MANAJEMEN USAHA TERNAK KELINCI

BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Program swasembada daging nasional pada dasarnya adalah kegiatan peningkatan populasi ternak dan pemenuhan kebutuhan protein hewani secara mandiri dengan mengurangi ketergantungan impor. 

Disisi lain, dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia, kebutuhan protein hewani pun akan semakin meningkat pula. Oleh karena itu, diperlukan diversifikasi penyediaan sumber protein hewani selain dari ternak besar maupun unggas.  

Kelinci merupakan ternak alternatif yangmempunyai peluang sebagai penyedia sumber protein hewani yang sehat dan berkualitas tinggi. Ternak kelinci awalnya merupakan hewan liar yang sulit dijinakkan. 

Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dengan tujuan keindahan, bahan pangan dan sebagai hewan percobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup di hampir seluruh dunia.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Ternak Kelinci
Ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. 

Berbagai keuntungan ekonomi ternak kelinci pada usaha skala kecil dan menengah antara lain: 

(1) Kebutuhan modal tetap dan modal kerja yang relatif kecil; 

(2) Pakan tidak tergantung pada bahan baku impor dan mampu mengkonsumsi hijauan dan produk limbah secara efisien dan tidak bersaing dengan pangan; 

(3) mudah beradaptasi terhadap lingkungan dan mudah dibudidayakan; 

(4) tidak membutuhkan lahan luas; 

(5) dapat memanfaatkan limbah pertanian dan limbah industri pangan; 

(6) menghasilkan daging secara efisien; 

(7) menghasilkan beragam produk seperti daging, kulit, kulit-bulu, pupuk organik, kelinci hias;

(8) kualitas daging dan protein tinggi serta rendah kolesterol. 

Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil berorientasi pasar.

Melihat potensi secara komoditi dan kecenderungan masyarakat dalam usaha ternak kelinci, maka diperlukan manajemen usaha yang baik agar dapat meningkatkan penghasilan yang maksimal.

Dalam peternakan kelinci, kelangsungan hidupnya akan sangat tergantung perhatian dan tatalaksana pemeliharaan dari peternaknya.  Jenis, jumlah, dan mutu pakan yang diberikan sangat menentukan pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan produksi.

Tujuan Penulisan

adapun tujuna dari penulisan makalah ini adalah sebagai bahan informasi terkait dengan manajemen pemeliharaan kelinci yang baik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Kelinci termasuk: Phylum Chordata; Subphylum Craniata; Ordo Lagomorpha; Class Mammalia; Familia Leporidae; Genus Oryctolagus dan Spesies: Oryctolagus cuniculus (Thakur dan Puranik, 1981). 

Dalam penelitian Inventarisasi dan karakterisasi bangsa-bangsa kelinci yang dilakukan di beberapa daerah di Jawa (RAHARJO et al., 2005) melaporkan bahwa kelinci yang ada di Indonesia, kecuali jenis Sylvilagus yang berasal dari Sumatera, adalah kelinci-kelinci import dari berbagai negara di Eropa dan Amerika. 

Sentra produksi kelinci saat ini terpusat di daerah wisata dan dataran tinggi seperti Lembang dan Ciwidey di Jawa Barat, Dieng, Magelang dan Tawangmangu di  Jawa Tengah, Sarangan, Batu dan Malang di Jawa Timur, Tabanan dan Bedugul di wilayah Bali.

Kelinci pada awalnya adalah hewan liar yang sulit dijinakkan. Tetapi sejak dua puluh abad yang silam hewan ini sudah mulai dijinakkan. Pada umumnya tujuan pemeliharaan kelinci adalah untuk ternak hias, penghasil daging, kulit dan untuk hewan percobaan. 

Manfaat lain yang bisa diambil dari kelinci adalah hasil ikutannya yang dapat dijadikan pupuk, kerajinan dan pakan ternak. Produk ikutan yang dimaksud adalah produk selain produk utama. 

Daging dan kulit/bulu merupakan produk utama ternak kelinci, tetapi dapat juga dikatakan bahwa salah satunya (daging atau kulit) adalah produk ikutan. Hal ini tergantung pada sistem dan tujuan pemeliharaan/budidaya serta jenis kelinci tersebut. 

Sebagai contoh, kelinci jenis Rex atau Angora yang diternakkan untuk memproduksi bulu, maka daging adalah produk ikutan. Beberapa produk ikutan lainnya yang diperoleh secara bersamaan adalah kepala, darah, kaki, tulang dan ekor. Sementara itu, kotoran dan urin ternak kelinci disebut produk sampingan (Kartadisastra, 2001).

Beberapa jenis kelinci yang menonjol ditemui di Indonesia saat ini antara lain: kelinci Angora yang merupakan kelinci penghasil wool, warna putih, dengan bobot dewasa 2,7 kg, berasal dari Perancis (Sarwono, 2003). 

Kelinci Lop, bertubuh padat, bobot dewasa 4-5 kg, warna kombinasi kuning, coklat, hitam dan putih dengan telinga lebar, panjang dan tebal, bobot badan anak 1,8 kg pada umur 9 minggu; kelinci New Zealand White dari New Zealand merupakan kelinci albino, pada umur 8 minggu bobot badan anak 1,8 kg, bobot dewasa 4,5 sampai 5 kg; kelinci Rex merupakan hewan hobi, kontes dan pameran serta penghasil kulit rambut (fur), daging (Food) dan fancy (Cheeke et al., 1987). 

Selama ini peternakan kelinci di Indonesia masih diusahakan sebagai peternakan keluarga yang bersifat sambilan. Kegiatan budidaya dan manajemennya masih sangat sederhana. 

Sebagai alternatif, usaha peternakan kelinci sebenarnya dapat dikembangkan dalam bentuk perusahaan peternakan, sehingga produksi kelinci dapat ditingkatkan sesuai dengan target, mutu dan permintaan pasar yang berkembang (Sarwono, 2003).  
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Budidaya Kelinci
Kelinci mempunyai potensi biologis yang tinggi, yaitu kemampuan reproduksi yang tinggi, cepat berkembang biak, interval kelahiran yang pendek, prolifikasi yang sangat tinggi, mudah pemeliharan dan tidak membutuhkan lahan yang luas.  

Keuntungan lainnya yaitu pertumbuhan yang cepat, sehingga cocok untuk diternakkan sebagai penghasil daging komersial. Kelinci penghasil daging memiliki bobot badan yang besar dan tumbuh dengan cepat, seperti Flemish Giant, Chinchilla, New Zealand White, English Spot dan lainnnya (Rarahjo, 2004).

Tingkat produktivitas ternak kelinci dalam menghasilkan daging lebih tinggi dibandingka dengan ternak sapi, sebagaimana pernyataan Ensminger et al. (1990). 

Menurut Raharjo (1994), beberapa aspek yang menarik dari potensi produksi kelinci antara lain: kelinci merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi, kelinci cepat berkembang biak (8-10 ekor/kelahiran) karena dapat dikawinkan setiap waktu bila telah mencapai dewasa kelamin (umur 4-8 bulan), memiliki masa kebuntingan yang pendek (30 hari), kulitnya dapat dibuat jas, mantel, peci, mainan anak-anak, kerajinan dan kotorannya digunakan sebagai pupuk kandang serta mudah dipelihara. 

Kelinci dimanfaatkan sebagai hewan percobaan, hewan kesayangan dan sebagai alat peraga, produk dari kelinci juga disukai masyarakat, karena dagingnya lembut dan rasanya enak.

Potensi kelinci tidak hanya sebagai penghasil daging yang sehat, juga sebagai penghasil kulit bulu (fur) dan wool. Menurut Schlolaut (1981), bahwa kelinci Angora dengan bobot badan 4 kg, akan menghasilkan 800 gram wool per tahun atau 225 g/kg bobot hidup, yaitu tiga kali lipat dari pada domba dengan bobot hidup 65 kg, dengan rataan produksi wool 4,5 kg atau 65 g wool per kilogram bobot hidup, sedangkan Rex dan Satin merupakan kelinci penghasil fur. 

Fur dari kelinci Rex mempunyai karakteristik yang halus, tebal dan panjangnya seragam, tidak mudah rontok dan penampilan yang menarik seperti beludru, sedangkan Satin berbulu panjang, lebat dan mengkilap, sehingga dapat dijadikan bahan garmen dengan nilai ekonomis yang tinggi. 

Selain itu kotoran kelinci merupakan sumber pupuk kandang yang baik, karena mengandung unsur hara N, P dan K yang cukup tinggi, dan karena kandungan proteinnya yang tinggi (18% dari berat kering), sehingga kotoran kelinci masih dapat diolah menjadi pakan ternak.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging adalah memberdayakan ternak-ternak yang pernah ada tetapi kemudian terlupakan seperti kelinci. 

Sifat keunggulan ternak kelinci antara lain mampu tumbuh dan berkembang biak dengan cepat, mempunyai konversi pakan secara efisien dan tidak memmerlukan lahan yang luas (Sitorus et al, 1982).
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Anak Kelinci Umur 1 Hari

BAB III

PEMBAHASAN



Bibit Dan Jenis Ternak Kelinci

Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Lion, Australian, Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara.

Pemilihan bibit dan calon induk untuk tujuan daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. 

Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak.

Untuk mendapat keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu:
(1) In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.
(2) Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul.
(3) Pure Line Breeding (silang antara bibit murni), untuk mendapat bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit.


Perkandangan

Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk induk/kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya, kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih. 

Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200×70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. 

Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50×30x45 cm. Perlengkapan kandang yang diperlukan adalah tempat pakan dan minum yang tahan pecah dan mudah dibersihkan.
https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Kandang Kelinci

Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:

(1) Kandang Sistem Postal; merupakan kandang tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda.
(2) Kandang Sistem Ranch; merupakan kandang yang dilengkapi dengan halaman pengumbaran
(3) Kandang Battery; merupakan kandang yang berbentuk sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid).


Sistem Pemeliharaan Ternak Kelinci:
(1) Penerapan inovasi dan teknologi dalam aspek budidaya diarahkan pada pengembangan Potensi genetik keragamannya tinggi dalam pembentukan bibit unggul baru/hybrid, lebih dari 20 jenis hasil persilangan. 

Dari potensi reproduksinya ternak kelinci mampu melahirkan 10-11 x per tahun, memperoleh 2-11 anak per kelahiran (± 6 ekor), bunting dan menyusui pada saat bersamaan. Pertumbuhan kelinci sangat cepat 10-25 g/ekor/hari. 

Ternak kelinci mampu memanfaatkan hijauan dan limbah pertanian/limbah pangan dan pakannya tidak bersaing untuk pangan dan mampu memanfaatkan protein hijauan secara efisien (cecotrophy). 

Dalam manajemen pemeliharaan, relatif mudah dalam pengelolaan dan sesuai untuk skala kecil, menengah dan besar.
(2) Usaha ternak kelinci dewasa ini masih bersifat usaha sambilan dengan pekerjaan utama pada umumnya adalah petani. 

Rata-rata jumlah ternak pada awalnya sebanyak 4 ekor (3 betina dan 1 pejantan) yang awalnya berasal dari peternak lainnya dengan jenis yang diternakan adalah silangan lokal dan  impor (Anggora, Lion dan  Australia).
(3) Masing-masing kelinci dipelihara dalam kandang individu berukuran 70 x 60 cm, dan  pada kandang kelinci  Betina dilengkapi dengan sarang (tempat beranak) yang menempel pada salah satu sisi kandang.
(4) Pakan diberikan dalam bentuk pakan tambahan dan hijauan segar. Pakan tambahan berupa jagung pipilan sebanyak 200 g/ekor induk/minggu dan pemberian pakan pellet ayam BR-1 pada anak kelinci selama masa disapih sampai siap dijual. 

Hijauan yang diberikan didominasi oleh kangkung dan rumput putri malu dicampur dengan rumput liar lainnya dalam jumlah yang kecil. Pemberian hijauan dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari, hijauan diberikan dalam bentuk setengah segar
(5) Perkawinan dilakukan dengan cara membawa induk kelinci yang baru melahirkan ke kandang pejantang dan induk dikawinkan pada 5 ekor pejantan dengan cara digilir dengan waktu masing-masing sekitar 10 menit dan bagi induk yang telah bunting sekaligus menyusui dilakukan perontokan bulu dengan cara pencabutan, sekitar 5 hari menjelang melahirkan, anak disapih, dengan memisahkan dari kandang induk dan 5 hari kemudian anak siap untuk dijual.


https://www.berbagiilmupeternakan.com/
Usaha Ternak Kleinci

Siklus Produksi dan Kelayakan Usaha

Ada perbedaan biaya produksi antara peternak skala menengah dengan skala kecil, pada peternak skala menengah biaya produksi Rp 14.704,-/ekor lebih rendah dibandingkan skala kecil Rp 25.996,-/ekor, perbedaan ini terjadi akibat siklus produksi, sistem pemberian pakan dan skala kepemilikan yang berbeda, pada skala kepemilikan lebih tinggi biaya produksi lebih kecil karena efisiensi penggunaan tenaga kerja

Tingkat keuntungan yang diperoleh peternak skala menengah sebesar Rp 7.628.950,-/bulan dengan R/C ratio = 2,040 lebih besar dibandingkan tingkat keuntungan yang diperoleh peternak skala kecil sebesar Rp 182.192,-/bulan dengan R/C ratio 1,15. 

Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan peternak skala menengah lebih tinggi Rp 7.446.758,- /bulan dibandingkan peternak skala kecil. R/C ratio peternak skala menengah sebesar 2,040 menunjukkan bahwa setiap penggunaan biaya sebesar Rp 1.000,- akan memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp 1.040,-. 

Sedangkan peternak skala kecil dalam penggunaan biaya sebesar Rp 1.000,- hanya  memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.150,- atau memperoleh keuntungan sebesar Rp 150,-, sehingga peternak skala menengah berdasarkan pola pemeliharaannya memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar dibandingkan pola pemeliharaan peternak skala kecil.

BAB IV

PENUTUP


Kesimpulan

1. Ternak kelinci memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dalam rangka mencapai swasembada daging tahun 2015. Potensi tersebut terkait dengan keunggulan yang dimiliki kelinci, yaitu : (1) Beternak kelinci tidak memerlukan modal dan biaya pemeliiharaan yang tinggi, bahkan dapat diusahakan dalam skala rumah tangga; (2) Kelinci mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi; dan (3) Daging kelinci memiliki rasa dan gizi yang lebih unggul dibandingkan ternak lain.

2. Hambatan yang dihadapi dalam pengembangan ternak kelinci antara lain; kelinci lebih populer sebagai hewan peliharaan dibandingkan sebagai hewan ternak sehingga sebagian besar masyarakat enggan untuk mengkonsumsi daging kelinci.

3. Masih rendahnya keterampilan petani/peternak dalam membudidayakan kelinci sehingga motivasi untuk berusahatani kelinci di sebagian besar petani/peternak relatif kecil. 

4. Sulitnya mendapatkan bibit kelinci pedaging yang berkualitas sehingga penggunaan bibit yang kurang unggul mengakibatkan rendahnya produktivitas daging kelinci serta  kurangnya perhatian. Pemerintah dalam pengembangan ternak kelinci karena lebih memfokuskan perhatian terhadap ternak lain untuk mencapai swasembada daging.


Saran


1. Perlu dilakukan sosialisasi yang intensif oleh Pemerintah kepada masyarakat, terutama melalui media televisi, tentang keunggulan dan manfaat mengkonsumsi daging kelinci, sehingga dapat menumbuhkan minat masyarakat untuk mengkonsumsi daging kelinci, yang pada akhirnya dapat meningkatkan gairah petani/peternak untuk membudidayakan kelinci.
2. Perlu dilakukan pelatihan, kursus tani, bimbingan teknis, dan metode penyuluhan lainnya bagi petani/peternak untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membudidayakan kelinci, sehingga memungkinkan diperolehnya produktivitas ternak kelinci yang lebih tinggi.
3. Untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap daging kelinci serta dalam upaya diversifikasi pangan hewani, maka pengembangan produk olahan daging kelinci perlu ditingkatkan. Oleh sebab itu, perlu ditumbuhkan sentra-sentra industri kecil, menengah, ataupun besar yang memproduksi olahan daging kelinci, seperti dalam bentuk nugget.
4 Pengembangan usaha ternak kelinci harus dilakukan secara simultan dari hulu sampai hilir oleh karena itu diperlukan bantuan pemerintah berupa kredit lunak yang tidak memberatkan peternak.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MANAJEMEN USAHA TERNAK KELINCI"

Post a Comment

- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai isi konten.
- Dilarang menyisipkan iklan, link aktif, promosi, spam, dan sebagainya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel