Hasil dan Pembahasan Karakteristik Anggota Kelompok Simantri di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis “SWOT”

Gambaran Umum Kegiatan Simantri

Untuk mewujudkan visi Bali yang Maju, Aman, Damai, dan Sejahtera (Bali Mandara) dalam bidang pertanian, pada tahun 2009 Pemerintah Provinsi Bali membuat suatu program yang disebut Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi).

Guna mendapatkan dukungan inovasi dan juga anggaran APBD Provinsi dan Kabupaten secara berkelanjutan, pada tanggal 28 Oktober 2009 Gubernur Bali menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Litbang Pertanian No: 075/12/KB/B.PEM/2009 yang ditindaklanjuti dengan MoU serupa antara Gubernur Bali dengan Bupati/Walikota se-Bali.

Kegiatan Simantri yang dilaksanakan sejak tahun 2009, telah banyak menghasilkan kelompok Simantri yang dinyatakan berhasil dalam penerapan program serta dalam peningkatan pendapatan anggotanya (Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali, 2014). 

Namun demikian, kenyataan yang ditemui di lokasi penelitian menunjukkan bahwa tidak sedikit pula kelompok Simantri yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan kegiatan Simantri terutama dalam tata kelola dan proses pengolahan limbah ternak sapi (padat dan cair) menjadi pupuk.

Pengolahan limbah padat dan cair dari ternak sapi mempunyai peranan yang besar dalam meningkatkan pendapatan petani-peternak anggota kelompok Simantri. Hal ini mengindikasikan bahwa, masih terdapat kesenjangan antara maksud dan tujuan Simantri dengan pelaksanaan dan pencapaian indikator keberhasilan Simantri oleh petani-peternak anggota kelompok Simantri.

Tingkat penerapan Simantri oleh para anggota kelompok Simantri seharusnya baik karena: (1) kelompok Simantri yang tergabung didalam program ini memperoleh dukungan penuh dari pemerintah daerah beserta instansi terkait meliputi pendanaan yang bersumber dari APBD Provinsi Bali

(2) Tenaga penyuluh dan pendamping yang berasal dari petugas BPTP Bali dan petugas teknis lingkup pertanian provinsi (in sourching) beserta SKPD terkait di Provinsi dan Kabupaten sebagai motivator program Simantri. Alih teknologi Simantri dilakukan melalui proses interaksi yang aktif antara penyuluh atau pendamping Simantri dengan petani-peternak anggota kelompok Simantri.

Lokasi Kegiatan Simantri Tahun 2009 – 2011

Kriteria lokasi kegiatan Simantri yakni: 1) desa yang memiliki potensi pertanian dan memiliki komoditi unggulan sebagai titik ungkit, 2) terdapat kelompok petani yang mau dan mampu melaksanakan kegiatan terintegrasi, dan 3) dilaksanakan pada desa dengan rumah tangga miskin (RTM) yang memiliki SDM dan potensi untuk pengembangan agribisnis (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010).

Kegiatan Simantri di Provinsi Bali yang dilaksanakan sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2015 telah terbentuk 550 unit Simantri. Pada tahun 2009 terbentuk 10 unit Simantri yang dilaksanakan pada 10 lokasi Desa / Gapoktan di 7 Kabupaten (kecuali Denpasar dan Klungkung). 

Tahun 2010 terbentuk 40 unit Simantri yang dilaksanakan pada 40 lokasi Desa / Gapoktan di 9 Kab./Kota, dan pada tahun 2011 terbentuk 100 unit Simantri yang dilaksanakan pada 100 lokasi Desa / Gapoktan di 9 Kab./Kota. Program ini direncanakan akan dilaksanakan atau dikembangkan setiap tahun secara berkelanjutan.

Lokasi Kegiatan Simantri Tahun 2009

Kegiatan Simantri pada tahun 2009 di Provinsi Bali, dilaksanakan pada 10 lokasi Desa/Gapoktan di 7 Kabupaten, kecuali Denpasar dan Klungkung (Gambar Tabel di bawah).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Lokasi Kegiatan Simantri Tahun 2010

Kegiatan Simantri pada tahun 2010 di Provinsi Bali, dilaksanakan pada 40 lokasi Desa / Gapoktan di 9 Kab./Kota (Gambar Tabel di bawah).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Lokasi Kegiatan Simantri Tahun 2011

Kegiatan Simantri pada tahun 2011 di Provinsi Bali, dilaksanakan pada 100 lokasi Desa / Gapoktan di 9 Kab./Kota (Gambar Tabel di bawah).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Karakteristik Responden

Pendidikan Formal

Pendidikan formal adalah pendidikan yang sifatnya melembaga, yang pelaksanaannya sesuai dengan perkembangan seseorang. Pendidikan formal sangat penting bagi setiap orang, baik dalam kehidupan petani sehari-hari maupun dalam hubungannya dengan kemampuan petani menerima teknologi baru dan informasi pertanian (Gerungan, 1980). 

Pendidikan formal dihitung berdasarkan sistem pendidikan sekolah yang telah berhasil ditamatkan. Berdasarkan hasil penelitian, pendidikan formal anggota kelompok Simantri dapat dilihat pada Tabel 4.5 dibawah ini.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/


Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Tabel 4.5, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan formal anggota kelompok Simantri yang berada pada masing-masing topografi di Provinsi Bali sebagian besar hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD) dengan persentase sebesar 61,90% dari total keseluruhan responden.

Dominasi anggota kelompok Simantri yang berpendidikan SD terdapat pada dataran tinggi yakni sebesar 74,60% responden dan dataran sedang sebesar 66,67% responden. Sedangkan pada daerah dataran rendah, anggota kelompok Simantri yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) sebesar 44,44% responden. Terdapat anggota kelompok Simantri yang berpendidikan SMA dan Perguruan Tinggi, namun persentasenya sangat kecil.

Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali mengalami kesulitan dalam mengadopsi maupun menerapkan inovasi Simantri dikelompoknya karena tingkat pendidikan formal yang dimiliki terbilang rendah. 

Soekartawi (1988) menyatakan bahwa, petani yang berpendidikan lebih rendah agak sulit untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi dengan cepat, begitu pula sebaliknya petani yang berpendidikan lebih tinggi akan relatif lebih cepat menerapkan inovasi.  

Pendapat ini didukung oleh Mosher (1983) yang menyatakan bahwa, pendidikan formal merupakan faktor pelancar yang dapat mempercepat pembangunan pertanian. 

Dengan pendidikan formal yang memadai seorang petani akan lebih mudah dalam mengadopsi teknologi baru, mengembangkan keterampilan, dan memecahkan permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya dikatakan tingkat pendidikan formal berpengaruh terhadap keinovativan, kecepatan proses adopsi inovasi dan perilaku petani itu sendiri.


Pendidikan Non Formal

Pendidikan non formal lebih mengarah pada pendidikan di luar dari aturan formal. Pendidikan non formal berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal. 

Pada umumnya pendidikan non formal petani anggota kelompok simantri bersumber dari pelatihan/penyuluhan yang diperoleh dari dinas atau lembaga terkait.

Pelatihan/penyuluhan yang dimaksud, bertujuan  untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan fungsional petani-peternak anggota kelompok simantri dalam mempercepat alih teknologi Simantri. Berdasarkan hasil penelitian, pendidikan non formal anggota kelompok Simantri dapat dilihat pada Tabel 4.6 dibawah ini.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Tabel 4.6, dapat diketahui bahwa sebagian besar anggota kelompok Simantri yang berada pada topografi dataran tinggi, baru 1 kali mengikuti pelatihan/penyuluhan dengan persentase sebesar 88,89% responden. Hanya terdapat 11,11% responden yang telah mengikuti pelatihan lebih dari 3 kali. 

Sedangkan anggota kelompok Simantri  yang berada pada dataran rendah dan dataran sedang, hampir sebagian besar telah mengikuti pelatihan/penyuluhan lebih dari 3 kali dengan persentase sebesar 62,96% responden pada dataran rendah dan 51,88% responden pada daerah dataran sedang.

Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa, anggota kelompok Simantri yang berada pada dataran tinggi belum memiliki kemampuan dan keterampilan fungsional yang cukup dalam melaksanakan kegiatan Simantri dikelompoknya dikarenakan pemahaman terhadap teknologi Simantri masih sangat minim.

Sedangkan anggota kelompok Simantri yang berada pada topografi dataran rendah dan dataran tinggi, telah memiliki kemampuan dan keterampilan yang cukup dalam melaksanakan dan menerapkan kegiatan Simantri dikelompoknya. 

Suhardiyono (1992) menyatakan bahwa, kualitas dan kuantitas pendidikan non formal yang pernah diikuti oleh petani akan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan keterampilannya dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya.

Semakin banyak pendidikan non formal yang pernah diikuti petani, maka akan semakin meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya. Kartasapoetra (1987), mengemukakan bahwa pendidikan non formal bagi petani umumnya bersifat penyuluhan yang dimaksudkan untuk mengembangkan potensi petani dengan penekanan pada penguasaan teknologi dan keterampilan fungsional dalam bidang pertanian.

Pengetahuan Tentang Simantri

Pengetahuan anggota kelompok Simantri terhadap inovasi dan teknologi yang ada dalam Simantri akan menentukan kesiapannya dalam melaksanakan kegiatan Simantri. Pengetahuan responden tentang Simantri meliputi: pengetahuan tentang usaha beternak sapi bali induk, pengolahan hijauan dan limbah pakan serta pengetahuan tentang pengolahan limbah cair dan padat dari ternak sapi yang dipelihara.

Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan anggota kelompok Simantri tentang kegiatan Simantri dapat dilihat pada Tabel 4.7 dibawah ini.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Tabel 4.7, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang berada pada masing-masing topografi memiliki pengetahuan yang cukup tinggi tentang Simantri terutama dalam hal beternak sapi (77,07%) dan pengolahan limbah kotoran sapi (73,32%). Sedangkan untuk pengolahan hijauan dan limbah pakan, pengetahuan responden masih sangat minim (72,14%).

Hal ini mengindikasikan bahwa anggota kelompok Simantri memiliki kesiapan dalam melaksanakan kegiatan Simantri. Adanya bintek (bimbingan teknis) dan penyuluhan dari lembaga-lembaga terkait, secara langsung berdampak pada peningkatan pengetahuan dari petani-peternak anggota kelompok Simantri terhadap kegiatan-kegiatan yang ada dalam kelompok Simantri.

Supriyanto (1978), menyatakan bahwa pengetahuan sangat menunjang kelancaran petani dalam mengadopsi suatu inovasi untuk kelanggengan usaha taninya. Pernyataan ini didukung pula oleh Sutrisna dan Nuraini (1987) yang menyatakan bahwa pengetahuan yang tinggi tentang suatu inovasi memungkinkan petani untuk menerima hal-hal yang baru (inovasi), sehingga inovasi Simantri yang ditawarkan akan dapat diterapkan dengan baik. 

Lebih lanjut dikatakan bahwa petani yang memiliki pengetahuan lebih tinggi akan mampu menerapkan suatu teknologi dengan baik daripada mereka yang mempunyai pengetahuan yang lebih rendah.

Pengalaman

Pengalaman adalah suatu ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dalam memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakannya dengan baik. Pengalaman memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku anggota kelompok Simantri dalam penerapan kegiatan Simantri.

Pengalaman memungkinan angggota kelompok Simantri untuk melihat segala peluang dan kendala yang akan dihadapi dalam melaksanakan kegiatan Simantri.  Indikator penting yang perlu mendapat perhatian terkait pengalaman dari anggota kelompok Simantri adalah pengalaman beternak sapi serta pengalaman dalam kelompok ternak. 

Berdasarkan hasil penelitian, pengalaman beternak anggota kelompok Simantri dapat dilihat pada Tabel 4.8 dibawah ini.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Tabel 4.8, dapat dilihat bahwa rata-rata responden (42,68%) yang berada pada masing-masing topografi, memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun dalam memelihara ternak sapi dan rata-rata sapi yang pelihara adalah sapi betina (induk) dengan persentase responden sebanyak 68,37%. 

Namun demikian pada topografi dataran sedang, terdapat responden dengan persentase yang cukup besar (48,15%) yang baru pertama kali memelihara ternak sapi.

Sedangkan untuk pengalaman dalam kelompok ternak, hampir sebagian besar responden yang berada pada masing-masing topografi, baru pertama kali mengikuti kegiatan kelompok ternak dengan persentase sebesar 81,13% dari total keseluruhan responden. 

Dari hasil ini menujukkan bahwa secara keseluruhan anggota kelompok Simantri yang berada pada masing-masing topografi, memiliki keterampilan yang cukup tinggi dalam pemeliharaan ternak sapi terutama untuk pemeliharaan sapi betina (induk).

Namun demikian, untuk pemahaman terhadap kegiatan-kegiatan yang ada dalam kelompok Simantri masih tergolong rendah dikarenakan minimnya pengalaman dalam kelompok ternak. 

Hal ini sesuai dengan pendapat Cahyono (1995), yang menyatakan bahwa pengalaman kerja akan mempengaruhi keterampilan dan pemahaman seseorang terhadap tugas yang dilaksanakan.

Hasil tersebut juga didukung oleh pendapat Mardikanto (1992) yang mengemukakan bahwa, semakin banyak pengalaman kerja seseorang maka akan semakin banyak manfaat yang berdampak pada luasnya wawasan pengetahuan di bidang pekerjaannya serta semakin meningkatkan keterampilan orang tersebut.

Keaktifan Dalam Kelompok Simantri

Keaktifan dalam kegiatan kelompok Simantri merupakan faktor yang ikut mempengaruhi pandangan dan perilaku anggota kelompok Simantri didalam menerima inovasi Simantri. 

Tingkat keaktifan anggota kelompok Simantri dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dalam kelompok akan mempengaruhi eksistensi dari  kelompok Simantri itu sendiri. 

Berdasarkan hasil penelitian, tingkat keaktifan anggota kelompok Simantri dapat dilihat pada Tabel 4.9 dibawah ini.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Tabel 4.9, menunjukkan bahwa sebagian besar responden (78,66%) yang berada pada masing-masing topografi, selalu terlibat aktif dalam kegiatan yang diadakan kelompok. 

Keaktifan tersebut bukan dikarenakan responden memiliki jabatan sebagai pengurus kelompok, pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa rata-rata responden yang diteliti sebagian besar (84,83%) berkedudukan sebagai anggota kelompok.

Akan tetapi, tingginya tingkat keaktifan dari responden terdapat pada jenis kegiatan yang bersifat normatif saja :  rapat kelompok (96,30%) ; kegiatan gotong royong (90,12%). Sedangkan pada kegiatan yang bersifat inovasi teknologi : pengolahan limbah kotoran sapi, tingkat keaktifan responden sangat rendah (26,28%). 

Dari hasil ini menunjukkan bahwa, keaktifan anggota kelompok Simantri dalam kegiatan kelompok dipengaruhi oleh pandangan dan perilaku dari anggota kelompok Simantri itu sendiri terhadap inovasi teknologi Simantri.

Hal ini sesuai dengan pendapat Mardikanto (1993), yang menyatakan bahwa penerimaan inovasi oleh seseorang akan mempengaruhi keterlibatan dan keikusertaannya secara aktif dan sukarela, baik karena alasan dari dalam (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik).

Kepemilikan Lahan

Kepemilikan lahan oleh anggota kelompok Simantri sangat  berpengaruh terhadap tingkat penyediaan hijauan maupun  pemanfaatan limbah tanaman sebagai pakan bagi ternak sapi yang dipelihara serta efektifitas penerapan integrasi tanaman-ternak. Berdasarkan hasil penelitian, kepemilikan lahan dari anggota kelompok Simantri dapat dilihat pada Tabel 4.10 dibawah ini.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Tabel 4.10, dapat diketahui bahwa lahan yang dimiliki oleh responden rata-rata berupa tegalan dengan persentase sebesar 31,22%. Persentase terbesar kepemilikan tegalan berada pada responden dataran rendah yakni sebesar 51,85% dengan luas lahan mencapai 20 – 50 are. 

Selain memiliki tegalan, 28,22% responden yang berada pada masing-masing topografi juga memiliki lahan khusus untuk hijauan pakan ternak dengan luas 11 – 20 are.

Dari hasil ini menunjukkan bahwa dengan adanya lahan yang dimiliki oleh anggota kelompok Simantri, potensi ketersediaan pakan bagi ternak sapi yang dipelihara dapat selalu terpenuhi. 

Hal ini sesuai dengan pendapat Subandi dan Zubachtirodin (2004), yang menyatakan bahwa peluang penyediaan pakan ternak berupa hijauan segar maupun limbah pertanian untuk pakan ternak adalah dengan memanfaatkan lahan tanaman pangan yang dimiliki.

Hidayat (2010), menyatakan bahwa lahan pertanian selain memiliki potensi sebagai sumber pakan alternatif bagi ternak juga dimungkinkan untuk ditanami hijauan pakan ternak unggul sehingga menjamin kontinuitas pakan ternak sepanjang tahun. 

Jenis tanaman dan pola tanam yang dilakukan oleh petani pada lahan pertanian memiliki potensi limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak (Mariyono dan Romjali, 2007).

Manajemen Pemeliharaan Sapi Simantri

Karaktersitik dari anggota kelompok Simantri akan sangat mempengaruhi pada manajemen pemeliharaan sapi Simantri yang dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian, kepemilikan lahan dari anggota kelompok Simantri dapat dilihat pada Tabel 4.11 dibawah ini.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Tabel 4.11, menunjukkan bahwa terdapat responden yang memelihara sapi bantuan Simantri diluar dari kandang Simantri dengan persentase sebesar 28,22% dari total keseluruhan responden yang ada pada masing-masing topografi.  

Persentase terbesar responden yang memelihara sapi bantuan Simantri diluar dari kandang Simantri terdapat pada topografi dataran tinggi yakni sebesar 40,21% responden. Alasan responden tidak memelihara sapi dalam kandang Simantri adalah lokasi kandang jauh dari rumah (14,24%), perhatian kepada ternak kurang (8,11%) serta pertumbuhan sapi lambat (5,87%). 

Pemberian pakan yang dilakukan oleh responden yang berada pada masing-masing topografi sangat variatif tergantung ketersediaan dilapangan, namun rata-rata merupakan campuran antara rumput unggul (38,30%), rumput lapangan (17,87%), leguminosa (16,53%), daun-daunan (17,02%) dan limbah pertanian (12,28%).

Pada topografi dataran rendah, sistem perkawinan terhadap sapi yang dipelihara sebagian besar (51,85%) masih secara alami sedangkan pada topografi dataran sedang dan tinggi rata-rata telah menggunakan teknologi Inseminasi Buatan (IB). 

Untuk pengolahan limbah kotoran sapi (padat dan cair),  dari total keseluruhan responden yang berada pada masing-masing topografi, 73,72% tidak melakukan pengolahan terhadap limbah kotoran sapi yang ada.

Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan utama yang dihadapi  oleh anggota kelompok Simantri terletak pada jarak tempat tinggal dengan lokasi Simantri, kandang Simantri dipandang kurang efektif untuk pemeliharaan sapi induk serta inovasi teknologi Simantri belum mampu dilakukan oleh seluruh anggota kelompok. Kondisi ini tentunya menyebabkan  ketimpangan antara maksud dan tujuan kegiatan Simantri dengan kenyataan yang ada dilapangan.

(Untuk pembahasan terkait dengan Analisis SWOT dalam penelititan ini, silahkan baca disini: Analisis SWOT Karakteristik Anggota Kelompok Simantri di Provinsi Bali )

0 Response to "Hasil dan Pembahasan Karakteristik Anggota Kelompok Simantri di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis “SWOT”"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel