POTENSI, PERMASALAHAN, DAN PELUANG PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

Mencermati kondisi lingkungan di bumi yang semakin memprihatinkan karena kerusakan sumberdaya alam (SDA) yang sangat cepat, maka pemulihan lingkungan telah menjadi perhatian khusus semua negara. Deklarasi Johanesburg tentang Pembangunan Berkelanjutan (Deplu, 2002) menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan karena eksploitasi SDA telah mencapai kondisi yang sudah tidak bisa ditolelir lagi untuk dibiarkan. Jika semua negara tidak mengambil sikap politik dan kebijakan yang tepat tentang pengelolaan lingkungan, maka masa depan planit bumi ini sangat terancam.

Tidak mengherankan jika muncul berbagai bencana alam dari yang kecil sampai yang besar yang terjadi selama ini. Hal ini tidak terlepas dari ulah tangan manusia yang kurang memperdulikan lingkungan dalam berbagai aktivitasnya. Jika pembangunan ingin berkelanjutan, kita harus mampu menyebarluaskan penghayatan manusia pada proses pembangunan yang berkelanjutan (Salim, 1996).
Peta Nusa Tenggara Timur
Ketika revolusi hijau terjadi di awal 1960-an, permasalahan mendasar yang dihadapi dunia saat itu adalah permasalahan ketahanan pangan bagi penduduk dunia yang meningkat begitu pesatnya. Berbagai capaian dibidang rekayasa genetika telah menghasilan bibit-bibit unggul gandum dan padi yang mampu mencukupi ketahanan pangan di awal tahun 1980-an. 

Pada tahun 1984, Indonesia telah mampu berswasembada pangan dan pada waktu itu Presiden RI, Jendral Suharto mendapat penghargaan internsional tentang food scurity. Namun kondisi seperti ini tidak berlangsung lama karena kekuatan itu tidak muncul dari proses pemberdayaan masyarakat tani yang riil di lapangan.
Ilustrasi Potret Kemiskinan di NTT
Permasalahan yang dihadapi dunia saat ini jauh lebih rumit dari sekedar kecukupan pangan. Dua permasalahan besar dunia lainnya yang dihadapi saat ini, khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah (1) permasalahan kemiskinan dan (2) tingginya pengangguaran. Sehingga para ahli sepakat bahwa sangat mustahil kita mampu mengelola SDA dan lingkungan dengan baik sebelum mampu mengatasi kedua permasalahan mendasar tersebut (Standing Commitee PBB, 2000).

Selanjutnya jika kita lihat potret penduduk dunia, lebih dari 70 % tinggal di negara-negara berkembang dan > 80 %  mata pencaharian mereka adalah dari petanian. Sehingga ketergantungan mereka terhadap sumberdaya lahan dan hutan adalah sangat besar. Oleh karena itu mempertahankan kondisi sumberdaya lahan dan hutan untuk tetap produktif merupakan permasalahan mendasar penting yang sangat krusial.

Indonesia sebagai negara agraris harus mampu mendorong sektor pertaniannya menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh (Suwardji, 2004). Selama ini kebijakan pemerintah dalam pembangunan pertanian terlalu memfokuskan pada pegembangan lahan sawah dan mengesampingkan pengembangan wilayah lahan kering.

Agar sektor pertanian menjadi tangguh dan mempunyai daya saing yang tinggi, diperlukan re-orientasi paradigma pertanian kita yang diantaranya (1) sekenario pengembangan pertanian haruslah back to basic, yang maknanya mengutamakan kekuatan riil sektor ini dengan tidak langsung ke industry broad, apalagi high technology (2) dilakukan secara berkelanjutan dan menempatkan petani sebagi fokus pemberdayaan;  

(3) agar dapat menjadi motor penggerak perekonomian, pertanian tidak hanya terfokus sektor pangan, tetapi juga sektor hortikultura, peternakan, perikanan  dengan pola pemberdayaan masyarakat petani menjadi sasaran sehingga kesejahteraan mereka serta perbaikan lingkungan secara seimbang dapat diwujudkan dan (4)  untuk mewujudkan ketiga paradigma tersebut, paradigma lahan sawah sebagai tulang punggung pertanian pemasok pangan harus ditinggalkan dengan mencari alternatif yang mempunyai peluang lebih besar (Utomo, 2001).

Untuk provinsi NTT, potensi dan unggulan yang diharapkan menjadi andalan adalah pengembangan pertanian lahan kering dalam arti luas. Fakta-fakta lapangan dan sejarah telah membuktikan ketika krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi pertengahan tahun 1997, petani lahan kering merupakan kelompok tani yang paling tangguh dan justru meraup dolar yang sangat menguntungkan serta  mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap gejola sosial dan politik dunia.


Propinsi NTT mempunyai keunggulan komparatif berupa potensi wilayah lahan kering yang cukup luas dan berpeluang besar untuk dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama petani lahan kering. Potensi pengembangan pertanian lahan kering di propinsi NTT yang cukup besar tersebut dibandingkan dengan pengembangan lahan sawah karena (1) sangat dimungkinkan pengembangan berbagai macam komoditas pertanian untuk keperluan eksport dengan luas dan dan kondisi agroekosistem yang cukup beragam; 


(2) dimungkinkan pengembangan pertanian terpadu antara ternak dan taman perkebunan/kehutanan serta tanaman pangan, (3) membuka peluang kerja yang lebih besar dengan investasi yang relatif lebih kecil dibandingkan membangun fasilitas irigasi untuk lahan sawah, dan (4) mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan sebagian besar penduduk yang saat ini tinggal di lahan kering (Suwardji et al. 2003)


Walaupun potensi lahan kering NTT yang cukup besar, lahan kering yang ada memiliki ekosistem yang rapuh (fragile) dan mudah terdegradasi apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan perencanaan yang baik, topografi umumnya berbukit, ketersediaan lengas tanah yang terbatas, lapisan olah tanah dangkal, mudah tererosi, teknologi diadopsi dari teknologi lahan basah yang tidak sesuai, infrastruktur tidak memadai, sumberdaya manusia masih relatif rendah, kelembagaan sosial ekonomi masih lemah, perhatian pemerintah sangat kurang dan partisipasi berbagai pihak dalam pengembangan lahan kering terutama pihak swasta sangat kurang (Suwardji et al. 2003).
Potensi Sapi SO di Lahan Kering
Fakta-fakta lapangan menunjukkan bahwa permasalahan pengembangan lahan kering yang dihadapi bukan hanya karena  masalah mutu sumberdaya alamnya yang rendah, tetapi juga kerena permasalahan sosial ekonomi yang sangat komplek. Untuk itu dalam pengembanganan wilayah lahan kering memerlukan pendekatan yang terintegrasi dari berbagai aspek dengan memperhatikan kemampuan agroekosistemnya.

Hasil berbagai pengkajian lapangan yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia seperti di NTT, NTB dan Lampung, lahan kering di Indonesia mempunyai potensi pengembangan untuk pertanian yang berkelanjutan dan dapat mendukung program (1) ketahanan pangan, (2) mendukung program pengentasan kemiskinan, (3) menciptakan peluang kerja bagi masyarakat lokal yang berarti mengatasi pengangguran dan (4) memperbaiki kualitas sumberdaya lingkungan lokal, regional dan global (Utomo, 2005 komunikasi pribadi, Duggan, 2005, komunikasi pribadi ). 

Sehingga bisa dikatakan bahwa jika lahan kering ini dikembangkan secara sungguh-sungguh akan dapat mengatasi permasalahan besar Indonesia dan dunia seperti yang telah disebutkan di atas.

SALAM PERTANIAN

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "POTENSI, PERMASALAHAN, DAN PELUANG PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel