PENYEDIAAN HIJAUAN MAKANAN TERNAK MELALUI SISTEM TIGA STRATA


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang


Dalam usaha peternakan khususnya ternak ruminansia, tidak bisa terlepas dari permasalahan ketersediaan Hijauan Makanan Ternak (HMT) yang berkelanjutan, terutama disaat musim kemarau tiba yang merupakan salah satu musim kesulitan dalam ketersediaan pakan ternak. 

Ketersediaan Hijauan Makanan Ternak (HMT) sebagai pakan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan baik buruknya perkembangan ternak ruminansia, karena pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi usaha peternakan dan berpengaruh langsung terhadap produksi, produktivitas dan kesehatan ternak itu sendiri (baca: Hijauan Makanan Ternak).


Dalam sistem usaha peternakan ruminansia, tanaman pakan merupakan sumber pakan hijauan yang mutlak diperlukan dan harus tersedia baik secara kuantitatif maupun kualitatif. 

Ketersediaan hijauan pakan juga merupakan faktor langsung yang berhubungan dengan keberlanjutan dan kestabilan usaha ternak ruminansia. Kebutuhan hijauan pakan per ekor ternak ruminansia per hari untuk hidup pokoknya sebanyak ±10% dari berat tubuhnya.


Rendahnya sebaran dan ketersediaan hijauan pakan sepanjang tahun menjadi salah satu penyebab sulit berkembangnya populasi dan produktivitas ternak, karena peternak tidak dapat mempertahankan ternaknya untuk dipelihara (terutama musim kemarau) akibat kurangnya sumber pakan utama tersebut. 

Pada saat musim penghujan, produksi hijauan makanan ternak akan melimpah, sebaliknya pada saat musim kemarau tingkat produksinya akan rendah, atau bahkan dapat berkurang sama sekali (Sumarno, 1998).


Dalam menyiasati ketersediaan hijauan makanan ternak yang tidak tetap sepanjang tahun, diperlukan budidaya hijauan makanan ternak salah satunya adalah melalui Sistem Tiga Strata. 

Dengan demikian kekurangan akan hijauan makanan ternak dapat diatasi, sehingga nantinya dapat mendukung pengembangan usaha ternak ruminansia yang akan dilakukan.

 
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Skema Sistem Tiga Srata
Sistem tiga Strata (STS) merupakan suatu cara penanaman serta pemangkasan rumput, leguminosa, semak, dan pohon sehingga hijauan tersedia sepanjang tahun. 

Stratum pertama terdiri dari tanaman rumput potongan dan legume herba/ menjalar (sentro, kalopo, arachis, dll.) yang disediakan bagi ternak pada musim penghujan. 

Stratum kedua terdiri dari tanaman legume perdu/ semak (alfalfa, stylosanthes, desmodium rensonii, dll.) yang disediakan bagi ternak apabila rumput sudah mulai berkurang produksinya pada awal musim kemarau. Bagian ini dibagi petak masing-masing 46 meter persegi ( lebar 5 m dan panjang 9 m ). 

Stratum tiga terdiri dari legume pohon (gamal, lamtoro, kaliandra, turi, acasia, sengon, waru, dll.) yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai fungsi. Selain untuk pakan pada musim kemarau panjang, tanaman tersebut juga dapat digunakan sebagai tanaman pelindung dan pagar kebun hijauan makanan ternak maupun kayu bakar.


Tujuan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui bagaimana cara menyediakan hijauan makan ternak melalui Sistem Tiga Strata (STS) dalam usaha peternakan ruminansia sehingga hijauan dapat selalu tersedia sepanjang tahun. 
  2. Untuk mengetahui manfaat Sistem Tiga Strata (STS) dalam usaha peternakan ruminansia.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA





Ternak Ruminansia


Ternak ruminansia adalah ternak atau hewan yang memiliki empat buah lambung dan mengalami proses memamahbiak atau proses pengembalian makanan dari lambung ke mulut untuk di mamah. Contoh hewan ruminansia ini adalah ternak sapi, kerbau, dambing serta ternak domba (Parasaki Aminuddin, 1998).


Menurut (Theron Parlin, 2008) menyatakan bahwa ternak ruminansia merupakan ternak/hewan berkuku genap sub ordo dari ordo Artiodactyla disebut juga mammalia berkuku.


Nama ruminan berasal dari bahasa Latin "ruminare"yang artinya mengunyah kembali atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hewan memamah biak. Ternak/hewan ruminansia umumnya herbivora atau pemakan tanaman, sehingga sebagian besar makanannya adalah selulose, hemiselulose dan bahkan lignin yang semuanya dikategorikan sebagai serat kasar. 

Ternak/Hewan ini disebut juga ternak/hewan berlambung jamak atau polygastric animal, karena lambungnya terdiri atas rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Rumen merupakan bagian terbesar dan terpenting dalam mencerna serat kasar.



Hijauan Makanan Ternak (HMT)


Hijaun makanan ternak adalah rerumputan, legum herba, dan legum pohon/semak  yang dapat digunakan untuk memberi makan hewan. HMT juga  dapat digunakan untuk pengelolaan sumber daya alam yang lebin  baik, termasuk pencegahan erosi, peningkatan kesuburan tanah, dan pencegahan tanaman liar/gulma. Sebagian besar petani di Indonesia, memanfaatkan HMT sebagai pakan ternak pokok (Rahmat et al., 2005)


Hijauan makanan ternak merupakan bagian tanaman terutama rumput dan leguminosa yang digunakan sebagai pakan ternak (Hartadi et al., 1993). Wilkins (2000) menyatakan bahwa hijauan merupakan bagian tanaman yang dapat dimakan, termasuk padi-padian yang diberikan dengan cara menggembalakan ternak maupun dipanen untuk diberikan langsung pada ternak. 

Menurut keberadaannya, hijauan makanan ternak terdiri dari hijauan yang tumbuh secara alami tanpa campur tangan manusia seperti pastura alami dan hijauan yang sengaja ditanam oleh petani seperti rumput gajah, gamal, lamtoro, dan waru (Budiasa, 2005).


Makanan hijauan merupakan semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan. Kelompok tanaman ini adalah rumput (graminae), leguminose dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Kelompok hijauan biasanya disebut makanan kasar. 

Hijauan yang diberikan ke ternak ada dalam bentuk hijauan segar dan hijauan kering. Hijauan segar adalah makanan yang berasal dari hiajauan dan diberikan ke ternak dalam bentuk segar. Hijauan kering adalah hijauan yang diberikan ke ternak dalam bentuk kering (hay) atau disebut juga jerami kering (Edo, 2012).



Sistem Tiga Strata

Sistem Tiga Strata (STS) diperkenalkan oleh Prof. Dr. I Made Nitis di Bali. Tanaman rumput dan leguminosa yang menjalar digolongkan strata I, leguminosa semak dan perdu digolongkan strata II, dan leguminosa pohon digolongkan strata III. 

Penataan setiap strata adalah sebagai berikut: strata I merupakan berupa pohon ditanam paling luar dengan jarak sekitar 5 m, strata II  berupa leguminosa semak perdu yang ditanama diantaranya, dan strata III, berupa rumput ditanam dibawahnya berdekatan dengan bidang untuk tanaman pangan (BPTP, 2011). 

Usaha ternak terpadu dengan tanaman yang sering dilakukan antara lain Sistem Tiga Strata (STS). Sistem tiga strata adalah sistem penanaman dan pemotongan rumput, leguminosa, semak dan pohon sehingga hijauan makanan ternak tersedia sepanjang tahun (Azmi et al., 2007).




BAB III

PEMBAHASAN




Ketersediaan pakan sepanjang tahun dapat diatasi dengan menggunakan sistem tiga strata (STS). Sistem Tiga Strata adalah cara penanaman rumput, leguminosa, semak dan pohon-pohon sedemikian rupa sehingga hijauan pakan tersedia sepanjang tahun. 

Pertama kali sistem ini dikembangkan oleh petani Bali dengan membagi lahan menjadi berlapis-lapis. Lapisan pertama terdiri dari rumput dan legum yang dimaksudkan untuk menyediakan pakan awal musim penghujan, lapisan kedua terdiri dari semak-semak yang dimaksudkan untuk menyediakan pakan pada pertengahan dan akhir musim penghujan, lapis ketiga terdiri dari pepohonan dimaksudkan untuk menyediakan pakan pada musim kemarau.


Strategi Penanaman STS Dalam Meningkatkan Efisiensi Manfaat Lahan


STS merupakan sistem penanaman rumput/leguminosa, semak dan pohon pada satu areal secara tercampur.   STS dapat diterapkan pada lingkungan yang beragam, oleh karena itu jenis hijauan yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya untuk lahan kering akan berbeda dengan yang untuk lahan basah ataupun lahan perkebunan.

Berikut disampaikan strategi penanaman STS pada lahan kering dengan tujuan meningkatkan efisiensi manfaat lahan:


Rumput dan Leguminosa (Stratum 1)


Rumput unggul yang dapat dipakai adalah buffel, Panicum dan Urokloa, sedangkan legumnya adalah Stelo verano dan Centrocema.  Jenis rumput dan legume unggul ini tahan terhadap kekeringan.  Rumput dan legume ditanam selang seling berkeliling pada pinggiran petak dan ditanam berlarik.

Pada bagian selimut ini dibuat petak-petak berukuran panjang 9 m dan lebar 5 m.  Pada petak-petak ini dibuat larikan berjarak 10 cm dengan kedalaman 1 cm untuk ditanami biji rumput dan legume.  Larikan dibuat tegak lurus dengan kemiringan lahan sehingga biji tanaman tidak dihanyutkan air hujan. 


https://www.berbagiilmupeternakan.com/


*Skema Penerapan Stratum 1 :

Rumput Panicum ditanam dekat Centrocema karena Panicum yang tumbuh tegak merupakan panjatan bagi centrocema yang menjalar.  Panikum dan centro dapat ditanam dekat pagar karena tahan terhadap naungan.  

Selain itucentro dapat juga ditanam di pagar karena sifatnya yang tahan naungan dan membelit.   Rumput bufel dan urokloa tumbuh bagus di daerah terbuka, karena tidak tahan naungan.  Oleh karena itu ditanam jauh dari pagar.± 2,5 m atau lebih dari pagar (Suarna, 1990).  

Jenis legume stylo verano jangan ditanam di dekat pagar karena tidak tahan naungan.  Untuk mendapatkan produksi yang tinggi stylo verano ditanam dekat centrocema karena fiksasi N oleh centrocema akan berpengaruh positif terhadap stylo verano. 

Kehadiran legume pada STS sangat penting karena pada akar legume dijumpai adanya bintil-bintil zat lemas (nodul akar) yang mengandung bakteri yang dapat memfiksasi N atmosfer sehingga dapat menambah kesuburan lahan. 


Semak (Stratum 2)


Semak yang dapat dipakai adalah gamal dan lamtoro. Kedua jenis semak ini tahan kekeringan, produksi tingginya, bernilai gizi tinggi dan mudah dikembangbiakan. Cara penanamannya adalah ditanam berselang-seling sebagai pagar dari petak dengan jarak 10 cm, Perkembangbiakan gamal dilakukan dengan stek.  

Gamal ditanam dengan kedalaman 25 cm dan lebar 25 cm. Sedangkan lamtoro yang ditanam adalah bijinya, sedalam 5 cm. Gamal dan lamtoro mempunyai perakaran yang dalam, lebat dan kuat sehingga dapat menahan tanah dan kerikil dari kikisan air hujan.  

Cabang yang banyak dengan daun yang lebat merupakan kanopi yang baik untuk menahan air hujan, sehingga mengurangi sentakan air hujan yang jatuh ke tanah.  Daun yang gugur pada musim kering, merupakan humus yang dapat menyerap air hujan, sehingga mengurangi air hujan yang merembes mengikis tanah.  

Pada lahan miring semak berfungsi menahan kerikil besar dan batu yang mengelinding dihanyutkan oleh air hujan. Diantara kedua jenis semak ini, naungan lamtoro memberikan efek yang lebih bagus daripada gamal terhadap produksi hijauan yang ada dibawahnya. 

Rumput Bufel yang tidak tahan naungan ditanam dekat dengan lamtoro akan memberikan hasil yang lebih bagus dibandingkan dengan gamal. Hal ini berkaitan dengan perbedaan morfologi daun sehingga jumlah sinar yang dapat dilewatkan lebih banyak oleh lamtoro dibandingkan gamal. 

Pohon (Stratum 3)


Jenis pohon yang dapat dipakai adalah bunut, santen dan waru  Penanaman pohon dilakukan berselang-seling disekeliling batas STS dengan jarak 5 m, kedalaman 50 cm dan lebar 25 cm. 

Pohon bunut dan santen sangat tahan terhadap kekeringan dan lahan yang miring karena mempunyai sistem perakaran yang dalam dan kuat.  Perakaran yang dalam sangat menguntungkan karena tidak terjadi kompetisi dengan strata 1 dan 2. Produksinya tinggi dan mudah dikembangbiakan.  

Sedangkan pohon waru mempunyai daya adaptasi yang sangat bervariasi yaitu dari lahan basah sampai kering. Produksinya tinggi dan bernilai gizi tinggi. Pohon waru ditanam pada tempat yang datar karena sistem perakarannya dangkal  dan batangnya berkulit tipis sehingga sangat tergantung pada kadar air tanah. 


Bagian inti


Pada bagian inti dapat ditanami tanaman pangan/palawija.  Di bawah larikan tanaman semusim, misalnya jagung ditanami tanaman yang berfungsi sebagai penutup tanah karena mempunyai pertumbuhan yang rapat dan rendah, yaitu tanaman leguminosa seperti centrocema pubercens, Pueraria phasoloides dan Arachis prostrate.  

Tanaman ini dipotong pada saat tanaman pangan akan ditanam.  Dengan cara ini diharapkan kesuburan lahan akan bertambah karena sumbangan nitrogen dari bintil-bintil akar, sehingga efisiensi manfaat lahan juga meningkat.


Produktivitas Lahan, Hijauan dan Ternak pada Sistem STS


Produksi pakan hijauan STS 91% lebih tinggi dari Sistem Tradisional. Erosi lahan 57% lebih rendah, karena strata 2 dan 3 menahan batu dan kerikil, sedangkan strata 1 menahan tanah. Unsur hara dalam bentuk N 75% lebih tinggi, bahan organik 13% lebih tinggi dan humus 23% lebih tinggi (Nitis et al., 2000). 

Erosi lahan dan air hujan dapat dikurangi karena perakaran yang kuat dan dalam dari strata 2 dan 3 dapat, daun rimbun dari strata 1, 2 dan 3 dapat menahan abrasi karena sinar matahari dan angin dan ternak yang dikandangkan tidak merusak struktur tanah. 

STS meningkatkan kesuburan lahan dengan bintil-bintil nitrogen dari tanaman legum, humus dari akar dan daun yang melapuk dan pupuk kandang dari kotoran ternak.


Produksi Hijauan STS


Pertambahan berat badan ternak lebih tinggi pada pemberian pakan dengan hijauan legum yang lebih banyak dibandingkan yang hanya diberikan rumput saja. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pakan hijauan diantaranya: Iklim, tahan, spesies hijauan, dan manajemen.  

Pada lahan kering tanaman pangan maka tanaman pangan yang umum berupa palawija (karena padi terutama ditanam disawah), prioritas kedua adalah tanaman holtikultura, dengan demikian hijauan pakan untuk ternak berasal dari limbah pertanian tanaman palawija, gulma, peperduan dan pepohonan. 

Peperduan yang penting adalah merry gold, lantana camara, kaliandra dan lamtoro, sedangkan pepohonan yang potensial adalah albizia, nangka, mindi dan sebagainya. Hijauan unggul ditanam dibibir teras, lereng teras dan dibatas-batas tanah, juga tebing-tebing dan selokan-selokan serta pinggir-pinggir jalan (Hasnudi et al., 2004). 


Hasil penelitian Azmi dan Gunawan (2007) yang menerapkan STS dengan ternak kambing bahwa produksi jagung dengan perlakuan kompos 1,89 ton sedangkan tanpa kompos 1,60 ton.


Penyediaan Pakan Sepanjang Tahun


Pada lahan hutan produksi lahan lebih terbuka untuk pengembangan hijauan pakan yaitu : pada periode-periode permulaan, sebagai usaha diversifikasi kehutanan untuk menghasilkan hijauan pakan kualitas unggul (lamtoro, kaliandra, albizia) secara komersial, pengembangan hijauan pakan ditepi-tepi hutan, baik berupa daerah penyangga maupun sekedar sebagai pasar hidup (Hasnudi et al., 2004). 

Komposisi botani pakan hijuan yang diberikan ternak pada 4 bulan musim hujan sebagian besar terdiri dari rumput dan legum, pada 4 bulan awal musim kering sebagian besar terdiri dari daun semak, sedangkan pada 4 bulan akhir musim kering sebagian besar terdiri dari daun pohon pakan ( Nitis et al., 2000).


Unit Ternak yang Bisa Ditampung Dengan STS


Satuan ternak (ST) merupakan ukuran yang digunakan untuk menggabungkan berat badan ternak dengan jumlah makanan yang dmakan. Kapasitas tampung (Carrying capacity) merupakan jumlah hijauan makanan ternak yang dapat disediakan kebun hijauan untuk ternak yang dinyatakan (ST)/hektar (Kementrian Pertanian, 2010). 

Hasil penelitian Azmi dan Gunawan (2007) yang menerapkan STS teknologi integrasi tanaman jagung dan Gamal dengan ternak kambing pejantan PE dengan penerapan model sistem tiga strata meningkatkan Stocking Rate hingga 5 ST dengan tanpa integrasi.

Uraian
Stocking Rate
Tanaman Jagung
-
Produksi limbah segar pemotongan 3 hari (kg)
9
Produksi limbah segar 100 hari (kg)
300
Kebutuhan ransum ransum 100 hari (kg)
75
Stocking Rate ( ST 50 kg/ekor)
4
Tanaman Gamal

Produksi limbah segar pemotongan /hari (kg)
1,5
Produksi limbah segar 100 hari (kg)
150
Kebutuhan ransum ransum 100 hari (kg)
175
Stocking Rate ( ST 50 kg/ekor)
0,85
Total Stocking Rate
4,85

Tabel. 1. Total Stocking Rate Jagung dan Gamal dalam STS



Kebutuhan pakan limbah jagung sebanyak 15% dalam ransum perlakuan. Untuk pakan ternak kambing seberat 50 kg/ekor, diperlukan 75 kg limbah jagung segar dalam 100 hari. Stocking Rate sebesar 4 Satuan Ternak. Dengan rata-rata 25-30 batang tanaman Gamal akan tersedia 150 kg selama 100 hari. 

Stocking Rate yaitu 0,85 ST. Dapat disimpulkan bahwa Sistem integrasi tanaman (jagung dan Gamal) – ternak kambing yang dilaksanakan dalam mampu menampung 4,85 Satuan Ternak kambing seberat 50 kg per ekor. 

Satu petak STS dapat menampung 1 sapi jantan berat 371 kg atau 1 sapi induk dengan pedet berat sapih atau 6 kambing PE berat 60 kg, dan dengan 12 ekor ayam petelur dan/atau 1 koloni lebah madu (Nitis et al., 2000).


Manfaat Sistem Tiga Strata


Manfaat yang diperoleh dari diterapkannya system tiga strata dalam sistem pertanian yaitu:


Meningkatkan ketersediaan HMT baik secara kuantitas maupun kualitas (48 % & 10-18 %)



Menyediakan hijauan sepanjang tahun



Mempercepat pertumbuhan ternak


Mengurangi waktu pemeliharaan ternak


Meningkatkan daya tampung ternak


Meningkatkan kesuburan tanah


Mengurangi/mencegah erosi tanah. Bagian pinggir dan selimut dari STS menahan air hujan untuk tidak mengalir deras. Dengan demikian, maka tanah, kerikil, dan batu- batuan kecil tidak dihanyutkan oleh air. Dengan STS erosi lahan miring dapat dikurangi sebesar 45 %.


Pada sistem peternakan tradisional, sapi diikat/digembalakan pada waktu siang hari, sehingga kotorannya tersebar tidak teratur. Pada STS, sapi dikandangkan sehingga kotorannya dapat disebarkan merata pada lahan yang ditentukan.


Mengurangi erosi (mengurangi pengikisan tanah 75 – 80 %)


Menyediakan kayu api


Menyediakan bibit untuk perluasan STS lainnya


Memperkuat pagar


Merangsang timbulnya kegiatan penunjang


Pendapatan petani meningkat


Menambah kehijauan dan keindahan lingkungan




BAB III

PENUTUP





Kesimpulan


Sistem Tiga Strata (STS) adalah integrasi tanaman dan ternak berwawasan lingkungan. Dengan STS produksi tanaman pakan, tanaman pangan, tanaman perkebunan, produksi dan reproduksi ternak, kesuburan lahan dan kelestarian lingkungan dapat ditingkatkan dan memfasilitasi program penghijauan dan reboisasi. Introduksi STS sebagai alternatif penyedia hijauan pakan yang berkesinambungan tanpa mengabaikan kualitas hijauan.




DAFTAR PUSTAKA



Agus, S. Pedoman Teknis Perluasan Areal Kebun Hijauan Makanan Ternak. Kementrian Pertanian, Jakarta.


Azmi dan Gunawan. 2007. Usaha tanaman-ternak kambing melalui sistem integrasi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Bengkulu. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Hal:523-531.


BPTP. 2011. Budidaya Hijauan Makanan Ternak. Lembang, Jawa Barat.


Hasnudi., S. Umar., dan I. Sembiring. 2004. Kumpulan Konsep Sumbang Saran Untuk Kemajuan Dunia Peternakan Di Indonesia. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.


Nitis, I. M., K. Lana., dan A. W. Puger. 2000. Pengalaman pengembangan tanaman ternak berwawasan lingkungan di Bali. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan. Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Hal: 44-52.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PENYEDIAAN HIJAUAN MAKANAN TERNAK MELALUI SISTEM TIGA STRATA"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel