hidup hanya diberikan sumber non-protein nitrogen (NPN) sepanjang terdapat sumber karbohidrat mudah terfermentasi (readily available carbohy drate = RAC) sebagai sumber asam α keto.

Berbeda dengan bakteria, protozoa di dalam rumen tidak dapat menggunakan ammonia sebagai bakalan sintesis protein tubuhnya. Oleh karena itu kehadiran bakteri , jamur anaerobik atau species protozoa yang lebih kecil ukuran selnya sebagai sumber protein protozoa, adalah sangat esensial. Selain itu asam amino rantai cabang juga diperlukan dalam jumlah sedikit untuk membentuk asam lemak terbang (Volatile Fatty Acids = VFA) rantai cabang seperti iso-butirat dan so-valerat.  

Kebutuhan nitrogen untuk mikroba rumen seringkali dinyatakan dalam istilah Rumen Degradable Nitrogen (RDN) requirement atau bisa juga disebut Rumen Degradable Protein (RDP) Requirement, yaitu kebutuhan nitrogen yang dapat difermentasikan di dalam rumen sehingga kebutuhan bakalan utama sintesis protein mikroba, yaitu berupa ammonia dapat dipenuhi.

Saat ini di literatur dinyatakan bahwa rataan kebutuhan RDN untuk t ernak ruminansia dewasa adalah sebesar 30 g N/kg bahan organik terfermentasi. Selain itu konsentrasi ammonia di dalam rumen juga dapat digunakan sebagai indikator akan kecukupan sumber nitrogen untuk mikroba rumen khususnya bakteria.

Jika kebutuhan nitrogen mikroba rumen dip enuhi melalui pemberian protein pakan, maka akan terjadi pemborosan karena:
protein pakan akan difermentasi serta asam amino esensialnya akan mengalami deaminasi
fermentasi setiap 1 g p rotein hanya akan menghasilkan separuh ATP dari yang dihasilkan dari fermentasi 1 g karbohidrat. 

Hal ini berarti hanya sekitar 30 – 60 g protein mikroba yang akan dihasilkan dari fermentasi 1 kg protein pakan.

Kecukupan nitrogen bakteria rumen sangat tergantung pada jenis pakan basal yang diberikan untuk ternak. Sebagai contoh jika pakan basal berupa hijauan segar dan konsentrat maka kecukupan nitrogen tercapai pada level ammonia rumen sebesar 50 mgN/L cairan rumen.

Akan tetapi jika pakan basal berupa limbah pertanian maka kecukupan nitrogen berkisar di atas 100 mgN/L cairan rumen. Bahkan untuk menunjang proses degradasi pakan di dalam rumen secara optimal diperlukan kadar ammonia hingga 235 mgN/L.

Gambar Tabel berikut ini disajikan  sebagai contoh akan kebutuhan RDP yang dibutuhkan untuk mendukung sintesis protein mikroba secara optimal. Mineral sulfur juga merupakan kebutuhan esensial bagi bakteria rumen karena sel bakteri kaya akan kandungan asam amino yang megandung sulfur.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/


Kisaran kebutuhan mineral sulfur dikaitkan dengan kandungan nitrogen ransum. Sehingga kebutuhannya dinyatakan sebagai nisbah antara kebutuhan N : S. Berdasarkan pengalaman, kisaran nisbah N : S adalah 10 : 1 hingga 12 : 1.

Kebutuhan zat gizi untuk ternak ruminansia sendiri sama dengan ternak monogastrik yaitu membutuhkan air, protein, lemak, serat kasar, energi, vitamin dan mineral makro maupun mikro (baca: Analisis Proksimat Bahan Pakan Ternak).

Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan zat gizi ternak dapat dikelompokkan sebagai berikut :
  • Status Produksi
  • Umur ternak
  • Ukuran tubuh serta kondisinya
  • Kemampuan menghasilkan susu
  • Kondisi iklim
  • Lama masa perkawinan

Status Produksi
Kebutuhan zat gizi ternak ruminansia, seperti sapi potong dipengaruhi oleh status produksi yang dibagi menjadi empat fase, yaitu : (a) sejak beranak hingga siap dikawinkan lagi (calving to breeding), yaitu berlangsung antara 70 hingga 85 hari ; (b) perkawinan hingga saat menyapih pedet, lamanya hingga 120 hari ; (c) pertengahan kebuntingan, lamanya 100 hari; dan (d) kebuntingan akhir, lamanya antara 60 – 70 hari.

Calving to Breeding
Pada fase ini ternak dalam kondisi laktasi, sehingga kebutuhan zat gizinya juga paling besar dibanding status fisiologis lainnya. Ternak y ang memiliki skor kondisi tubuh sedang (medium) memerlukan pakan tambahan untuk dapat mencukupi kebutuhan tubuhnya, sehingga dapat memperp endek masa antara melahirkan dan perkawinan lagi.

Meskipun skor kondisi tubuh ternak tergolong bagus, setelah melahirkan ternak akan mengalami penurunan skor kondisi tubuhnya kendatipun penurunan ini tidak mempengaruhi konsepsi pada saat terjadi perkawinan.

Sebaliknya jika ternak ketika melahirkan memiliki kondisi tubuh kurus, maka kembaliny a berahi serta terjadiny a konsep si saat dikawinkan kembali dapat beragam, artinya dari tinggi hingga rendah persentasenya. Terutama jika ternak mengalami stress kekurangan pakan, pengaruh cuaca atau stress ketika melahirkan, maka dapat menyebabkan gangguan reproduksi berupa kegagalan dalam hal timbulnya kembali birahi hingga rendahnya angka konsepsi.

Breeding to Weaning
Produksi susu ternak ruminansia, akan menurun seiring dengan fase produksi, sehingga konsekuensinya kebutuhan akan zat gizi juga akan menurun.

Pada ternak sapi perah yang memiliki potensi genetik produksi susu tinggi umumnya akan penurunan kondisi tubuh secara nyata hingga pada pertengahan kebuntingan. Meskipun demikian penurunan kondisi tubuh ini tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan janin (foetus).

Pertengahan Kebuntingan
Kebutuhan nutrisi pada fase ini tergolong paling rendah, karena pada saat pertengahan kebuntingan umumnya anaknya telah disapih serta kebutuhan untuk pertumbuhan janin masih relatif rendah.

Penurunan skor kondisi tubuh pada stadia ini tidak akan terlalu berpengaruh terhadap produktivitas ternak. Meskipun demikian dianjurkan untuk memberikan pakan tambahan agar menurunnya skor kondisi tubuh tidak mempengaruhi performans ternak dalam jangka panjang. 

Kebuntingan Akhir
Perkembangan janin pada fase ini sangat cepat sehingga menyebabkan kebutu an zat gizi juga meningkat secara cepat. Pertumbuhan janin, cairan ketuban serta selaput membran pada sapi dapat mencapai 1 pound (0,5 kg) per hari selama 70 hari menjelang akhir kebuntingan.

Fluktuasi kebutuhan zat gizi sesuai dengan stadia fisiologis ternak dapat diduga dari kebutuhannya terhadap glukosa sebagaimana ditunjukkan Gambar berikut ini.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Gambar di atas ternyata serupa dengan grafik retensi nitrogen pada tubuh ternak pada berbagai status fisiologis yang diteliti oleh Orskov (1970) yang menunjukkan bahwa kebutuhan protein dan energi juga berfluktuasi seiring dengan perubahan status fisiologis.


Semoga bermanfaat...

Sumber: Makalah Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang (2012).

0 Response to "Kebutuhan Gizi Ternak Ruminansia Pada Berbagai Status Fisiologis"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel