Analisis SWOT Karakteristik Anggota Kelompok Simantri di Provinsi Bali

Sikap dan karakteristik anggota kelompok Simantri dalam melaksanakan kegiatan Simantri dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal (Mar’at, 1984). Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam diri anggota kelompok Simantri yang terdiri dari kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weakness).



Sedangkan faktor eksternal adalah faktor diluar dari diri anggota kelompok Simantri yang memberikan peluang (Opportunities) dan tantangan/ancaman (Threats) terhadap anggota kelompok Simantri itu sendiri dalam melaksanakan kegiatan Simantri.



Untuk mengetahui gambaran utuh dan menyeluruh mengenai karakteristik anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali, maka terlebih dahulu perlu dilakukan analisis untuk mengidentifikasi faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi karaktersitik anggota kelompok Simantri dalam melaksanakan kegiatan Simantri.





Analisis Faktor Internal Karakteristik Anggota Kelompok Simantri


Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam diri anggota kelompok Simantri yang terdiri dari kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weakness). Kekuatan (Strengths) merupakan faktor yang ada dalam diri anggota kelompok Simantri yang dapat mempermudah dalam melaksanakan dan menerapkan kegiatan Simantri.



Sedangkan kelemahan (Weakness) adalah karakteristik internal yang dimiliki oleh anggota kelompok Simantri yang dapat menjadi kendala atau hambatan dalam melaksanakan kegiatan Simantri. Berikut ini adalah hasil analisis faktor-faktor internal yang mempengaruhi karaktersitik dari anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali dalam melaksanakan kegiatan Simantri.



*(Hasil Penelitian terhadap responden yang dijabarkan dalam bentuk TABEL, silahkan baca disini : Hasil dan PembahasanKarakteristik Anggota Kelompok Simantri di Provinsi Bali Ditinjau Dari Analisis“SWOT”)*



Kekuatan (Strenghts) :


☛ Pendidikan non formal yang dimiliki cukup memadai ; dari total keseluruhan anggota kelompok Simantri yang berada pada masing-masing topografi, hampir sebagian besar (41,98%) telah mengikuti pelatihan dan penyuluhan terkait dengan inovasi dan teknologi Simantri lebih dari 3 kali.



Persentase terbesar anggota kelompok Simantri yang telah mengikuti pelatihan dan penyuluhan lebih dari 3 kali terdapat pada topografi dataran rendah yakni sebesar 62,96% responden dan dataran sedang sebesar 51,88% responden (Tabel 4.6).



 Pengetahuan tentang cara beternak sapi bali induk sangat tinggi ; sebagian besar anggota kelompok Simantri (77,07%) yang berada pada masing-masing topografi memiliki pengetahuan yang sangat baik tentang cara beternak sapi bali induk (Tabel 4.7).



 Pengetahuan tentang cara pengolahan limbah kotoran sapi (padat dan cair) cukup tinggi ; sebagian besar anggota kelompok Simantri (73,72%) yang berada pada masing-masing topografi memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang cara cara pengolahan limbah kotoran sapi (padat dan cair) (Tabel 4.7).



 Pengalaman beternak sapi lebih dari 10 tahun ; dari total keseluruhan anggota kelompok Simantri yang berada pada masing-masing topografi, hampir sebagian besar (42,68%) memiliki pengalaman beternak lebih dari 10 tahun (Tabel 4.8).



 Tingkat keaktifan dalam kelompok cukup tinggi ; sebagian besar anggota kelompok Simantri (78,66%) yang berada pada masing-masing topografi selalu terlibat aktif dalam kegiatan yang ada dalam kelompok. Tingkat keaktifan tertinggi terdapat pada jenis kegiatan rapat kelompok yakni sebesar 96,30% responden dan kegiatan gotong royong sebesar 90,12% responden (Tabel 4.9).



☛ Manajemen pemeliharaan sapi yang dilakukan cukup baik ; sebagian besar anggota kelompok Simantri (71,78%) memelihara sapi pada kandang Simantri, pakan yang diberikan pada ternak sapi Simantri sangat bervariatif serta sistem perkawinan pada ternak sapi yang dipelihara sebagian besar (51,50%) menggunakan Inseminasi Buatan (Tabel 4.11).




Kelemahan (Weakness) :


 Tingkat pendidikan formal yang dimiliki tergolong rendah ;  sebagian besar anggota kelompok Simantri (61,90%) yang berada pada masing-masing topografi hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Dominasi anggota kelompok Simantri yang berpendidikan SD terdapat pada dataran tinggi yakni sebesar 74,60% responden dan dataran sedang sebesar 66,67% responden.



Sedangkan pada daerah dataran rendah, anggota kelompok Simantri yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) sebesar 44,44% responden. Terdapat anggota kelompok Simantri yang berpendidikan SMA dan Perguruan Tinggi, namun persentasenya sangat kecil (Tabel 4.5).



 Pengetahuan tentang cara pengolahan hijauan dan limbah pakan ternak sangat rendah ; sebagian besar anggota kelompok Simantri (72,14%) yang berada pada masing-masing topografi belum memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang cara pengolahan hijauan dan limbah pakan ternak (Tabel 4.7).



 Pengalaman dalam kelompok ternak sangat minim ; sebagian besar anggota kelompok Simantri (81,13%) yang berada pada masing-masing topografi baru pertama kali bergabung dalam kelompok tani/ternak (Tabel 4.8).



 Tingkat keaktifan pada kegiatan pengolahan limbah kotoran sapi dalam kelompok sangat rendah ; dari total keseluruhan anggota kelompok Simantri yang berada pada masing-masing topografi, hanya 26,28% saja yang sering terlibat pada kegiatan pengolahan limbah kotoran sapi dalam kelompok (Tabel 4.9).

 Limbah dari kotoran sapi Simantri yang dipelihara tidak diolah ; sebagian besar anggota kelompok Simantri (73,72%) yang berada pada masing-masing topografi tidak melakukan pengolahan terhadap limbah dari kotoran sapi Simantri yang dipelihara (Tabel 4.11).



Analisis Faktor Ekternal Karakteristik Anggota Kelompok Simantri


Faktor eksternal adalah faktor diluar dari diri anggota kelompok Simantri yang memberikan peluang (Opportunities) dan tantangan/ancaman (Threats) terhadap anggota kelompok Simantri itu sendiri dalam melaksanakan kegiatan Simantri.



Peluang (Opportunities) adalah kondisi eksternal yang dapat dimanfaatkan oleh anggota kelompok Simantri sebagai pendorong keberhasilan kelompok untuk dapat berkembang di kemudian hari. Sedangkan tantangan/ancaman (Threats) adalah kondisi eksternal yang akan dihadapi oleh anggota kelompok Simantri yang dapat menghambat  keberhasilan kelompok.



Berikut ini adalah hasil analisis faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi karaktersitik dari anggota kelompok Simantri dalam melaksanakan kegiatan Simantri.



Peluang (Opportunities) :


 Kelompok telah mendapat pelatihan dan penyuluhan yang cukup memadai tentang Simantri; dari total keseluruhan kelompok Simantri yang berada pada masing-masing topografi, hampir sebagian besar (45,68%) telah mendapat pelatihan dan penyuluhan yang cukup memadai tentang inovasi dan teknologi Simantri dari dinas dan lembaga terkait (Tabel 4.6).


 Memiliki lahan pertanian berupa tegalan yang cukup luas ; sebagian besar anggota kelompok Simantri yang berada pada masing-masing topografi memiliki lahan pertanian berupa tegalan dengan luas lebih dari 50 are yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan antara tanaman dan ternak sapi yang dipelihara.



Persentase tertinggi  untuk anggota kelompok Simantri yang memiliki tegalan lebih dari 50 are terdapat pada topografi dataran tinggi yakni sebesar 55,03% dan topografi dataran sedang sebesar 37,04% (Tabel 4.10).





Tantangan (Threats) :


 Tidak memiliki lahan khusus untuk hijauan pakan ternak ; hampir sebagian besar anggota kelompok Simantri (40,22%) yang berada pada masing-masing topografi tidak memiliki lahan khusus yang ditanami hijauan pakan ternak guna menjamin ketersediaan sumber hijauan bagi ternak sapi yang dipelihara (Tabel 4.10).



 Lokasi kandang Simantri jauh dari tempat tinggal ; terdapat 22,35% anggota kelompok Simantri yang memelihara sapi bantuan Simantri diluar dari kandang Simantri dengan alasan lokasi kandang jauh dari tempat tinggal sehingga perhatian pada ternak sapi berkurang (Tabel

4.11).



 Sistem kandang Simantri (koloni) kurang efektif ; adanya pandangan dari anggota kelompok Simantri bahwa sistem kandang Simantri yang bersifat koloni dirasakan kurang efektif dalam beternak sapi Bali induk. Hal ini membuat pertumbuhan sapi lambat (Tabel 4.11).



Hasil analisis secara keseluruhan terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi  karakteristik anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali dalam melaksanakan kegiatan Simantri, dapat dilihat pada Tabel. 4.12 dibawah ini.

https://www.berbagiilmupeternakan.com/



Berdasarkan hasil analisis faktor internal dan faktor eksternal dari karakteristik anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali, teridentifikasi 6 (enam) faktor kekuatan internal (Strenghts), 5 (lima) faktor kelemahan internal, 2 (dua) faktor peluang (Opportunities) ekternal serta 3 (tiga) faktor tantangan (Threats) eksternal yang mempengaruhi karaktersitik anggota kelompok Simantri.



Hal ini menunjukkan bahwa secara umum karakteristik yang dimiliki oleh anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali dalam melaksanakan kegiatan Simantri berada dalam posisi kuat secara internal serta efektif untuk memanfaatkan peluang sekaligus meminimalkan pengaruh negatif dari kelemahan dan tantangan eksternal yang ada.





Penentuan Alternatif Strategi Karakteristik Anggota Kelompok Simantri




Alternatif strategi yang efektif dan efisien untuk menguatkan keberdayaan karakteristik anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali dalam mendukung pelaksanaan kegiatan Simantri adalah strategi Kekuatan – Peluang (Strengths – Opportunities). Strategi ini menggunakan kekuatan internal untuk dimanfaatkan dalam meraih peluang eksternal atau disebut juga dengan strategi agresif. 



Dengan kata lain bahwa potensi keunggulan yang dimiliki oleh anggota kelompok Simantri, yaitu berupa faktor-faktor kekuatan internal dapat dimanfaatkan sedemikian rupa agar dapat menjadi kekuatan pendorong (triger/move of rule) dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan Simantri.



*Detail strategi Kekuatan – Peluang (Strengths – Opportunities)* adalah sebagai berikut:

 Memanfaatkan pengetahuan dan ketrampilan fungsional yang dimiliki oleh  anggota kelompok Simantri (bersumber dari pendidikan non formal : pelatihan/penyuluhan) dalam  melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada dalam kelompok Simantri : (a) kegiatan budidaya tanaman dan ternak, (b) kegiatan pengolah pakan ternak , dan (c) kegiatan pengolahan limbah kotoran ternak.



 Memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman beternak yang dimiliki oleh anggota kelompok Simantri guna meningkatkan produktivitas sapi Simantri yang dipelihara.



 Memanfaatkan pengetahuan anggota kelompok Simantri tentang pengolahan limbah kotoran sapi dalam pengaplikasian inovasi dan teknologi Simantri (biogas, biourine, pupuk organik dan bio pestisida) pada lahan pertanian yang dimiliki guna mendukung berkembangnya diversifikasi usaha pertanian secara terpadu sesuai dengan tujuan dari program Simantri.



 Memanfaatkan secara maksimal tingkat keaktifan anggota dalam kelompok Simantri untuk mensinergikan aktivitas kelompok dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Program Simantri.



 Memanfaatkan lahan pertanian yang dimiliki anggota kelompok Simantri sebagai salah satu sumber pakan bagi ternak sapi yang dipelihara : (a) integrasi antara tanaman pangan dan hijauan pakan ternak, dan (b) pemanfaatan limbah hasil tanaman pangan sebagai pakan alternatif.





Strategi Kekuatan – Peluang (Strengths – Opportunities) untuk menguatkan keberdayaan anggota kelompok Simantri di Provinsi Bali dalam mendukung pelaksanaan kegiatan Simantri juga diharapkan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap upaya mengatasi kelemahan internal dari karakteristik anggota kelompok Simantri. Keterkaitan diantara kedua aspek tersebut diuraikan sebagai berikut :



 Strategi ke-1; dapat dipergunakan untuk mengatasi faktor kelemahan internal karakteristik anggota kelompok Simantri berupa tingkat pendidikan formal yang dimiliki tergolong rendah yakni sebagian besar hanya berpendidikan SD.



 Strategi ke-2; dapat dipergunakan untuk mengatasi faktor kelemahan internal karakteristik anggota kelompok Simantri berupa rendahnya pengetahuan anggota kelompok Simantri tentang cara pengolahan hijauan dan limbah pakan ternak.



 Strategi ke-3; dapat dipergunakan untuk mengatasi faktor kelemahan internal karakteristik anggota kelompok Simantri berupa pengalaman anggota kelompok Simantri dalam kelompok ternak sangat minim.



Strategi ke-4; dapat dipergunakan untuk mengatasi faktor kelemahan internal karakteristik anggota kelompok Simantri berupa rendahnya keterlibatan  anggota kelompok Simantri pada kegiatan pengolahan limbah kotoran sapi dalam kelompok.



Strategi ke-5; dapat dipergunakan untuk mengatasi faktor kelemahan internal karakteristik anggota kelompok Simantri berupa limbah dari kotoran sapi Simantri yang dipelihara tidak diolah.



(Untuk penjelasan secara utuh terkait dengan penelitian ini, silahakan baca disini: Karakteristik Anggota Kelompok Simantri diProvinsi Bali Ditinjau Dari Analisis SWOT)



Semoga bermanfaat...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Analisis SWOT Karakteristik Anggota Kelompok Simantri di Provinsi Bali"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel