TEKNOLOGI (PENGOLAHAN & PENGAWETAN) PAKAN HIJAUAN

Hijauan Makanan Ternak merupakan bahan pakan utama bagi kehidupan ternak serta merupakan dasar dalam usaha pengembangan peternakan terutama untuk ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba ( baca : Hijauan Makanan Ternak). 

Untuk meningkatkan produktivitas ternak, salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah penyediaan pakan hijauan sepanjang tahun baik kualitas dan kuantitas yang cukup agar pemenuhan kebutuhan zat-zat makanan ternak untuk mempertahankan kelestarian hidup dan keutuhan alat tubuh ternak (kebutuhan hidup pokok) dan tujuan produksi (kebutuhan produksi) dapat berkesinambungan.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Teknologi Pengolahan Pakan Hijauan
Kendala utama di dalam penyediaan hijauan makanan ternak yakni produksinya yang tidak tetapsepanjang tahun. Pada saat musim penghujan, produksi hijauan makanan ternak akan melimpah, sebaliknya pada saat musim kemarau tingkat produksinya akan rendah, atau bahkan dapat berkurang sama sekali (Sumarno, 1998). 

Oleh karena itu dalam mensiasati ketersediaan hijauan makanan ternak yang tidak tetap sepanjang tahun, perlu dilakukan pengolahan atau pengawetan hijauan agar supaya hijauan pakan selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan ternak tersebut. 

Tujuan utama dalam pengawetan  hijauan adalah untuk memelihara atau mempertahankan kualitas dan kuantitas nutrisi hijauan dengan meminimalkan kehilangan pada saat pemanenan dan penyimpanan (Rotzdan Muck, 1994 dalam Mansyur et al., 2007). 

Sedangkan keuntungandari  pengawetan hijauan adalah dapat dipertahankan kualitasnya atau komposisi nutriennya hingga berakhirnya masa penyimpanan (Sugiri et ai., 1981 dalam Subekti et al., 2013).

Pengolahan dan pengawetan bahan pakan dapat dilakukan dengan cara fisik atau mekanik, kimiawi, biologis dan kobinasinya. Perlakuan secara fisik dapat dilakukan dengan cara penjemuran, pencacah atau pemotongan, penggiling, penghancuran serta pembuatan pelet (Wahyono dan Hardiyanto, 2004). 

Perlakuan secara kimiawi dilakukan dengan cara menanbahkan bahan kimia seperti amoiasi. Amoniasi merupakan  salah satu perlakuan bahan pakan secara kimiawi yang   bersifat alkalis sehingga dapat melarutkan hemiselulosa dan memutuskan ikatan atara lignin dan selulosa atau emiselulosa (Klopfenstein, 1987 dalam Pprastyawan at al., 2012).  

Perlakuan secara biologis dapat dilskukan dengan cara fermentasi dengan menggunakan mikroba starter, proses fermentasi ini bermanfaat untuk menurunkan kadar serat kasar, meningkatkan kecernaan dan meningkatkan kadar protin bahan pakan (Tampoebolon, 1997 dalam Prastyawan at al., 2012).  Dan perlakuan secara kombinasi dapat dilakukan dengan cara gabungan dari fisik-kimia, fisik-biologi dan atau biologi-kimia.

Penyediaan hijauan sepanjang tahun dengan teknik yang sederhana dan murah dapat terlaksana tergantung kepada kemaMpuan dan kemauan dari setiap peternak dalam pemeliharaan ternaknya.

Ada beberapa teknologi pengawetan hijauan makanan ternak yang umum di lakukan, diantaranya adalah sebagai berikut:

HAY

https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Hay
Hay adalah tanaman hijauan yang diawetkan dengan cara di keringkan dibawah sinar matahari kemudian di simpan dalam bentuk kering dengan kadar air 12%-30%, warna tetap hijau dan berbau enak.

Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air hijauan secara bertahap tetapi berlangsung secara cepat. Tujuan menurunkan kadar air adalah agar sel-sel hijauan tersebut cepat mati dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme. 

Dengan demikian tidak terjadi proses kimia baik berupa respirasi maupun fermentasi yang dapat menghasilkan panas. Pada hijauan, keadaan ini akan dicapai pada bahan kering 80-85%. 

Panas yang dipakai berasal dari sinar matahari, dengan demikian proses pengeringan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca.

Kelebihan Hay :

* Menghemat biaya peralatan 

* Lebih cepat prosesnya 

* Dapat dikontrol kerusakan fisiknya, karena mudah terlihat 

* Ternak tidak perlu penyesuaian cara makannya, seperti pada silase

Kelemahan :

* Sangat tergantung cuaca

Proses yang terjadi pada saat pengeringan

Pada proses penumpukan hijauan akan terjadi proses-proses sebagai berikut : 

 

*Proses Respirasi: 

Hijauan yang segar masih mampu mengadakan respirasi. Respirasi ini akan mengambil oksigen dari luar dan akan menghasilkan air serta panas. Kerusakan gizi pada tahap ini bisa mencapai 10%. 

 

*Proses Fermentasi: 

Bakteri yang berpengaruh dalam proses fermentasi adalah dari jenis bakteri thermofilik, yang akan menghasilkan panas. Apabila tumpukan hijauan tidak sempurna, kerusakan yang disebabkan oleh bakteri dan enzim tersebut bisa mencapai 5-10%. 

 

*Reaksi Kimiawi: 

Dalam proses pembuatan hay mungkin akan terjadi suatu reaksi kimiawi, akibat dari reaksi ini akan timbul panas yang tinggi, sehingga hasil dari hay akan berwarna coklat kehitaman.


Cara Pembuatan Hay

Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu: 

* Metode Hamparan :

Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan
yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. 


Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 – 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan). 

*Metode Pod :

Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan
hijauan yang telah dijemur selama 1 – 3 hari (kadar air ± 50%). 


Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas.

Prinsip dasar dari pengawetan dengan cara dibuat hay adalah dengan cara mengeringkan hijauan, baik secara alami (menggunakan sinar matahari) maupun menggunakan mesin pengering (dryer). Adapun kandungan air hay ditentukan sebesar 12-20 %, hal ini dimaksud agar hijauan saat disimpan sebagai hay tidak ditumbuhi jamur. 

Jamur akan merusak kualitas hijauan yang diawet menjadi hay. Adapun tujuan pembuatan hay adalah untuk penyediaan hijauan untuk pakan ternak pada saat kritis dan pada saat ternak diangkut untuk jarak jauh. Hay merupakan pakan yang dapat diperjual-belikan jadi merupakan komoditas yang dapat diperdagangkan. 


Hal tersebut ditunjang oleh masa panen hijauan dalam waktu yang tepat, dimana produksi hijauan sedang berlebih. Bahan untuk pembuatan hay sangat bergantung dari cara panennya, sebab panen yang kurang baik akan mengakibatkan banyaknya hijauan yang akan tercecer dan terbuang. 

Juga bila hijauan telah dipanen dan belum sempat ditempat yang teduh dan memadai, tertimpa hujan maka kualitas hijauan tersebut akan menurun. Proses pengeringan yang berlangsung terlalu lama akan mengakibatkan kehilangan nutrisi dan memudahkan tumbuhnya jamur. Pengeringan yang berlebihan juga akan menurunkan kualitas hay.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Kritreria Hay

Syarat hijauan yang dibuat Hay :
 

(a) Bertekstur halus;
(b) Dipanen pada awal musim berbunga;
(c) Hijauan (tanaman) yang akan dibuat hay dipanen dari area yang subur.
 


Agar hay dapat lebih awet disimpan, perlu diberi pengawet. Adapun macam-macam pengawet yang dapat dipakai antara lain garam dapur (Nacl), asam propionic, dan amonia cair. 

Garam sebagai pengawet diberikan 1-2% akan dapat mencegah timbulnya panas karena kandungan uap air, juga dapat mengontrol aktivitas mikroba, serta dapat menekan pertumbuhan jamur. 

Asam propionic berfungsi sebagai fungicidal dan fungistalic yaitu mencegah dan memberantas jamur yang tumbuh serta tidak menambah jumlah jamur yang tumbuh. 

Adapun pemberian untuk hay yang diikat (dipak) sebanyak 1% dari berat hijauan. Amoniak cair juga berfungsi sebagai fungicidal dan pengawet, mencegah timbulnya panas, meningkatkan kecernaan hijauan tersebut dan memberikan tambahan N yang bukan berasal dari protein (NPN).


Langkah Pembuatan Hay:

Alat 

(a) Sabit rumput/gunakan mesin pemanen rumput 

(b) Pelataran untuk menjemur rumput dan rak untuk menghamparkan rumput yang akan dikeringkan 

(c) Alat pengukur kandungan air hay (Delmhorst digital hay meter andbale sensor) 

(d) Gudang untuk menyimpan hay. 

(e) Tali untuk mengikat hay yang sudah kering. 

Bahan

*Rumput yang berbatang halus sehingga mudah dikeringkan* 

Cara Kerja 

(a) Sabit rumput dikebun rumput;

(b) Lakukan penimbangan berat rumput; 

(c) Bila dilakukan pengeringan dengan sinar matahari kerjakan dilantai jemur, jika lantai jemur menggunakan para-para yang mendatar maupun yang miring, hijauan hendaknya dibalik tiap 2 jam. Lama pengeringan tergantung tercapainya kandungan air antara 12-20%;

(d) Bila memakai ‘dryer’, hijauan dimasukkan ke pengering. Lakukan pemotongan dengan panjang yang memadai dengan mesin pengering tersebut;

(e) Lakukan pengukuran kandungan air hay dengan menggunakan alat pengukur kandungan air (Delmhorst digital hay meter and bale sensor);

(f) Ukur suhu gudang tempat penyimpanan hay. 

Penyimpanan Hay :

Hay harus di simpan di tempat yang kering, terlidung dari air hujan, sebaiknya jangan di letakan di atas tanah, karena tanah bersifat lembab.

Adapun Kriteria Hay yang Baik : 

(a) Berwarna tetap hijau meskipun ada yang berwarna kekuningkuningan 

(b) Daun yang rusak tidak banyak, bentuk hijauan masih tetap utuh dan jelas, tidak terlalu kering sebab akan mudah patah 

(c) Tidak kotor dan tidak berjamur. 

(d) Mohon di ingat Alat Pengukur Parameter keberhasilan pembuatan hay yang terbaik adalah Ternak yang akan memakannya.

SILASE

Silase adalah hijauan makanan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam keadaan segar (dengan kandungan air 60-70 %) melalui proses fermentasi dalam silo. 

Silo dapat dibuat diatas tanah yang bahannya berasal dari: tanah, beton, baja, anyaman bambu, tong plastik, drum bekas dan lain sebagainya.

Didalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana “bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi.

Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Silase


Tujuan Pembuatan Silase:

Tujuan utama pembuatan silage adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak. 

Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.

Prinsip Pembuatan Silase:

Prinsip pembuatan silase yaitu usaha untuk mencapai dan mempercepat: 

(a) Keadaan hampa udara (anaerob) 

(b) Terbentuk suasana asam dalam penyimpanan (terbentuk asam laktat)


Untuk mendapatkan suasana anaerob dikerjakan dengan cara : 

(a) Pemadatan bahan silase (hijauan) yang telah dicacah dengan cara ditekan, baik dengan menggunakan alat atau diinjak-injak sehingga udara sekecil mungkin (minimal). 

(b) Tempat penyimpanan (silo) jangan ada kebocoran dan harus tertutup rapat yang diberi pemberat. 

(c) Pembentukan suasana asam dengan cara penambahan bahan pengawet atau bahan imbuhan (additif) secara langsung dan tidak langsung. Pemberian bahan pengawet secara langsung dengan menggunakan:

1)      Natrium bisulfate

2)      Sulfur oxide

3)      Asam chloride

4)     Asam sulfat

5)     Asam propionat

Pemberian Bahan Pengawet / Bahan Imbuhan (Additif) Secara Tidak Langsung:

Pemberian bahan pengawet / bahan imbuhan (additif) secara tidak langsung adalah dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung hidrat arang (carbohydrate) yang siap diabsorpsi oleh mikroba, antara lain :

a)      Molase (melas)      : 2,5 kg /100 kg hijauan

b)      Onggok (tepung)   : 2,5 kg/100 kg hijauan

c)      Tepung jagung      : 3,5 kg/100 kg hijauan

d)     Dedak halus          : 5,0 kg/100 kg hijauan

e)      Ampas sagu          : 7,0 kg/100 kg hijauan


Panjang Pemotongan Rumput

Rumput yang dipotongnya terlalu panjang, akan menyulitkan saat pengepakan ke dalam silo, dan kemungkinan masih banyak oksigen yang tersisa. Jadi ini akan menyulitkan tercapainya suasana anaerob. 

Sedangkan pemotongan/pencincangan rumput yang terlalu lama akan berakibat menurunnya kandungan lemak susu, ruminasi, proses memamah biak, pengeluaran air liur (salivasi) dan menyebabkan rendahnya pH rumen (acidosis).


Jenis Hijauan yang Dapat Dibuat Silase :

  a)      Rumput

b)      Sorghum

c)      Jagung

d)     Biji-bijian kecil


Pembuatan Silase 

Alat :

a) Silo : Alat yang akan dipakai untuk melakukan proses fermentasi, pengawetan hijauan, dan penyiapan. Sebaiknya dengan kapasistas untuk 50 kg hijauan yang telah dicacah. 

b) Mesin pencacah (Chopper) atau golok dan talenan: untuk mencacah hijauan yang akan dibuat silase 

c) Plastik atau bahan lain yang tidak tembus rembesan air: sebagai pelapis pada dinding dan penutup silo 

d) Ban bekas/bahan-bahan yang digunakan sebagai pemberat. 

Bahan :

a) Hijauan makanan ternak (bahan yang telah dipanen) yang akan diawetkan dengan dibuat silase. 

b) Bahan pengawet (additif) yang dipilih dari salah satu yang tersebut di atas. 


Langkah Kerja Pembuatan Silase:

a) Hijauan makanan ternak (rumput maupun limbah pertanian), dilayukan dengan cara diangin-anginkan kurang lebih semalaman, kemudian dicacah dengan panjang potongan 2-5 cm atau dilakukan dengan mesin pencacah (chopper). 

b) Bila tidak dicampur dengan bahan pengawet/ additif, hijauan yang telah dicacah dapat langsung di masukkan ke dalam silo. Jika diberi pengawet/additif, penambahannya dilakukan dengan cara menaburkan secara merata selapis demi selapis untuk hijauan dengan ketebalan 10 cm, kemudian diaduk sampai rata. 

c) Hijauan yang telah dicampur dengan additif atau pengawet, ditekan kuat-kuat dalam silo (bak silo/kantung plastik), dipadatkan dengan jalan diinjak-injak sehingga tidak ada lagi udara yang tersisa (hampa udara). Silo diisi padat atau nya. 

d) Silo dapat dibongkar sesudah proses fermentasi selesai (30 hari).

Kualitas Silase yang Baik:

-          pH sekitar 4

-          Kandungan air 60-70%

-          Bau segar dan bukan berbau busuk

-          Warna hijau masih jelas

-          Tidak berlendir

-          Tidak berbau mentega tengik

Penggunaan Silase:

Silase merupakan pakan yang disukai ternak terutama bila cuaca panas. Apabila ternak kita belum terbiasa mengkonsumsi silase, maka pemberiannya sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan.  



AMONIASI

Amoniasi adalah cara pengolahan kimia menggunakan amoniak (NH3) sebagai bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan daya cerna bahan pakan berserat sekaligus meningkatkan kadar N (proteinnya). 

Cara ini mempunyai keuntungan-keuntungan yaitu: sederhana, mudah dilakukan, murah (sumber NH3 diambil dari urea), juga sebagai pengawet, anti aflatoksin, tidak mencemari lingkungan dan efisien.

Proses pembuatan amoniasi ada dua cara, yaitu cara kering ataupun cara basah. Perbedaannya hanya terletak pada urea yang dilarutkan atau tidak dalam air.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Amoniasi Jerami


Cara Kering :

Bahan: 

a)      100 kg jerami padi kering udara 

b)      3-4 kg urea (3-4% dari bahan)  

Peralatan : 

a)      Lembaran plastik sebagai alas 

b)      Timbangan 

Cara Pembuatan : 

a) Jerami yang sudah terpilih dan ditimbang diikat dengan tali yang terbuat dari bambu. 

b) Bungkus dengan plastik sebelum diikat taburi urea secara merata pada setiap ikatan/bal jerami. 

c) Setelah merata, ikat bungkus secara rapat agar tidak ada udara yang masuk/anerob. 

d) Simpan di tempat yang teduh dan tidak kena hujan/ air. Sebaiknya di atas plastik pembungkus ini diberi beban agar ada tekanan ke bawah, sehingga gas amoniak yang terbentuk dimanfaatkan oleh jerami. Lama proses penyimpanan selama satu bulan. 

e) Setelah satu bulan jerami olahan dapat dibuka, hasil yang baik ditandai dengan bau amoniak yang menyengat, oleh karena itu hati-hati ketika membuka karena dapat menyebabkan mata pedih. 

f) Setelah bau yang menyegat berkurang pindahkan ke ruang penyimpanan. Simpan di tempat yang beratap dan tidak kena hujan. Perhatikan ventilasi gudang penyimpanan udara harus bebas mengalir. 

Cara Basah :

Teknik yang digunakan dalam proses amoniasi cara basah ialah dengan : kantong plastik. 

Bahan : 

a)      15 kg jerami kering udara 

b)      870 gram urea 

c)      5 liter air 

Peralatan : 

a)      2 lembar kantong plastik ukuran 100 x 150 cm dengan ketebalan 0,4 cm 

b)      1 buah ember 

c)      1 buah gembor 

d)     1 timbangan 

e)      1 alat pengaduk 

Cara Pembuatan :

a) Kantong plastik langsung dilapis dua dengan cara memasukan lembar pertama ke dalam lembar kedua, agar lebih kuat dan menghindarkan bocor.  

b) Seluruh jerami dimasukkan ke dalam plastik agak dipadatkan dengan cara menekan/ mendorong jerami jangan diinjak dapat menyebabkan plastik sobek. 

c) Larutkan 870 gram urea ke dalam ember yang berisi 5 liter air dengan cara diaduk sampai benar-benar larut hingga tidak ada lagi butir-butir urea yang terlihat. 

d) Siramkan larutan urea tersebut ke dalam kantong plastik yang berisi jerami dengan gembor agar lebih mudah dan dapat merata, sampai seluruh larutan tersebut habis. 

e) Tutup dahulu kantong plastik lapis dalam dengan cara mengikat bagian atasnya, kemudian baru kantong plastik bagian luarnya. Kantong plastik ini dapat disimpan di tempat yang telah disediakan dan cukup aman. 

f) Setelah satu bulan kantong plastik dapat dibuka, ketika membuka plastik harus hati-hati karena selama proses amoniasi ini terjadi pembentukan gas, sehingga ketika plastik tersebut dibuka gas akan keluar dan dapat menyebabkan pedih di mata. 

Jerami hasil amoniasi kemudian diambil lalu diangin-anginkan selama dua hari sebelum diberikan kepada ternak. 

Tambahan :

(1) Untuk proses amoniasi dalam jumlah banyak maka jumlah kantong plastik harus disediakan dalam jumlah yang cukup. Bila pengolahan cara ini dilakukan dengan hati-hati, maka kantong plastik tersebut dapat dipakai ulang sampai tiga kali. Biasanya hanya dua kali pakai. 

(2) Untuk disimpan jangka lama maka jerami amoniasi tersebut harus dijemur dan dikeringkan di panas matahari selama kurang lebih satu minggu hingga kadar air mencapai 20 %.  

(3) Bila jerami tersebut sudah dijemur dan kering maka dapat disimpan di bawah atap dan tahan 6 bulan sampai satu tahun tanpa adanya penurunan kualitas. 

(4) Dalam penyajian jerami amoniasi ini tidak perlu dicacah, jadi dapat diberikan dalam bentuk utuh, karena dari hasil penelitian jumlah yang dikonsumsi oleh ternak baik yang dicacah maupun yang utuh akan sama saja, sehingga untuk ekonomisnya tidak perlu dicincang. 

(5) Bila tersedia konsentrat, maka sebaiknya konsentrat diberikan terlebih dahulu kira-kira satu jam sebelum pemberian jerami, hal ini dimaksud untuk merangsang perkembangbiakan mikroorganisme dalam rumen karena karbohidrat siap pakai dan protein yang tersedia dalam konsentrat cukup sebagai pendorong perkembangbiakan mikroorganisme dalam rumen terutama bakteri selulolitik yang mencerna serat kasar jerami.



Semoga bermanfaat...

0 Response to "TEKNOLOGI (PENGOLAHAN & PENGAWETAN) PAKAN HIJAUAN"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel