PROBLEMATIKA SARJANA DI NUSA TENGGARA TIMUR

Kenyataan yang sungguh ironis melihat angka Pengangguran Terbuka (pengangguran bersekolah yang memiliki ijasah tetapi belum/tidak memiliki pekerjaan) di provinsi Nusa Tenggara Timur begitu tinggi bahkan menjadi yang tertinggi di Indonesia. 

Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT pada Februari 2014 jumlah pengangguran terbuka tercatat ada 46.904 orang dan di tahun 2015 angka tersebut bertambah 10%.

Sesungguhnya NTT mempunyai sumber daya alam yang potensial namun sayangnya belum secara maksimal dikembangkan. Dunia pertanian dan kekayaan laut yang begitu besar sampai saat ini masih dikelola secara tradisional. 


Potensi yang ada tersebut belum juga menggugah kaum muda terutama tamatan sarjana agar berpikir kreatif untuk mengembangkannya menjadi lahan penguatan ekonomi rakyat sekaligus dapat membuka lapangan kerja. Apalagi saat ini sektor bisnis swasta di NTT belum berkembang dengan baik. 

https://www.berbagiilmupeternakan.com/

Dua problematika ini sesungguhnya telah menyebabkan NTT menjadi provinsi yang terbilang miskin di tanah air ini. Kemiskinan, yang akrab dengan NTT membuat banyak orang membuat anekdot tentang propinsi ini. 

Sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar NTT dijadikan singkatan “Nasib Tak Tentu, Nasib Tambah Terang, Nanti Tuhan Tolong, Ngalor-ngidul Tidak Tentu, Numpang Tanda Tangan, Negeri Tidak Tentram”, dan masih banyak lagi bentuk pelesetan yang akhirnya hanya memberi kesan begitu kental tentang betapa terbelakangnya daerah ini dalam hampir semua aspek kehidupan.

Problem lain yang juga dihadapi NTT adalah lemahnya sumber daya manusia serta manajemen pemerintahan yang dirasakan masih dikelola dengan semangat primordialisme. 

Semangat ini konon lahir dari kandungan kualitas aparat yang berorientasi merebut kue kecil di birokrasi dan kecenderungan kuat para sarjana baru yang seharusnya menjadi pioneer penting dalam pembangunan di NTT malah lebih memilih menjadi Pegawai Negeri Sipil ketimbang menciptakan lapangan kerja. PNS dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang menjanjikan, menenangkan, dan mengamankan.

Melihat kondisi tersebut, saya berpendapat bahwa hampir seluruh para sarjana  di NTT yang masih menganggur masih berkutat pada mindset lama mereka, yakni keinginan untuk menjadi PNS. 

Dalam lingkup keluarga, misalnya, sering kita jumpai bagaimana orang tua mendoktrin anaknya untuk menjadi seorang PNS, atau jika gagal menjadi PNS, sang anak diharapkan dapat bekerja di sebuah perusahaan swasta. Intinya, sang anak harus menjadi sosok pekerja, bukan pengusaha. Pilihan pertama adalah PNS, kedua adalah bekerja di sebuah perusahaan.

Saya pun mendapati perlakuan yang sama dari orang tua. Sejak kecil, orang tua seringkali menanamkan pandangan mereka kepada saya agar menjadi seorang PNS. PNS itu enak, PNS itu terhormat, PNS itu terjamin hidupnya, begitu ringkasnya. Beberapa kawan saya yang telah nyaman bekerja di sebuah perusahaan swasta, bahkan masih berharap kelak akan menjadi PNS.

Di luar itu semua, saat pemerintah membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), ada puluhan (atau mungkin ratusan) ribu anak NTT yang mencoba peruntungannya. 

Lulusan-lulusan perguruan tinggi beken, dengan berbagai macam jurusan favorit, ramai-ramai mendaftarkan dirinya untuk menjadi pelayan masyarakat. Mereka berkeinginan untuk bekerja di instansi-instansi pemerintah. Sementara yang mencoba menggeluti dunia usaha, hanya beberapa persen saja.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Gambar Ilustrasi
Sesungguhnya, adalah keliru pandangan yang menyatakan bahwa menjadi PNS itu serba enak, serba santai, serba nyaman, dan serba terjamin. Ide-ide kreatif seputar hidup dan keinginan mengembangkan diri, terpenjara dalam sel bernama birokrasi dan budaya kerja.

Kepada para generasi muda, terutama para sarjana dari berbagai disiplin ilmu perlu merumuskan langkahnya agar turut serta membangun gagasan-gagasan briliyan untuk pembangunan daerah NTT, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dengan ilmu yang dimilikinya. 

Seorang pengusaha akan hidup dengan penuh kreativitas, independensi, bebas melakukan usaha apapun, kapanpun, dan dimanapun, tak terikat waktu, dan yang paling penting, tidak menjadi kacung. Seorang pengusaha bisa mengeluarkan semua ide dan unek-uneknya, tidak seperti PNS yang seringkali tersetir oleh kemauan atasan dan aturan-aturan yang mengikat.

0 Response to "PROBLEMATIKA SARJANA DI NUSA TENGGARA TIMUR"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel